Siapa yg SALAH kaprah ttg SUBUH?! (4)

Posted: 5 September 2009 in Fajar
Tag:, , , ,

islamup_com-ec050929ffSebelum masuk ke dalil berikutnya, penulis ingin menyampaikan permintaan maaf kepada Majalah Qiblati yang merasa terusik dengan artikel ini. Penulis minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Qiblati karena redaksi artikel pertama yang terkesan menyerang orang yang tidak setuju dengan kalender yang berlaku sekarang ini.

Sebenarnya yang penulis inginkan adalah penyeimbangan argumen yang ada, bukan memperkeruh suasana, (karena sebenarnya Qiblati-lah yang lebih awal memperkeruh suasana, jika bisa dikatakan demikian). Penulis hanya ingin mengembalikan pemahaman fajar shodiq kepada pemahaman Alqur’an dan Sunnah, sebagaimana dipahami oleh mayoritas ulama Islam sejak dulu kala, mulai dari Ahli Tafsir sekaliber Ibnu Jarir At-Thobari, Ulama sekaliber Ibnu Zaid, dan Ibnu Taimiyah, serta ulama ahli bahasa sekaliber Az-Zamakhsyari dan Ibnu Manzhur.

InsyaAlloh… Penulis dan qiblati sepakat ingin memperbaiki ibadah umat, jika memang terdapat kesalahan dalam kalender yang ada. Penulis juga sangat mendukung adanya observasi, untuk mencocokkan antara data di kalender yang ada dengan kenyataan lapangan, untuk kemudian jika ada kesalahan dibuat rumusan ulang untuk memperbaiki data yang ada.

Karena penulis yakin, Qiblati juga sepakat harus ada kalender rumusan baru dalam jadwal sholat kita, untuk dijadikan sebagai patokan umum, bukan terus mengarahkan setiap individu masyarakat untuk ru’yah fajar shodiq tiap hari. Karena di zaman sekarang ini, ru’yah tiap hari malah menjadi sangat memberatkan Umat Islam, berbeda dengan zaman dulu yang jauh dari gedung-gedung yang menjulang, dan polusi cahaya yang sangat mengganggu pandangan dalam meru’yah fajar shodiq. Belum lagi di beberapa daerah kadang terjadi mendung dalam waktu yang relatif lama, dan dalam keadaan demikian tidak memungkinkan dilakukan ru’yah untuk waktu sholat yang minimal sehari harus lima kali. Oleh karena itu, -menurut penulis- kalender untuk penentuan sholat, di zaman ini merupakan hal yang sangat dibutuhkan sekali, sebagaimana telah diterapkan oleh seluruh Negara Islam.

Tapi penulis berharap, sebelum langkah-langkah yang telah ditempuh terlalu jauh ditindak lanjuti, hendaklah di teliti ulang apakah dua ciri tambahan untuk fajar shodiq yang selama ini digulirkan sesuai dengan dalil-dalil syar’i? (yakni ciri bahwa sinar fajar shodiq harus memenuhi jalanan dan perumahan, dan adanya campuran warna merah, khususnya ketika langit bersih dan cuaca cerah). Karena mayoritas ulama tidak menjadikan dua hal itu sebagai syarat untuk fajar shodiq, maka harusnya kita juga demikian.

Perlu kita camkan di sini, bahwa sebagaimana kita harus hati-hati dalam hal sholat, agar kita tidak sholat sebelum waktunya, kita juga harus hati-hati dalam hal puasa, agar puasa kita dimulai dari awal waktunya. Jadi, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama cepatnya hingga sholat subuh kita jadi tidak sah, begitu pula sebaliknya, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama lambatnya, hingga puasa kita jadi tidak sah… Syeikh Athiyah Salim mengatakan:

يقول الفقهاء: ينبغي أن يمسك قبل أن يتبين ولو بلحظات ليتأكد أن إمساكه وقع في جزء من الليل، وأن كامل النهار سلم من أن يأكل أو يشرب فيه

“Para ahli fikih mengatakan, sebaiknya orang yang berpuasa berhenti makan sebelum terangnya fajar shodiq meski sebentar, agar ia yakin telah berhenti (makan dan minum) pada sebagian waktu malamnya, dan (juga agar ia yakin) semua siangnya terbebas dari makan dan minum”. (Tafsir Surat Hujurat 8/3). Inilah tujuan utama kami menulis artikel ini… jadi mohon dimaklumi adanya.

Karena dalam artikel yang lalu telah dijelaskan bantahan terhadap syarat menyebarnya sinar fajar shodiq di jalanan dan perumahan, maka dalam tulisan ini penulis akan menyoroti masalah syarat campuran warna merah, terutama ketika langit bersih dan cuaca cerah.

Dalil keempat:

عَنْ طَلْقٍ بن علي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا يَهِيدَنَّكُمْ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمْ الْأَحْمَرُ

Dari Tholq bin Ali, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Makan dan minumlah, jangan sampai pancaran cahaya yang tegak itu mencegah (sahur) kalian. Maka makan dan minumlah hingga datang (fajar) yang merah. (HR. Abu Dawud: 2348, dan tirmidzi: 705, dihasankan oleh Albani)

Pada hadits di atas Nabi -shollallohu alaihi wasallam- jelas-jelas menyifati fajar shodiq dengan warna merah, ini merupakan dalil nyata diharuskannya sifat merah dalam fajar shodiq.

Jawaban:

Meski ada beberapa ulama yang mempermasalahkan ke-shohih-an hadits ini, -seperti Addaruquthni yang mengatakan: “Qois bin Tholq, (salah perowi hadits ini) bukan perowi yang kuat”, juga Abu Hatim yang mengatakan: “ia (Qois bin Tholq) tidak bisa dijadikan sebagai hujjah”-, akan tetapi yang lebih kuat adalah pendapat yang meng-hasan-kannya, sebagaimana dipilih oleh Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan Albani, wallohu a’lam.

Jika demikian, lalu bagaimana cara mengompromikan antara redaksi Alqur’an “benang putih” dengan redaksi hadits ini “al-Ahmar“? Ada dua versi dalam masalah ini:

(a) Bahwa maksud kata “Al-Ahmar” dalam hadits ini adalah warna putih, seperti dalam sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang lain: “بُعِثْتُ إلى الأحْمَر والأسود” Aku diutus kepada “Al-Ahmar” (bangsa kulit putih) dan bangsa kulit hitam. (HR. Ahmad: 13852, dan Addarimi: 2467, dishohihkan oleh Albani). Begitu pula ungkapan orang arab “امرأة حمراء”, yakni wanita yang berkulit putih. Pendapat ini dikuatkan oleh pengarang kitab Aunul Ma’bud syarah Sunan Abu Dawud, ketika mensyarah hadits di atas. (Lihat juga keterangan ini dalam An-Nihayah karya Ibnul Atsir 1/429, Lisanul Arob karya Ibnul Mandhur 2/989-990, Tahdzibul lughoh karya Al-Azhari 2/115).  Tajul Arus karya Azzabidi 11/73)

(b) Syeikh Albani mengatakan: “Ketahuilah, tidak ada pertentangan antara sifat “al-Ahmar” yang diberikan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- untuk fajar shodiq, dengan sifat “benang putih” yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepadanya. Karena -wallohu a’lam- yang dimaksud dengan itu adalah: Fajar putih yang tercampuri warna merah, atau kadang putih dan kadang merah, tergantung perbedaan musim dan matla’ (tempat munculnya fajar)”. (Lihat di silsilah shohihah, hadits no: 2031)

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena:

(a) Pendapat kedua ini musykil, karena warna merahnya fajar shodiq itu tidak akan muncul, kecuali setelah hilangnya benang putih yang tipis dari fajar shodiq. Dan ini jelas menyelisihi petunjuk Alqur’an yang menyatakan fajar shodiq itu di mulai dengan jelasnya benang putih.

(b) pendapat kedua menyelisihi pendapat mayoritas ulama, bahkan Al-Jashshosh dalam kitab tafsirnya mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin, bahwa dengan fajar putih yang mendatar di ufuk sebelum munculnya warna merah, makan dan minum menjadi haram bagi orang yang puasa. (Ahkamul Qur’an 1/229)

(c) Hendaknya kita memaknai hadits ini dengan mengacu pada pemahaman Alqur’an, bukan sebaliknya memaknai Alqur’an dengan mengacu pada pemahaman hadits ini, apalagi sebagian ulama -seperti Addaruqutni dan Abu Hatim- telah mempertanyakan keshohihannya, wallohu a’lam.

Maksudnya, hendaklah kita memaknai redaksi “الأحمر” dalam hadits ini, dengan makna “warna putih” sebagaimana itu berlaku dalam bahasa arab, karena mengacu pada redaksi ayat “الخيط الأبيض”. Jangan sebaliknya, memaknai redaksi Alqur’an “الخيط الأبيض”, dengan mengacu pada redaksi hadits “الأحمر”, lalu mengatakan bahwa fajar shodiq itu harus tercampur warna merah.

Karena redaksi Alqur’an dalam hal ini lebih jelas dan lebih kuat dari pada redaksi hadits itu, redaksi Alqur’an “الخيط الأبيض”, tidak mungkin dalam bahasa arab dimaknai “warna merah”, sedang redaksi hadits “الأحمر” dalam bahasa arab bisa dimaknai “warna putih”, wallohu a’lam.

Kesimpulannya, harus adanya warna merah pada fajar shodiq, bukanlah syarat dalam menentukan masuknya waktu shubuh. Yang benar, waktu subuh sudah masuk dengan jelasnya benang putih, yakni awal dari fajar shodiq, meski belum muncul atau tercampuri warna merah. Wallohu a’lam…. (Bersambung)

About these ads
Komentar
  1. Deny mengatakan:

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

    Ustadz, sebelum pembahasan mengenai benang merah dan benang putih dilanjutkan, saya ingin bertanya, Apakah ustadz sudah pernah melihat fajar shodiq? Perlu diketahui bahwa pada saat adzan subuh berkumandang, langit benar” dalam kondisi gelap dan belum tampak fajar Shodiq…

    Perlu diketahui, bahwa yang menentukan waktu sholat ialah ahli falak atau ahli astronomi, kalo ustadz mengikuti artikel bersambung di majalah Qiblati, maka ustadz akan menemukan bahwa para ahli Falak tidaklah paham tentang perbedaan antara fajar Kadzib dan fajar Shodiq. Bahkan banyak diantara para ahli falak kafir yang ikut menentukan waktu sholat.

    Maaf ustadz,

    Jazakallah khoir

    • addariny mengatakan:

      Alhamdulillah ana udah baca semuanya… Tentang klaim bahwa ahli falak ga paham fajar shodiq, itu hanya tuduhan yang tanpa bukti… Apa bukti perkataan itu?… Mereka yang merumuskan kalender untuk seluruh umat islam, tentu bukan orang yang sembarangan… Hendaknya kita memohon ampun kepada Alloh, jika menuduh bodoh setiap orang yang menyelisihi kita… wallohu a’lam
      sebaliknya, ana juga afwan banget, mudah2an antum tidak tersinggung…

  2. Abu shofy mengatakan:

    ana tunggu kelanjutannya ustadz… untuk melengkapi mohon diikutkan hasil pengamatan di saudi ustadz kalau ada ! “siapa tau ustadz ada kesempatan untuk observasi sendiri.. disana”, biar seimbang dengan yang disampaikan qiblati. karena mereka memberikan bukti-bukti yang jelas… dengan photo lagi… jika tidak ada ya terpaksa saya membenarkan apa yang mereka sampaikan.

    • addariny mengatakan:

      InsyaAlloh ana lanjutkan… afwan memang ana sangat sibuk… susah untuk meluangkan waktu untuk neruskan artikel ini…
      Bukti itu kan masih tergantung definisi fajar shodiqnya… coba antum lihat bukti foto mereka… kan harus ada warna merahnya kan?… padahal sebelum itu kan udah muncul garis putihnya… makanya ada perbedaan waktu… mereka mengharuskan sifat warna merah, sedangkan mayoritas ulama tidak… itulah rahasia permasalahan ini…
      ana masih yakin, bahwa jika ada perbedaan waktu, itu tidak sampai 20 menit atau lebih… ana lebih condong ke pendapatnya syeikh utsaimin, jika memang terbukti ada kesalahan dalam kalender… wallohu a’lam.

  3. Abu abdullah almaidany mengatakan:

    Jazakallah khair atas tulisan ustadz…sungguh tulisan ini menjawab keraguan saya selama ini dan sebagai pembanding serta penyeimbang terhadap masalah waktu shubuh yang ada…
    Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan menarik ubun-ubun kita pada kebenaran…

  4. wanto mengatakan:

    afwan jadi tertarik ingin ikut nimbrung. kayaknya ana sependapat dengan abu shofy. tolong deh dilakukan observasi dulu baru bicara. kalo yg di qiblati fotonya itu ada warna merah karena itu yang tertangkap kamera. sedangkan dalam laporan yang dimuat tidak demikian. mereka melaporkan bahwa pertama kali fajar muncul berupa garis putih membentang dari utara ke selatan itu ya sekitar 25 menit setelah adzan, baru kira2 8 menit setelah itu tampak da warna merah. ini sesuai dengan laporan yang diterima qiblati dari berbagai lokasi pengamatan seperti pantai banyuwangi, lamongan, malang, pasuruan, surabaya, pamekasan, jogja, imogiri, karawang, medan dll. ya kalau penglihatan mereka semuanya salah terus yang benar tolong ant sebutkan buktinya. kami tunggu. mari kita buktikan lagi.

    • addariny mengatakan:

      khoir lah… observasi itu bagus… tapi hendaknya tidak setiap orang melakukannya… tapi terbatas orang-orang yang berkompeten, itu sudah cukup, dan lebih menjaga persatuan umat islam… Coba kalau banyak yang observasi dan setiap orang ingin dibenarkan… padahal banyak terjadi perbedaan menit… ada yang katanya ga telat, ada yang katanya telat 10 menit, ada yang 15 menit, ada yang 20 menit, ada yang 25, dan seterusnya… siapa yang berhak dibenarkan…
      Berbeda jika yang observasi terbatas orang yang punya kapasitas dalam hal ini… sehingga keputusannya bisa didukung oleh seluruh lapisan masyarakat… tentunya hal itu akan lebih efektif, efisien, tidak membuat geger, dan lebih menyatukan umat…
      afwan jika ada kata yang kurang berkenan… dan syukron atas partisipasinya…

  5. Izzul mengatakan:

    Tadz Adrian…na minta makalahnya dilengkapi…karena sebagian ikhwah setelah membaca majalah Qiblati langsung mengambil sikap…mereka akhirnya tidak sholat shubuh berjama’ah di masjid karena diannggap kecepatan. artinya kalau mereka sholat berjama’ah, berarti -menurut mereka- sholatnya batal.
    ada juga yang sholat berjama’ah di masjid tapi itu dianggap sebagai sholat sunnah dan mengulanginya di rumah… tolonng ustad ya…
    oh ya,,,bagaimana kalau hal ini ustadz sampaikan kepada DEPAG atau MUI…karena kedua oraganisasi ini berwewenang dalam masalah ni dan tentunya memiliki team ahli falak dan astronomi.
    dan saya kira NU dan Muhammadiyah juga memilki Team yang terlatih dalam masalah ini. af1 tadz

    • addariny mengatakan:

      Afwan nama ana addariny… bukan adrian…
      InsyaAlloh jika waktu memungkinkan tak lengkapi segera… Ana tidak punya kapasitas apa2 untuk menembung ke DEPAG atau MUI… ana juga sekarang tidak di INDO… tolong kalau ada yang bisa kirim artikel ini ke mereka, silahkan… Meski nantinya tidak dipakai, tapi minimal bisa dijadikan sebagai pembanding…
      Ana sangat berharap DEPAG dan MUI tidak meremehkan masalah ini… karena setahu ana MUI jogja sudah memberikan jawaban penolakan, tapi sayang mereka tidak terjun langsung untuk observasi… begitu pula DEPAG…
      Harusnya OBSERVASI itu dijawab dengan OBSERVASI agar berimbang, sebagaimana dilakukan di Negara SAUDI ARABIA… ketika isu ini beredar luas di zaman SYEIKH BINBAZ masih hidup…
      Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli, hanya saja kadang tidak dimanfaatkan dengan semestinya, atau tidak mampu untuk memanfaatkannya, karena terbentur biaya atau yang lainnya… Allahul musta’an… Semoga masalah ini cepat selesai, amin….

  6. Arif mengatakan:

    kesimpulan saya, ustad ya… anda belum pernah melihat sendiri fajar shodiq.. dengan mata kepala sendiri..?? benar atau tidak ustadz…? sayang sekali ustad kalau demikian,…

    • addariny mengatakan:

      Alloh tidak membebani hambanya dengan sesuatu yang tidak ia mampui… ana sekarang tidak di Indo, jadi harap maklum… dan insyaAlloh banyak orang yang sudah melakukannya dan itu sudah cukup bagi ana… yang lihat fajar shodiq, bukan antum saja kan?… Masih banyak yang lain… Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengambil manfaat dari pengalaman orang lain… (bukan berarti ana cerdas dan antum tidak… Tapi ana berharap antum lebih cerdas dari ana yang serba pas2an ini)…
      syukron atas komennya… mudah2an Alloh memaafkan setiap kesalahan kita… amin…

  7. addariny mengatakan:

    Kalau tidak ragu kan tetap batal…

  8. Arif mengatakan:

    terimakasih banyak ustadz… dan yang anda sampaikan sangat pas dengan yang saya baca di http://id.qiblati.com/forum/id/12
    mohon maaf ustad atas komentar-komentar saya yang kurang berkenan.

  9. wanto mengatakan:

    yang saya ketahui selama ini dengan melakukan beberapa kali pengamatan, masalah fajar shodiq adalah masalah yang sangat jelas dan mudah dilakukan. hal ini sebagaimana yang dilakukan Rosululloh saw dengan menunjuk Bilal sebagai muadzin sebelum subuh dan Ibn Umi Maktum sebagai mu’adzin subuh. klo utk adzan subuh harus dserahkan kpd org khusus yg ahli, mengapa hal ini tdk dilakukan Rosululloh saw? bahkan sebaliknya justru menunjuk seorang muadzin yang buta, tidak bs melihat langsung fajar shodiq? dan dia adzan ketika dibilang sama yang lain bahwa sdh wkt subuh sdh masuk. sementara yang ant katakan: “padahal banyak terjadi perbedaan menit… ada yang katanya ga telat, ada yang katanya telat 10 menit, ada yang 15 menit, ada yang 20 menit, ada yang 25, dan seterusnya… siapa yang berhak dibenarkan…” jika ant punya data silahkan ant muat, siapa yg mengatakan itu dan dimana?
    ان يتبعون الا الظن وان الظن لا يغنى من الحق شيئا

  10. abu salwa mengatakan:

    assalamualaikum warahmatullaah wabarakaatuh!

    salam kenal, ana minta izin untuk turut bergabung dalam diskusi yang semoga semakin menambah ilmu dan pahala kita semua, amin!
    ust! ana memandang bawah hujjah2 yang antum sampaikan benar adanya. cuma ana ingin memberikan masukan sedikit yang semoga bermanfaat, amin!
    pertama, kita harus mengetahui dahulu persepsi subuh / fajar menurut hadis Nabi SAW dan ahli falak / astronomi, karena yang ana tahu dalam persepsi ilmu astronomi yang namanya fajar hanya satu namun jika dikembalikan dalam hadis Nabi SAW, Beliau SAW membedakan antara fajar shodiq dengan fajar kadzib, yang mana pada fajar shodiq kita dihalalkan shalat dan diharamkan makan, namun dalam persepsi ilmu falak cuma ada satu, yaitu fajar kadzib. ini perlu untuk menyamakan persepsi.
    kedua, ahsan jika kita melihat langsung arah terbitnya fajar untuk membuktikan apakah memang jadwal yang telah ada tidak sesuai ataukah sudah sesuai, karena melihat berbeda dengan memperhitungkan. memperhitungkan bersifat nisbi walaupun sudah teruji dan melihat adalah hakiki.
    ketiga, bisa saja kita tidak meninggalkan hisab karena memang perkembangan teknologi semakin membantu akan hal ini, namun kita tidak bijak kalau tidak melihat secara hakiki, karena ketika Nabi SAW menjelaskan tentang waktu2 shalat atau waktu2 masuknya awal dan akhir ramadhan Nabi SAW menjelaskan seolah-olah itu adalah hakiki, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan yang hakiki, apalagi jika diduga bahwa hasil daripada hisab ada kekeliruan, apa salahnya jika dibawa kepada yang hakiki.
    keempat, agama ini adalah milik semua, ketika Nabi SAW menjelaskan tentang waktu2 shalat dan waktu2 masuk atau keluarnya ramadhan adalah apa yang bisa diamati dan disaksikan oleh seluruh kaum muslimin, bukan hanya kalangan tertentu yang ahli dalam hisab!

    wallahu’alam semoga yang sedikit ini bermanfaat!

  11. wanto mengatakan:

    ust yang ana hormati, materi yang disamapaikan oleh majalah qiblati adalah sangat rinci yang disertai dengan dalil qur’an, sunnah, pemahaman dan praktek ulama, hasil-hasil penelitian resmi baik berupa disertasi maupun yang dilakukan oleh pusat observasi antariksa, dilengkapi juga dengan fakta-fakta di lapangan hasil observasi di berbagai daerah. jika memang ust merasa punya ilmu yang lebih yang bisa membatalkan semua yang disampaikan qiblati kami akan dengan sangat lapang dada mengikuti pendapat ust. bahkan tidak usah kuatir kami siap membantu memperjuangkan pendapat tersebut semampu kami jika itu adalah ilmu yang harus diamalkan. kami sangat menunggu

  12. Deny mengatakan:

    Maaf, baru sempat untuk melanjutkan.

    Ustadz, sudah terbukti bahwa ahli falak yang menentukan waktu subuh tidak paham perbedaan antara fajar shodiq dan fajar kadzib. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, mengingat diantara kita, bahkan diantara para ustadz, sedikit sekali yang paham hal tersebut. Kalau hanya dari kitab, tanpa melihat langsung memang agak sulit, tapi kalo ustadz berkenan melihat langsung, Insya Allah ustadz akan bisa menemukan bahwa memang waktu sholat subuh masih gelap.

    Ana sepakat dengan usul bahwa sebaiknya ustadz memberikan ulasan dan bandingan yang ilmiah. Ana kebetulan tinggal di malang dan mengikuti kajian bersambung tentang fajar. Awalnya ana memang ragu, mungkin sama dengan kebanyakan tholibul ilmi yang lain, namun setelah ana ikuti dan telaah dengan seksama, Insya Allah hal tersebut benar adanya. Dan apa yang dilakukan oleh tim Qiblati tidak menyalahi perintah taat ulil amri, karena hal tersebut pernah dilakukan oleh Syaik Utsaimin. Saat itu Syaikh Utsaimin menyuruh tim pengamat fajar untuk menyampaikan hasil observasi pada pihak yang terkait dengan penentuan waktu sholat (afwan, ana lupa namanya) sedangkan Syaikh sendiri selaku ulama berdakwah. Jadi tidak perlu menunggu ijin ulil amri untuk berdakwah. Tentunya kita tidak meragukan pemahaman Syaikh Utsaimin tentang taat ulil amri.
    Wallahu’alam

    Ustadz, tentang benang merah dan putih sebagai penanda waktu fajar sebenarnya tidak ada pertentangan tentang hal itu. Kalo ustadz pernah melihat fajar shodiq, dapat dilihat bahwa sebenarnya benang putih itu tidak murni putih, tp bercampur merah, bahkan kadang tampak merah. Hal ini bergantung dengan musim dan ana rasa bukan suatu kesalahan atau pertentangan dalam pemahaman fajar shodiq.
    Wallahua’lam

    • addariny mengatakan:

      Ana tidak pernah mendengan keterangan antum tentang Syeikh Utsaimin itu… coba antum tunjukkan dari mana antum menukilnya… yang ana tahu syeikh Utsaimin sering memperingatkan jadwal sholat shubuh yang menurut beliau terlalu cepat 5 menit… tidak seperti dikatakan oleh banyak orang, yang mengklaim kecepatan 15-30 menit… Tentang warna merah pada fajar shodiq, sudah dijawab di postingan yang ada…

  13. anto mengatakan:

    assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuhu?
    ust yang saya hormati. karena masalah ini berawal dari amatan para ulama’ kemudian tim qiblati juga mengamati,dan juga ikhwah ( banyuwangi, surabaya, solo, semarang, jogya dan beberapa tempat lainnya ) bahwa memang fajar muncul kira-kira 20 setelah jadwal yang ada untuk menyelesaikan masalah ini saya mengusulkan
    1. ust medelegasikan orang kepercayaan ust yang ada di Indonesia untuk melihat fajar di daerah masing-masing minimal perwakilan 5 daerah. sebagaimana yang di lakukan Qiblati.
    2. mengabadikan hasil dengan foto.
    3. dan ust juga mengamati yang di saudi karena orang yang menyaksikan sendiri itu beda keyakinannya dengan orang yang hanya mendengar berita. nabi Ibrahim pernah meminta pada allah bgmn cara menghidupkan orang mati Allah berfirman Apakah Engkau tidak mengimaniku, nabi Ibrahim berkata Agar hatiku merasa mantab/tenang.ليس المخبر كالمعاين

  14. rizky mengatakan:

    assalamu’alaikum ww
    sebaiknya ustazd lebih meyakini lagi ttg penelitiannya.
    (karena ini menyangkut muslim sedunia)
    terus beri masukan ke MUI & DEPAG serta organisasi islam lainnya, agar tak terjadi kekacauan kaum muslim dan tertawaan umat agama lain.

  15. Rigih mengatakan:

    sedikit masukan
    mengenai waktu shalat yang dikatakan syaikh utsaimin (telat 5 menit), kemudian di indonesia telat antara 15-30 menit, kemungkinan perbedaan ini berasal dari berapa derajat yg digunakan dalam menentukan fajar. klo ga salah, selisih 1 derajat itu kurang lebih sekitar 4 menit.

    • addariny mengatakan:

      kalau asumsi antum benar, seharusnya di indo telatnya hanya 8-9 menit… karena di saudi menggunakan derajat 19, sedang di indo (depag) menggunakan derajat 20…
      ala kulli hal, tidak seharusnya setiap orang mempermasalahkan hal ini, sebaiknya kita menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang agar masyarakat tidak semakin resah dan bingung… Ya Alloh, mudah2an masalah ini cepat selesai dan ditanggapi dengan sepantasnya oleh pemerintah (pihak yang berkompeten dalam hal ini)… amin…

  16. ————— Antum bisa melihatnya di http://www.icoproject.org/ifoc.html —————–

    ini adalah salah satu pendapat ilmiyyah bagaimana observasi DENGAN MATA TELANJANG ITU harusnya dilakukan. semoga kita semua lapang dada sebagaimana kita semua selama ini katakan.

    ala kulli hal, sebaiknya kita ketika mengomentari satu masalah hendaknya beradab dan lemah lembut, baik yang sependapat dan kurang sependapat dengan masalah fajar ini, hendaknya kita ini tahu siapa posisi kita ketika hendak mengomentari tulisan seseorang yang berada diatas kita tingkat keilmuwan dan usianya.

    Akhi Fillah, hendaknya kita-kita ini banyak-banyak beristighfar serta menahan lesan dan kedua tangan kita hingga selesainya pembahasan masalah ini. hingga telah jelaslah mana yang lebih benar dalam masalah ini. tidak mengomentari ustad-ustad kita dengan ungkapan-ungkapan yang kurang baik meski dibungkus dengan kata-kata afwan, maaf, ustad yang saya hormati dan sebagainya,

    semoga ALLAH melembutkan hati-hati kita

    ditulis oleh Abu Harits yang mengharapkan ampunan Robb-NYA

  17. fachry abu umainah mengatakan:

    Assalamualaikum…
    Ana baru gabung disini, ana memiliki keyakinan gemerlap lampu meskipun jauh dari tempat observasi -in jaza at-ta’bir- SANGAT mempengaruhi tidak/atau terlihatnya awal fajar shadiq fadhlan fajar kadzib, oleh karena itu ana menuntut pihak qiblati saddadahumullahu untuk memberikan foto fajar kadzib hasil mereka sendiri, qoddarallahu hattal aan belum bisa menunjukkan, karena pemahaman ana: “KAPAN FAJAR KADZIB TERLIHAT,PASTI SETELAHNYA AWAL FAJAR SHADIQ TERLIHAT”,

    Sayangya permintaan ana dan sebagian ikhwah ditanggapi dengan pernyataan fajar kadzib bukan hal yang prinsip, oleh karena itu ana mengajak para ikhwah terutama yang sudah pernah melakukan observasi, MARI KITA MELAKUKAN PENELITIAN MELIHAT FAJAR KADZIB!!!, karena terus terang ana tidak bisa melihatnya, shahih ana melihat muncul fajar setelah 20 menitan dari adzan yang ada, tetapi wallahu a’lam menurut ana itu bukanlah AWAL FAJAR SHADIQ…

    Wa akhiran anqulu qoula Syaikh Ali hafidhahullahu alladzi dzakarahu miraran fi ad-dauroh al-madhiyah wa fi kitabihi manhaji salafis shalih..“la naj’al ikhtilafana fi ghoirina sababan lil khilafi bainana” fa aqulu “la naj’al ikhtilafana fi NADHORINA sababan lil khilafi bainana”

    “JANGAN JADIKAN PERBEDAAN PANDANGAN KITA, MENJADI SEBAB PERSELISIHAN DIANTARA KITA”

    jazallahu shahiba hadzal mauqi’ khairan wa aatihi taufiqan wa rusydan

    • addariny mengatakan:

      Syukron atas komen-Nya yang sangat berbobot…
      Aku juga sependapat dengan antum…

      Kalau katanya kita sekarang ini mudah melihat awal fajar shodiq, seharusnya kita juga mudah melihat fajar kadzib…

      Kalau kenyataan di lapangan mengatakan, kita sekarang susah atau tidak bisa melihat fajar kadzib, itu berarti kita di zaman ini susah atau tidak bisa melihat awal fajar shodiq…

      Kenapa kita berkesimpulan demikian?
      karena Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah menyebutkan dua fajar itu dalam sabda-sabdanya, dan itu menunjukkan keduanya mudah dilihat pada zaman Beliau. Sehingga bila ternyata di zaman ini, kita susah melihat fajar kadzib, padahal di zaman Rosul mudah di lihat, itu berarti kita juga di zaman ini susah melihat awal fajar shodiq, yang dulunya mudah dilihat di zaman beliau… wallohu a’lam.

      Meski demikian, sekali lagi ana katakan, ana belum berani mengatakan bahwa kalender DEPAG seratus persen benar… sebaliknya ana juga tidak berani mengatakan kalender DEPAG itu seratus persen salah… karena penilaian seperti itu, membutuhkan penelitian yang lama dan bisa dipertanggung-jawabkan… tapi YANG PASTI, KALAU KALENDER DEPAG ITU SALAH, MAKA KESALAHAN MAKSIMALNYA 10 MENIT, tidak seperti yang digembar-gemborkan selama ini… wallohu a’lam.

  18. ibnu hadi mengatakan:

    Barokallohufik
    semoga Alloh menjaga Ustadz dan kita semua dalam kebaikan dunia akhirat.

    ustadz ana mau tanya apa ada dikitabnya syeikh Ibrahim bin Muhammad Assubaihi pengantar dari syeikh Sholeh Fauzan ?

    tolong dong kami diberitahu terjemahannya secara lengkap, biar kami tahu perkataan syeikh Fauzan.

    syukron.

    untuk akhi abu harits priyo sasongko, perkataan antum:
    “hendaknya kita ini tahu siapa posisi kita ketika hendak mengomentari tulisan seseorang yang berada diatas kita tingkat keilmuwan dan usianya.”

    perkataan antum ini berarti juga berlaku buat antum yang sudah komentar di web qiblati.com.
    kita tahu antum tidaklah selevel dengan penulis di web tersebut.
    afwan.

    • addariny mengatakan:

      wafika barokalloh…
      ya benar, di kitab itu ada pengantar dari syeikh sholeh fauzan, juga mufti kerajaan saudi Arabia sekarang ini (Syeikh Abdul Aziz alu Syeikh)… cuma sekarang kitabnya lagi dipinjam orang… yang jelas intinya beliau-beliau mendukung isi kitab itu… afwan

  19. Abu Fathimah mengatakan:

    Kalau tidak salah sebagai berikut :
    مقدمة صاحب المعالي فضيلة الشيخ الدكتور صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله
    عضو هية كبار العلماء

    الحمد الله وبعد : فما زال المسلمون حاضرة وبادية وقرى وأمصار يصلون الفجر ويصومون اعتماداً على قوله تعالى { وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر } حيث علق ابتداء عبادة الصوم والصلاة بعلامه ظاهرة لا يحتاج معها إلى تكلف الفلكين والمتعالمين واختلافاتهم فمن يشاهد طلوع الفجر يصلي ويصوم عند طلوعه . ومن لا يشاهده يعتمد على تقويم مجرب بالصحة ونحن والحمد الله نصلي بعد ما يمضي ثلث ساعة أو نصف ساعة من توقيت حساب أم القرى وإذا انتهينا من الصلاة نجد الأسفار واضحاً ومنتشراً فلا التفات إلى قول المشككين في صلاتنا وصيامنا ولسنا بحاجة إلى جدلياتهم والفجر يفصح عن نفسه .

    Mohon dibantu untuk menerjemahkan ustadz agar bisa ditauladani oleh kaum muslimin:
    ونحن والحمد الله نصلي بعد ما يمضي ثلث ساعة أو نصف ساعة من توقيت حساب أم القرى وإذا انتهينا من الصلاة نجد الأسفار واضحاً ومنتشراً فلا التفات إلى قول المشككين في صلاتنا وصيامنا ولسنا بحاجة إلى جدلياتهم والفجر يفصح عن نفسه

    • addariny mengatakan:

      antum mungkin lebih pinter nerjemah… tapi karena antum minta, ya tak ada rotan akar pun jadi…

      “Alhamdulillah kami biasanya sholat setelah 20 hingga 30 menit dari kalender Ummul Quro, dan saat kami selesai sholat, kami dapati isfar yang jelas dan tersebar. Oleh karena itu, perkataan para musyakkikin (yang mempertanyakan) sholat dan puasa kita, tidak perlu didengar lagi. Dan kita tidak perlu mendengar perdebatan mereka, jika fajar telah menjelaskan dirinya sendiri”

  20. na’am matur nuwun saudara saya ibnu Hadi,… ttg komentar, sebenernya ana ndak pernah mencela, cuman komentar yang kurang sopan atau yang bahkan tidak sopan yang coba saya nasehatkan.
    karena saya lihat ada beberapa komentator disini yang (maaf), kurang baik dalam mengomentari para ustad baik di qiblati maupun di addariny.wordpress. kiranya antum ndak menuntut ana untuk menunjukkan contohnya sebaggaimana saya ndak menuntut kiranya antum bisa menunjukkan komentar mana dari ana yang tidak sopan. tapi cukuplah ini sebagai klarifikasi

    saya rujukan dulu di situs ustad addariny ttg situs : http://www.icoproject.org/ifoc.html, ialah sebagai pembanding bagi mereka yang mendukung salah satu pihak yang menuntut supaya bantahan ustad addariny disertai observasi langsung maka hal itu apakah harus? dan apakah mudah syarat-syarat observasinya? . maka saya coba sampaikan pembanding kalau anda mau observasi, salah satu situs yang bisa dijadikan rujukan adalah di situs tersebut.karena di situs tersebut mereka meyakinkan sudyt 18 dengan pengamatan naked eye “Mata Telanjang” jadi terjadi ikhtilaf antara hasil para observator yang selama ini dilaporkan ke qiblati dengan para observator di http://www.icoproject.org/ifoc.html

    semoga ALLAH senantiasa memberikan kita kesabaran dan akhlak yang baik terhadap para asatidz kita

    kiranya ini bisa memahamkan
    Surabaya, 06 Oktober 2009 09.29

  21. yugo mengatakan:

    Semoga Allah menjaga ustadz.Komentar ustadz di atas yaitu ““Alhamdulillah kami biasanya sholat setelah 20 hingga 30 menit dari kalender Ummul Quro, dan saat kami selesai sholat, kami dapati isfar yang jelas dan tersebar. Oleh karena itu, perkataan para musyakkikin (yang mempertanyakan) sholat dan puasa kita, tidak perlu didengar lagi. Dan kita tidak perlu mendengar perdebatan mereka, jika fajar telah menjelaskan dirinya sendiri”

    Mohon dijelaskan..kok sepertinya justru kontradiksi dengan pendapat ustadz.

    Syukran..jazakallahu

    • addariny mengatakan:

      Ya akhi… ga usah terlalu memaksakan pemahaman… jelas2 perkataan Syeikh Sholeh Fauzan itu mendukung kalender Ummul Quro… tidak usah di-takwil2… jelas beliau telah membenarkan kalender ummul quro, sebagaimana pendapat Syeikh Binbaz dan Syeikh Mufti Abdul Aziz Alu Syeikh… Tentang iqomah yang dikumandangkan 20-30 menit setelah adzan itu masalah lain… Bukankan Syeikh sudah membenarkan Kalender Ummul Quro?!…
      Tangkaplah kata2 beliau yang jelas… dan pahamilah kata2 yang samar sebagaimana kata2nya yang sudah jelas maksudnya… Tidak usah memaksakan untuk memahami kata2 beliau dan menyitirnya untuk mendukung pendapat orang yang menyalahkan kalender Ummul Quro… afwan wa syukron…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s