MASA IDDAH ISTRI… (ringkasan shohih muslim)

Posted: 16 Juli 2009 in Hadits
Tag:, , , , , ,

shohih muslimBab: Wanita Hamil, Jika Melahirkan Setelah Suaminya Wafat

(858) Dari Ubaidulloh bin Abdulloh bin Utbah bin Mas’ud, bahwa bapaknya menulis perintah kepada Umar bin Abdulloh bin Arqom Azzuhry, untuk menemui Subai’ah bintil Harits al-aslamiyyah, guna menanyakan peristiwa yang dialaminya dan apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ketika ia meminta fatwa kepada beliau.

Kemudian Umar bin Abdulloh menulis jawaban kepada Abdulloh bin Utbah, (isinya) sesungguhnya Subai’ah mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya ia adalah istrinya Sa’ad bin Khoulah, -seorang dari bani Amir bin Lu-aiy, dan salah satu pasukan perang badar-. Ia wafat pada waktu haji wada’, di saat istrinya sedang hamil. Tidak berapa lama setelah itu  istrinya melahirkan.

Ketika suci dari nifasnya ia menghias diri untuk mereka yang ingin melamarnya. Melihat kejadian itu Abu Sanabil bin Ba’kak –seorang dari bani dar- menemuinya, ia menanyakan: “Kenapa ku lihat kamu menghias diri? Apakah kamu ingin menikah? Demi Alloh kamu tidak boleh menikah sebelum selesai masa empat bulan lebih sepuluh hari!” Subai’ah mengatakan: “Mendengar ucapan itu, segera aku kumpulkan baju-bajuku pada sore harinya, kemudian aku menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan hal itu, maka beliau mem-fatwa-kan bahwa aku telah halal (boleh menikah) ketika aku melahirkan, dan menyuruhku untuk menikah jika aku menghendakinya”.

Ibnu Syihab mengatakan: “Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa boleh baginya menikah, langsung setelah melahirkan, walaupun masih dalam masa nifas, asalkan suaminya tidak menggaulinya sampai ia suci dari nifasnya”.

Bab: Istri yang dicerai, boleh keluar untuk mengunduh buah kurma

(859) Jabir bin Abdulloh mengatakan: Saudari ibuku dicerai suaminya, lalu dia ingin mengunduh buah kurma, tapi dilarang seseorang untuk keluar rumah. Akhirnya ia menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, beliau mengatakan: “Ya (tidak apa-apa), unduh saja kurma milikmu, mungkin dengannya kamu bisa bersedekah atau berbuat kebajikan (yang lainnya)”.

Bab: Istri yang dicerai boleh keluar dari rumah suaminya (sebelum habis iddahnya), jika takut terjadi apa-apa pada dirinya.

(860) Fatimah binti Qois bertanya: “Wahai Rosululloh!  Suamiku telah mentalakku tiga kali, dan aku takut ia akan mendatangiku lagi”. Urwah bin Zubair mengatakan: Maka beliau menyuruhnya agar pindah rumah.

(861) Dari Abu Salamah bin Abdurrohman bin Auf: bahwa Fatimah binti Qois mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya dia diperistri oleh Abu Amr bin Hafsh bin Mughiroh, lalu suaminya mentalaknya sebanyak tiga kali. Kemudian ia mengaku telah menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan bolehnya ia keluar dari rumah suaminya, maka beliaupun memerintahkannya untuk pindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum yang buta. Tapi Marwan tidak mau percaya akan bolehnya istri yang dicerai, untuk keluar dari rumah suaminya (sebelum habis masa iddahnya), ia berdalih bahwa Aisyah mengingkari perbuatan Fatimah binti Qois itu.

Bab: Menikahkan wanita yang dicerai, setelah habis masa iddahnya

(862) Dari Fatimah binti Qois: Bahwa sesungguhnya suaminya telah mentalaknya tiga kali, dan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak memberikan kepadanya bagian rumah maupun nafkah. Fatimah mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadaku, “Beritahulah aku jika habis masa iddahmu!”, maka akupun memberitahu beliau. Kemudian Mu’awiyah, Abu Jahm dan Usamah bin Zaid melamarnya. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan padanya: “Adapun Mu’awiyah, ia adalah seorang fakir yang tidak memiliki harta. Sedangkan Abu Jahm, ia adalah orang yang ringan tangan. Beda dengan Usamah!” maka Fatimah pun mengisyaratkan dengan tangannya begini, “Usamah… Usamah!”. Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: “Taat kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang terbaik untukmu”, Fatimah mengatakan: “Akhirnya aku menikahinya, dan hidupku bahagia bersamanya”.

Bab: Tentang ihdad (menahan diri selama masa iddah dari berhias, memakai wangi-wangian dan celak) bagi istri yang suaminya mati

(863) Dari Humaid bin Nafi': Bahwa Zainab binti Salamah, mengabarkan kepadanya tiga hal berikut ini:

Zainab mengatakan: Aku pernah menemui Ummu Habibah, istri Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-ketika ayahnya -Abu Sofyan- meninggal, maka ia minta diambilkan parfum kuning campuran atau lainnya, dan ia mengusapkannya pada bocah perempuan, lalu sambil memegangi kedua pipinya ia mengatakan: “Demi Alloh, aku tidak butuh parfum lagi, karena aku pernah mendengar Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda di atas mimbar, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, untuk melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari”.

Zainab mengatakan: Kemudian aku menemui Zainab binti Jahsy ketika saudaranya meninggal, maka ia minta diambilkan parfum, lalu menyentuhnya seraya mengatakan: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, untuk melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari”.

Zainab mengatakan: Aku pernah mendengar ibuku Ummu Salamah mengatakan: “Pernah ada wanita mendatangi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ia bertanya: “Wahai Rosululloh! Sesungguhnya putriku ditinggal mati suaminya, dan dia sekarang mengeluhkan matanya, apa boleh kami memakaikan celak pada matanya?” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menjawab: “Tidak boleh” beliau mengulangi kata tersebut dua atau tiga kali. Lalu beliau mengatakan: “Ia baru boleh melakukannya setelah empat bulan sepuluh hari. Pada masa jahiliyyah dulu, wanita yang demikian harus melempar kotoran hewan (onta/kambing) setelah setahun menunggu”.

Humaid berkata, aku bertanya kepada Zainab: “Apa maksudnya melempar kotoran hewan setelah setahun menunggu?”

Zainab menjawab: “Dahulu seorang wanita yang ditinggal mati suaminya diharuskan masuk gubuk kecil, mengenakan pakaian terjeleknya, dan tidak boleh memakai parfum atau (perhiasan) apapun juga, hingga setahun lamanya. Kemudian didatangkan kepadanya hewan, bisa keledai atau kambing atau burung. Lalu ia mengusapkan hewan tersebut ke farjinya, dan biasanya hewan tersebut akan mati karenanya. Setelah itu ia keluar dan diberi  kotoran hewan untuk dia lemparkan, maka dengan begitu ia berarti boleh lagi memakai parfum atau (perhiasan) yang lainnya.

Bab: Meninggalkan parfum dan pakaian berwarna (selain putih) bagi wanita yang sedang ihdad

(864) Dari Ummu Athiyyah: Sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seorang wanita tidak boleh melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari. Janganlah ia memakai pakaian berwarna kecuali pakaian Ashob (sejenis pakaian dari negeri yaman, berwarna putih), dan janganlah ia memakai celak dan parfum, kecuali sedikit qusth atau Azhfar (keduanya nama jenis parfum) ketika suci dari haidnya (untuk ia oleskan di farjinya).

Perowi hadits ini Abdulloh bin Numair dan Yazid bin Harun meriwayatkan dari Hisyam, ia mengatakan: “…. kecuali sedikit qusth atau Azhfar (yang ia pakai) pada awal suci dari haidnya”.

About these ads
Komentar
  1. rini mengatakan:

    SALAM. kakak ipar saya kematian suami sudah lebih kurang 2 bulan lebih. tapi dia dia telah mengenakan celak dan make up. dan tidak berpantang.. apa hukumnya ustadz? terima kasih

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…
      Dalam syariat Islam yg mulia, ada ketentuan wajibnya masa iddah, yakni masa menunggu bg istri yang ditalak atau ditinggal mati suaminya… tujuan masa iddah adalah untuk memastikan tidak adanya janin dalam rahim si istri, sehingga dengan begitu, bisa terjaga kemurnian garis keturunannya dengan suami yg lama…
      Karena si istri dalam masa iddah tidak boleh menikah dengan pria lain, maka apapun yg mendorong hasrat nikah juga dilarang oleh Islam… Karena berhias dan mengenakan parfum, itu mendorong hasrat untuk menikah, maka itu dilarang oleh Agama kita… itulah mengapa Islam mewajibkan syariat “Ihdad” (berpantang dari berhias dan parfum)…
      Intinya menjalankan “Ihdad” adalah kewajiban seorang istri yang berpisah dengan suaminya, disamping merupakan hak bagi suami yang harus dijaga dan dihormati… jika meninggalkannya maka ia berdosa…
      Mbak Rini, coba nasehati kakak iparnya dengan baik dan halus, jangan sampai menyakiti hatinya… jika ia mendengarnya, maka alhamdulillah dan anda juga menuai pahala dari amalan anda memberikan nasehat dan dari amalan dia ber-ihdad… jika ia tidak mendengarnya, maka kwajiban anda dalam menasehati sudah gugur, dan anda tetap mendapatkan pahala amal anda dengan menasehatinya…
      sekian jawaban dari kami… semoga bisa dipahami… wassalam

  2. Denny Oktaviar mengatakan:

    assalamu’alaikum wr wb
    ibu saya yg berumur 58 th dan telah menopouse baru ditinggalkan suaminya ( ayah kami) 12 hr yg lalu…yg ingin sy tanyakan :
    1. bgmn hukum ihdah bagi ibu saya ?
    2. krn kami kel wiraswasta, bolehkah ibu saya sekali2 dtg menengok tokonya ?
    3. bolehkah keluar rumah utk pergi mengaji yg biasanya dikerjakan bersama almarhum sebanyak 2 kali seminggu tp skrg perginya diantar anak2 kandungnya
    4. setiap pagi ibu dan ayah sy selalu senam pagi bersama teman2nya, msh bolehkah ?
    5. adakah dalil2, hadist2 atau ayat Al-Qur’an yg membolehkan semua itu ?

    terimakasih sebelumnya atas jawabannya yg sangat kami butuhkan ini…

    Wassalamu’alaikum wr wb

    • addariny mengatakan:

      1. Iddah istri yang telah menopause adalah 3 bulan sebagaimana diterangkan dalam Alquran (at-Tholaq: 6).
      2 dan 3. InsyaAlloh boleh bagi dia menengok tokonya, berangkat ngaji, asalkan tidak berhias, memakai parfum, dan yang dapat menarik perhatian laki-laki lain.
      4. Untuk senam pagi, lebih hati-hatinya dilakukan dalam rumah saja, karena kebutuhan untuk itu kurang penting, dan bisa diundur waktunya, wallohu a’lam.

  3. ummu dzakwan mengatakan:

    Assalammualaikum, afwan, ana br ditinggal suami pd pertengahan januari 2010 kmrn,dn suami ana mnggl dijawa, rmh dn pkrjan suami ada diluar jawa,ana mau tanya, ada bbrp hal yg hrs dislskn dg cpt,spt surat2 unt prshn tmpt suami krj dl dn rmh,yg mnghrskn ana klr rmh,apakh blh ana klr rmh,mengingat km dibr wkt 1 bln unt mnylskn smua?dg cttn ana klr rmh jg tanpa brhias dn diats kendaraan ana tutup wjh ana.. sukron.wassalammualaikum

    • addariny mengatakan:

      waalaikum salam warohmatulloh… bila ada kebutuhan, insyaAlloh dibolehkan sebagaimana Rosul mengizinkan Sahabat Wanita untuk memetik kurma di ladangnya… kalau harus safar jauh, maka harus bersama mahrom, sebagaimana sabda beliau: “tidak boleh perempuan melakukan safar, kecuali dengan mahramnya” (HR. Bukhori)
      wallohu a’lam…
      waalaikum salam warohmatulloh…

  4. iis mengatakan:

    assalamualaikum wr.wb.
    saya iis, saat ini saya sedang dalam proses menuju sidang kedua perceraian.saya mengajukan gugatan cerai terhadap suami saya.saya sudah pisah rumah hampir 5bulan dengan suami saya. saya sudah tidak mendapatkan nafkah. apakah dalam situasi saya saat ini saya diperbolehkan untuk mencari pekerjaan?bagaimana dengan masa iddah saya nanti ketika perceraian saya dan suami saya sudah disetujui oleh hakim?apakah saya tidak boleh keluar rumah sama sekali??sedangkan saya belum mempunyai pekerjaan lagi..karena menurut petugas dari KUA saya tidak berhak atas nafkah iddah.terima kasih. wassalammualaikum.

    • addariny mengatakan:

      Afwan, dalam masalah anti, ana hanya bisa jawab wallohu a’lam, karena banyaknya hukum yang bersangkutan dengan itu… semoga anti bisa mendapatkan jwbn yang lebih memuaskan dari yang lain… asallohu ayyufarrija hammaki… waalaikum salam warohmatulloh…

  5. suhendra mengatakan:

    Assalamualaikum.wr wb. Pak ustadz.. Sy punya kawan mau menikah dgn seorang janda. Yg mana wanita tsb sebelumnya menikah dgn cara nikah siri. Seminggu setelah menikah suaminya masuk penjara. Otomatis wanita tsb tidak mendapat nafkah lahir dan batin dan ia tidak ridho… 1. Apakah telah jatuh talak thdp wanita tsb?(ketika menikah ada perrjanjian sighat talik) 2. Apakah wanita tsb harus minta izin dulu untk menikah lg? 3. Kalau minta izin dulu, kapan masa iddah tsb di hitung? Terima kasih. jazakallah

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…

      Afwan, ana tidak menerima pertanyaan yg berhubungan dg nikah dan talak… mohon dimaklumi, karena mempunyai konsekuensi yg besar… tanyakan kepada ulama atau hakim yg khusus menangani itu saja… jawaban mereka lebih bs dipertanggung-jawabkan…

      syukron…

  6. ansorrullah mengatakan:

    ass

    mau tanya adakah iddah buat laki-laki di tinjau dari ilmu fiqh

    tolong kirimkan data riteratur tentang iddah dari fiqh munakahat

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…

      Kita harus tahu, bahwa Iddah disyariatkan untuk mengetahui ada tidaknya janin dalam rahim… dan hal ini khusus untuk perempuan… tidak ada khilaf diantara para ulama islam dalam hal ini… antum bisa merujuknya ke semua kitab fikih dalam kitab nikah, bab iddah… wallohu a’lam…

  7. hidmatyar ismail mengatakan:

    assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
    ana ada beberapa pertanyaan mengenai hal ini mohon bantuannya

    1. teman ana ditinggal begitu saja oleh suaminya, kemudian setelah beberapa bulan terdengar kematian suaminya dari saudaranya.
    2.kematian suaminya iru baru tgl 7 mei 2010, apakah menghitungnya dengan bulan masehi atau hijriyah?
    3. Apakah diperbolehkan si wanita untuk berhaji dan ber i’tikaf untuk menghilangkan kesedihan yang di alami oleh si wanita?
    4.teman ana yang laiki-laki memiliki hubungan dengan teman wanita ana ini, si wanita sedih karena kejadian yang bertubi tubi dan mencurahkannya pada temn ana yang laki-laki, dan dalam keadaan teman laki-laki ana tidak emngetahui hal ini selama beberapa waktu sekitar 2 bulan sebelum mendengar kematian suami wanita tersebut, apa nasihat yang bisa kita berikan agar mereka bisa sesuai dengan ajaran ISLAM?
    5. ana pernah baca “Tidak boleh menerima khitbah (lamaran) dari laki-laki lain kecuali dalam bentuk sindiran.” bisa tolong di jelaskan?
    6. apakah teman laki-laki ana boleh berharap untuk melanjutkan hubungan dengan perempuan tersebut, dengan membatasi hubungan saat ini. dan memprosesnya sesuai denga ajaran ISLAM?
    ana memiliki FB sekiranya antum berkenan ana ingin menjadi teman untuk saling bisa bermanfa’at terutama untuk memahami islam, alamat emaiil ana
    hidmatyar@gmail.com, sekiranya antum berkenan maka ana mohon di confirm akrena ana sudah add.
    atas bantuannya ana ucapkan JAZAKALLAHU KHOIRON KATSIIRO

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh wabarokatuh…

      1. Talak tidak otomatis jatuh ketika istri ditinggal suami, akan tetapi harus ada talak dari suami atau keputusan hakim, wallohu a’lam…

      2. Menghitungnya dg bulan hijriyah, karena patokan syariat dalam hitungan bulan adalah dg bulan hijriyah.

      3. Wanita dibolehkan berhaji, tp harus dg mahrom… Jika ia haji tanpa mahrom ia menjadi berdosa, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melarang wanita untuk melakukan safar (perjalanan jauh) tanpa mahrom, meski hajinya tetap sah.

      I’tikaf dibolehkan untuk wanita, karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: Janganlah kalian larang hamba wanita Alloh untuk pergi ke masjid-masjid Alloh… meski sholat wanita yg paling afdhol adalah jika dilakukan di rumahnya sebagaimana disabdakan dalam hadits… Jika ia bersuami, maka ia harus mendapat izin suaminya utk i’tikaf… Jika i’tikaf itu harus dg safar (pergi jauh), maka ia harus bersama mahrom… wallohu a’lam

      4. Curhat harusnya dilakukan terhadap mahrom bukan kepada laki-laki lain yg bukan mahrom… karena hal itu akan menyeret kepada sesuatu yg diharamkan… Nasehatilah agar mereka bertakwa kepada Alloh, dan jika tetap ingin menjalin hubungan, maka jalinlah hubungan yg syar’i dan bertanggung jawab, misalnya dg menikah…

      5. Dari Aisyah -rodliallohu anha-, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Seorang yg perawan itu diminta izin dulu (sebelum dinikahi)”… Maka aku (yakni Aisyah) mengatakan: “Sesungguhnya yg perawan (biasanya) masih pemalu”… Beliau lalu mengatakan: “Izin (kesediaan) wanita adalah dg diamnya”… (Shohih Bukhori: 6971)

      Mungkin orang itu memahami hadits itu apa adanya, jika tidak diam (atau tidak dg sindiran) maka berarti menyelisihi hadits ini… Tapi yg jelas MAYORITAS ulama’ tidak memahami demikian… mereka mengatakan, jika dg diam saja berarti menunjukkan ia bersedia, apalagi jika dg mengatakan secara terus terang… wallohu a’lam…

      Mungkin juga yg dimaksud orang itu, adalah masalah pria yg melamar perempuan, Syeikh Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ (12/27) mengatakan: ((Haram bagi selain mantan suami untuk melamar -dg cara terus terang bukan dg cara sindiran” -perempuan yg ditalak dg talak ba’in dan perempuan yg masih dalam iddah karena ditinggal mati suaminya))

      6. Seharusnya teman antum itu langsung menemui orang tua perempuan itu, untuk membicarakan langkah pernikahan… Islam sangat membatasi hubungan antara pria dan wanita, makanya islam melarang pria melihat wajah wanita, islam melarang kholwat (menyepi dg wanita bukan mahrom), islam melarang ikhtilath (campur baur pria dan wanita yg bukan mahro) dll, karena itu semua akan mendatangkan mafsadah yg sangat besar…

      Oleh karena itu hendaklah teman pria antum langsung menghubungi walinya wanita itu, dan jika berbicara dg wanita itu hendaklah lewat wanita lain yg masih mahrom dg-nya seperti ibunya atau saudarinya atau ponakan perempuannya atau wanita lainnya yg masih menjadi mahromnya… wallohu a’lam.

      InsyaAlloh ana add secepatnya…

      Waiyyaaaak

  8. Heny mengatakan:

    Ass. Wr. Wb.
    Saya mau tanya. Apakah ada masa iddah bagi wanita yg baru melahirkan tetapi saya tdk ada masalah dgn suami (tdk bercerai/tdk ditinggal mati) ???
    Terima kasih
    wassalam

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh wabarokatuh… Ketika tidak dicerai/tidak ditinggal mati suami, tidak ada Masa iddah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s