shohih muslimBab: Musafir boleh meng-qoshor sholat (meskipun) dalam keadaan aman

(433) Ya’la bin Umayyah mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Umar bin khottob (mengenai firman Alloh, yang artinya:) “Kalian tidak berdosa untuk men-qoshor sholat, jika kalian takut diserang oleh musuh yang kafir‘ (an-Nisa’:101), bukankah orang-orang sekarang dalam keadaan aman?!” Maka Umar pun mengatakan: “Aku juga merasa heran dengan apa yang kau herankan itu”. Kemudian aku menanyakannya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan beliau menjawab: “itu adalah salah satu kemurahan yang diberikan Alloh kepada kalian, maka terimalah pemberian-Nya!”.

(434)  Ibnu Abbas mengatakan: “Allah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian -shollallohu alaihi wasallam-, empat rokaat ketika hadhor (tidak safar), dua rokaat ketika safar, dan satu rokaat ketika khouf (takut musuh, misalnya ketika perang).

Bab: Sholat Yang diqoshor Ketika Safar

(435) Anas bin Malik mengatakan: Aku pernah sholat Dhuhur di Madinah bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sebanyak empat rokaat, kemudian aku sholat Ashar bersama beliau di Dzul Hulaifah sebanyak dua rokaat.

Bab: Meng-qoshor Sholat Pada Waktu Haji

(346) Anas bin Malik mengatakan: “Kami pernah berangkat bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dari Madinah menuju Mekah, (dalam riwayat lain, redaksinya: menuju haji). dan beliau shalatnya dua rekaat dua rekaat hingga pulang.” Aku (Yahya bin Abi Ishak, si perowi) bertanya: “Berapa lama beliau tinggal di Mekah?”. Dia (Anas) menjawab: “Sepuluh hari”.

Bab: Meng-Qoshor Sholat Ketika Berada Di Mina

(437) Ibnu Umar mengatakan: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu sholat di Mina sebagaimana sholatnya musafir. Begitu pula (sholatnya) Abu Bakar, Umar, dan Utsman (ketika di Mina), selama delapan tahun atau enam tahun”.

Hafsh (bin Ashim, si perowi) mengatakan: Ibnu Umar, dulu sholatnya di Mina sebanyak dua rokaat, kemudian langsung pergi ke tempat tidur. Aku pun menegurnya: “Wahai paman, bukankah sebaiknya anda sholat dua rokaat setelahnya?!”. Ia menjawab: “Jika aku melakukan hal itu, berarti aku melengkapkan sholat (menjadi empat rokaat, padahal sunahnya adalah meng-qoshor sholat menjadi dua rokaat)”.

Bab: Menjamak (mengumpulkan) dua sholat (dalam satu waktu) Ketika Safar

(438) Dari Anas: “Bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, jika bergegas dalam perjalanan, beliau mengakhirkan sholat dhuhur-nya sampai awal waktu sholat ashar, dengan mengumpulkan keduanya (dalam satu waktu), dan beliau (juga) mengakhirkan sholat maghrib-nya, lalu menjamaknya dengan sholat Isya’ ketika awan merah menghilang (yakni waktu sholat isya’)”.

Bab: Menjamak Dua Sholat Ketika Sedang Mukim (tidak safar)

(439) Ibnu Abbas mengatakan: “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah menjamak Sholat Dhuhur dengan Sholat Ashar, dan (juga menjamak) Sholat Maghrib dengan Sholat Isya’, bukan karena udzur khouf (takut musuh, misalnya ketika perang), bukan pula karena udzur hujan”.

Di dalam riwayatnya Waki’ (ada tambahan redaksi): Aku (Sa’id bin Jubair) mengatakan: “Mengapa beliau melakukan hal itu?”. Ibnu Abbas menjawab: “Beliau ingin agar dirinya tidak menyulitkan umatnya”.

Bab: Sholat Di Rumah Ketika Hujan Turun

(440) Dari Ibnu Umar: Bahwa pada suatu malam yang dingin, ber-angin dan hujan, ia pernah mengumandangkan adzan. Lalu setelah selesai adzan ia mengatakan: “Perhatian, sholatlah kalian di rumah masing-masing! Perhatian, sholatlah kalian di rumah masing-masing!”.

Ia mengatakan: “Sesungguhnya dahulu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- jika cuaca malam dingin atau sedang turun hujan ketika safar,  beliau menyuruh muadz-dzin untuk mengatakan: ‘Perhatian, sholatlah kalian di tempat masing-masing’”.

Bab: Meninggalkan Sholat Sunat (Qobliyah dan Ba’diyah) Ketika Safar

(441) Hafash bin Ashim mengatakan: “Aku pernah menemani Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju mekah, saat itu ia sholat dhuhur dua rokaat sebagai imam kami, lalu ia beranjak pergi, dan kami pun mengikutinya, lalu sampailah kami di tempat peristirahatannya, ia duduk di sana, dan kami juga ikut duduk bersamanya.

Ia kemudian menoleh sepintas ke arah tempat di mana ia tadi melakukan sholat, karena ia melihat orang-orang berdiri, ia pun bertanya: “Apa yang mereka lakukan?”. Aku menjawab: “Mereka sedang sholat sunat (ba’diyah)”. Ia menimpali: “Seandainya aku memilih untuk sholat sunat (rowatib), maka lebih baik aku lengkapkan sholatku (menjadi empat rokaat)!. Wahai anak saudaraku!  Sungguh aku pernah menemani Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dalam safarnya, dan beliau sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai beliau wafat. Aku juga pernah menemani Abu Bakar (dalam safarnya), dan sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai ia wafat. Aku juga pernah menemani Umar (dalam safarnya), dan sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai ia wafat. Kemudian aku juga pernah menemani Utsman (dalam safarnya), dan sholatnya juga tidak pernah lebih dari dua rokaat, sampai ia wafat. Padahal Alloh telah berfirman (yang artinya): “Sungguh telah ada pada diri Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagi kalian” (al-Ahzab:21).

Bab: Sholat Sunat di Atas Kendaraan Ketika Sedang Safar

Abdulloh bin Umar mengatakan: “(Saat sedang safar) Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- biasa sholat sunat di atas kendaraannya, kemana saja kendaraannya menghadap. Beliau juga (biasa) sholat witir di atas kendaraanya. Namun beliau tidak pernah melakukan sholat wajib (lima waktu) di atas kendaraannya”.

Bab: Sholat Sunat Dua Rokaat di Masjid, Ketika Datang Dari Safar

(443) Jabir bin Abdulloh mengatakan: “Aku pernah berangkat perang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, karena untaku jalannya berat dan lambat, akhirnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sampai (di madinah) sebelum aku. Dan pagi harinya aku baru datang. Lalu aku mampir ke masjid dan kudapati beliau di pintu masjid, beliau menyapaku: “Kamu baru datang sekarang?”. Aku jawab: “Ya”. Beliau lalu mengatakan: “Tinggalkan dulu untamu, masuk (masjid) dan sholatlah dua rokaat!”. Jabir mengatakan: “Lalu aku masuk (masjid), sholat dan kembali (ke rumah)”.

Bab: Hadits-hadits Tentang Cara Sholat Khouf [1]

(444) Jabir bin Abdulloh mengatakan: “Kami pernah perang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- melawan musuh dari Kabilah Juhainah, saat itu mereka melakukan perlawanan dengan sangat dahsyat. Ketika kami selesai sholat dhuhur, kaum musyrikin itu mengatakan: “Seandainya kita serbu mereka (ketika sedang shalat), kita pasti akan kalahkan mereka”. Maka Malaikat Jibril memberitahukan hal itu kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, lalu beliau menuturkannya kepada kami. Kata beliau, Kaum musyrikin itu mengatakan: “Sungguh akan datang waktunya sholat, yang mereka lebih mencintainya dari pada anak-anak mereka!”.

Setelah waktu sholat ashar tiba, maka kami membuat dua shof (untuk sholat), sedang posisi kaum musyrikin berada di depan kami, (yakni) di arah kiblat. Lalu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mulai takbirotul ihrom, dan kami pun (serentak) mengikutinya, beliau ruku’ dan kami juga (serentak) mengikutinya, lalu beliau sujud dan ikut sujud bersamanya orang yang berada di shof pertama. Ketika beliau berdiri, maka orang yang berada di shof kedua baru mulai sujud.

Lalu mereka yang berada di shof pertama mundur (ke shof kedua) dan mereka yang berada di shof kedua maju ke shof pertama. Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bertakbir untuk ruku’ dan kami pun mengikutinya. Beliau lalu sujud bersama shof pertama, sedang shof kedua tetap berdiri. Setelah itu shof kedua sujud, lalu mereka semua duduk (untuk tasyahud akhir). Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- salam bersama mereka.

Abuz Zubair mengatakan: Kemudian Jabir menambahkan: “…sebagaimana sholat (khouf) yang dipraktekkan oleh para pemimpin kalian”.

Bab: Sholat Kusuf (Gerhana Matahari dan Bulan)

(445) Aisyah mengatakan: Pada zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah terjadi gerhana matahari, maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (bergegas) melakukan sholat (gerhana).

(Dalam sholat itu), beliau berdiri lama sekali. Lalu beliau ruku’ dengan sangat panjang (juga). Lalu beliau mengangkat kepala dan berdiri kembali dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Beliau kemudian ruku’ lagi, dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ pertama. Lalu beliau sujud.

Beliau berdiri lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ yang pertama. Lalu beliau mengangkat kepala dan berdiri lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau ruku’ lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ yang pertama. Beliau kemudian sujud.

Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menyelesaikan sholatnya, dalam keadaan matahari telah bersinar terang. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan para jamaah, beliau (memulai khutbah itu dengan) menghaturkan pujian dan sanjungan kepada Alloh, diteruskan dengan sabdanya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Alloh, dan keduanya tidaklah mengalami gerhana, karena adanya kematian atau kelahiran seseorang. Oleh karena itu, apabila kalian melihatnya (lagi), maka lakukanlah takbir, doa, sholat (gerhana) dan sedekah!

Wahai Umat Muhammad, sungguh tidak ada yang lebih cemburu melebihi Alloh, kepada hambanya yang berzina, baik pria maupun wanita! Wahai Umat Muhammad, sungguh demi Alloh, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentunya kalian akan banyak tangisnya dan sedikit tawanya. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan?!”.

Dalam riwayat Abu muawiyah ada tambahan redaksi: “Amma ba’du” sebelum sabda beliau: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kebesara Alloh”. Di dalam riwayatnya juga ada tambahan redaksi: “Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya” sebelum sabda beliau “Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan?!”

(446) Ibnu Abbas mengatakan: “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah sholat ketika terjadi gerhana matahari, dengan delapan ruku’, dan empat kali sujud”.[2]

Bab: Sholat Istisqo’ (minta turun hujan)

(447) Dari Abdulloh bin Zaid al-Anshori: “Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah keluar ke musholla (tempat lapang) untuk melaksanakan sholat istisqo’. Dan ketika hendak berdoa, beliau menghadap kiblat dan membalikkan rida’nya, kemudian sholat dua rokaat.

(448) Anas mengatakan: “Kami pernah diguyur hujan ketika sedang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pun membuka (sebagian) pakaiannya, agar (sebagian) badannya terkena hujan. Kami lalu menanyakan: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau lakukan hal itu?”. Beliau menjawab: “Karena air hujan tersebut baru saja diturunkan oleh Tuhannya”.

Bab: Mohon Perlindungan Ketika Melihat Angin (Kencang) Dan Mendung. Merasa Senang Karena Turun Hujan

(449) Aisyah -istri Rosululloh shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Dahulu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, jika ada angin bertiup kencang, beliau mengucapkan doa: ” (اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ)  (Artinya: Ya Alloh, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan sesuatu yang dibawanya, dan kebaikan tujuan dihembuskannya. (Sebaliknya) aku berlindung kepadamu dari kejelekan angin ini, kejelekan sesuatu yang dibawanya dan kejelekan tujuan dihembuskannya).

Aisyah mengatakan (lagi): “Dan apabila langit diselimuti mendung gelap dengan kilat dan petir, wajah beliau berubah (cemas), sehingga beliau (mondar-mandir) keluar masuk rumah, ke depan, dan ke belakang. Tetapi apabila sudah turun hujan, beliau merasa senang, dan aku mengetahui hal itu dari raut wajahnya”.

Aisyah mengatakan (lagi): “Maka aku pun menanyakan hal itu kepadanya”. Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, aku khawatir jika keadaannya seperti apa yang dikatakan kaum ‘Aad (dalam firman-Nya, al-Ahqof:24): “Maka ketika melihat awan (azab) yang menuju ke lembah-lembah, mereka mengatakan: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita’.”

Bab: Tentang Angin Barat dan Angin Timur

(450) Dari Ibnu Abbas r.a.: Bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Aku mendapat kemenangan dengan angin timur, sedangkan Kaum ‘Aad, mereka dibinasakan dengan angin barat”.


[1] Sholat khouf adalah sholat yang dilakukan ketika ada udzur rasa takut yang sangat, misalnya ketika perang menghadapi musuh, takut banjir, takut kebakaran, takut kejaran hewan buas, takut perampok, dll. (lihat: Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah 27/215-216)

[2] Syikh Albani mengatakan: “Ringkasnya, cara sholat khouf yang benar dan datang dari sanad yang shohih dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah dengan dua ruku’ pada setiap rokaatnya. Keterangan ini datang dari sekelompok besar sahabat, dalam banyak kitab, sanad, dan riwayat yang paling shohih. Sedangkan cara selain itu, maka kemungkinan riwayatnya itu lemah atau syadz (ganjil), yang tidak dapat dijadikan sebagai sandaran hukum”. (al-Irwa’ 3/132)

Alih bahasa oleh Addariny, selesai di Madinah, 3 Juli 2009

About these ads
Komentar
  1. tommi mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Mas saya ada pertanyaan. Saya ini sering bepergian dengan kereta ke surabaya, dan saya sering sholat maghrib dan isya (dijamak) di atas kereta ketika sedang berjalan. Yg saya ingin tanyakan, apakah sholat fardhu diatas kendaraan adalah sesuai tuntunan Rasulullah? Padahal pada artikel diatas disebutkan :
    “…..Beliau juga (biasa) sholat witir di atas kendaraanya. Namun beliau tidak pernah melakukan sholat wajib (lima waktu) di atas kendaraannya”.

    Lalu bolehkah menjamak sekaligus meng-qoshor sholat?

    Terimakasih atas jawabannya mas…

    Wassalamu’alaikum

    • addariny mengatakan:

      Bolehkah menjamak sekaligus meng-qoshor sholat?

      Menjamak sekaligus mengqosor dibolehkan dan sesuai sunnah (tuntunan) Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-.
      (1) Ibnu Abbas mengatakan: “Allah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian -shollallohu alaihi wasallam-, empat rokaat ketika hadhor (tidak safar), dua rokaat ketika safar” (HR. Muslim).

      (2) Dari Anas: “Bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, jika bergegas dalam perjalanan, beliau mengakhirkan sholat dhuhur-nya sampai awal waktu sholat ashar, dengan mengumpulkan keduanya (dalam satu waktu), dan beliau (juga) mengakhirkan sholat maghrib-nya, lalu menjamaknya dengan sholat Isya’ ketika awan merah menghilang (yakni waktu sholat isya’)”. (HR. Muslim)

      Hadit pertama menunjukkan dianjurkannya meng-qoshor sholat ketika safar. Sedang Hadits kedua menunjukkan dibolehkannya menjamak sholat ketika safar.

    • addariny mengatakan:

      Apakah sholat fardhu diatas kendaraan sesuai tuntunan Rasulullah shollallohu alaihi wasallam?

      Memang sholat fardhu diatas kendaraan sebaiknya sebisa mungkin dihindari, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut.
      Sholat di atas kendaraan bisa dihindari dengan mengatur waktu safar. Misalnya dengan menjamak taqdim ketika mulai safar, kemudian menjamak ta’khir ketika sampai di tempat tujuan, yakni dengan perhitungan belum keluar waktu sholat. Atau cara-cara lainnya.

      Akan tetapi bila keadaannya mendesak, atau bahkan darurat, maka kita diwajibkan untuk tetap shalat pada waktunya, sebagaimana difatwakan oleh banyak ulama.

      Sholat di atas kendaraan itu jika bisa dilakukan dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat maka wajib baginya untuk berdiri dan menghadap kiblat.
      Apabila tidak mampu berdiri, maka wajib menghadap kiblat walaupun di awal sholatnya saja.
      Apabila tidak mampu, maka dengan isyarat (yakni dengan membungkukkan badan ketika sujudnya lebih rendah dari pada ketika ruku’nya) dan menghadap kiblat diawalnya.
      jika masih tidak mampu, maka sholat dengan isyarat, walaupun dengan tanpa menghadap kiblat.
      Yang jelas kita tetap wajib sholat pada waktunya bagaimanapun keadaanya. (Lihat kitab Syarhul Mumti’ karya Syeikh Muhammad alu Utsaimin 4/346)

      Bisa juga kita berdalil dengan hadits berikut:

      وعن يعلى بن مرة : “أنهم كانوا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسير فانتهوا إلى مضيق وحضرت الصلاة فمطروا ، السماء من فوقهم ، والبلة من أسفل منهم ، فأذن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على راحلته ، وأقام فتقدم على راحلته فصلى بهم يوميء إيماء ، يجعل السجود أخفض من الركوع”

      Dari Ya’la bin Murroh r.a.: “Suatu saat, para sahabat dalam perjalanan bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Mereka terhenti di tempat yang sempit saat tiba waktu sholat. Lalu hujan deras mengguyur mereka, langit di atas mereka, sedangkan tanah becek di bawah mereka. Lalu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengumandangkan adzan dan iqomah dalam keadaan beliau di atas kendaraannya. Kemudian beliau mengimamami sholat dengan menggunakan isyarat, beliau menjadikan sujudnya lebih rendah dari pada ruku’nya”.

      Al-Qodhi Abu Bakar ibnul Arobiy dalam kitabnya “al-Aridhoh” mengatakan: “Hadits ya’la ini, sanadnya dhoif (lemah) tapi maknanya benar… sholat di atas kendaraan itu sah, jika khawatir waktunya habis dan ia tak bisa turun dari kendaraannya” (lihat Tuhfatul Ahwadzi 2/381)

      Imam Nawawi dalam kitabnya “Khulashotul Ahkam fi Muhimmatis Sunan” (1/288-289) mengatakan: “Hadits (Ya’la) ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzy, dengan sanad yang jayyid (lumayan baik)” .

      Wallohu a’lamu bish showab
      Wassalamualaikum warohmatulloh…

    • Tommi mengatakan:

      Jazakumulloh khoir, terima kasih banyak atas pencerahannya mas… :)

  2. abu hamzah mengatakan:

    assalamua’laikum,
    Ustadz, sy muqim di jakarta, saat mudik ke Tegal (3-5 Hari), shalat yg sy lakukan bgmn (yg lebih utama) :
    1. shalat dg imam muqim berjamaah 5 waktu
    2. shalat dg imam muqim, kemudin jamak & qoshor utk dhuhur-ashar, maghrib-isya
    3. shalat dg istri di rumah dg jamak-qoshor

    syukron atas jawabannya……….

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…
      Sholat berjama’ah itu wajib hukumnya untuk pria meski sedang dalam safar, kecuali bila tidak mampu… itu pendapat yang ana anggap paling kuat, wallohu a’lam… itu juga pendapat yang dirajihkan syeikh Al-Utsaimin… berdasar perintah Alloh dalam Alqur’an (An-Nisa’:102), yang menyuruh Nabi untuk mendirikan jama’ah ketika sedang safar dalam peperangan…
      Oleh karena itu, bila antum bisa sholat berjamaah lima waktu dengan imam muqim, itu yang harus antum lakukan, meski harus itmam (tidak meng-qoshor sholat)… Jadi antum harus lakukan pilihan yang pertama… wallohu a’lam..

  3. Irfa nugraha mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz yang kami hormati -hafidhokumulloh-
    Ana mau tanya berkaitan dgn sholat musafir. Ada seorang mahasiswa yg berasal sumatera yg sedang belajar di Yogyakarta, dan sdh tinggal di sana beberapa tahun. Ketika liburan panjang ia sering pulang ke sumatera untuk beberapa waktu lamanya, pertanyaanya apakah ketika ia di rumah bisa dihukumi sebagai yg boleh menjamak dan qosor, mengingat tempat menetapnya skarng di yogyakarta (meskipun hanya sementara)

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…
      Jika ia dirumah, ia tidak boleh safar, karena ia menjadi mukim… begitu pula ketika sampai di tempat kos, ia langsung menjadi mukim, karena ia berniat untuk tinggal lama di daerah itu… wallohu a’lam… ni kurang lebih yg ana pahami dari keterangan Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- di syarhul mumti’, jilid 4, hal: 378…

  4. ako mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Bolehkan menjamak dan qoshor untuk sholat isya ditarik ke ke magrib dalam safar, walaupun jika kita pulang dari safar masih dapat waktu sholat isya ?
    Jazakumulloh khoir

    • addariny mengatakan:

      InsyaAlloh boleh… tapi lebih afdlolnya tidak dijamak, jika diperkirakan sampai dirumah masih bisa melakukan isya’… wallohu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s