Fawa’id

Bismillaahirrohmaanirrohiim… Alhamdulillaahi robbil aalamiin… was sholaatu wassalaamu ala khotamil ambiya’ wal mursaliin… wa alaa aalihi washohbihi ajma’iin…

Sering kali ketika kita baca tulisan orang lain, kita menemukan fawaid (pelajaran berharga) yang tidak terduga… Nah, alangkah baiknya jika kita bisa meluangkan waktu sedikit untuk mengumpulkan fawa’id itu di buku khusus, untuk kita telaah kembali, jika kita membutuhkannya…

Halaman ini, adalah ibarat halaman pribadi penulis,  untuk mengumpulkan fawaid yang kadang melintas didepan penulis… Mohon maaf, jika ada fawa’id yang menyinggung perasaan pembaca… Karena tujuan kami hanya mengumpulkan apa yang kami pandang sangat bagus untuk dibukukan…

Alloh berfirman (yang artinya): “Setiap orang yang memiliki ilmu, (pasti) masih ada orang yang (ilmunya) di atasnya” (QS. Yusuf: 76). Oleh karena itu, mari kita saling berbagi fawa’id… fa ta’aawanuu alal birri wat taqwa…

sekian… wassalam…

Komentar
  1. addariny mengatakan:

    قال الإمام الذهبي رحمه الله: وَلاَ رَيْبَ أَنَّ كُلَّ مِنْ أَنِسَ مِنْ نَفْسِهِ فِقهاً، وَسَعَةَ عِلْمٍ، وَحُسْنَ قَصدٍ، فَلاَ يَسَعُهُ الالْتِزَامُ بِمَذْهَبٍ وَاحِدٍ فِي كُلِّ أَقْوَالِه، لأَنَّهُ قَدْ تَبَرَهَنَ لَهُ مَذْهَبُ الغَيْرِ فِي مَسَائِلَ، وَلاَحَ لَهُ الدَّلِيْلُ، وَقَامَتْ عَلَيْهِ الحُجَّةُ، فَلاَ يُقَلِّدُ فِيْهَا إِمَامَهُ، بَلْ يَعْمَلُ بِمَا تَبَرْهَنَ، وَيُقِلِّدُ الإِمَامَ الآخَرَ بِالبُرْهَانِ، لاَ بِالتَّشَهِّي وَالغَرَض

    Imam adz-Dzahabi mengatakan: Tak diragukan lagi, bahwa setiap orang yang dirinya terbiasa dengan fikih, luas ilmunya, dan baik tujuannya, tentunya ia tidak bisa menetapi satu madzhab dalam semua pendapatnya… Karena kadang ia menemukan burhan, atau dalil, atau hujjah pada madzhab lain, sehingga ia tidak taklid kepada imamnya, tapi ia menjalankan apa yang jelas bagi dia, dan mengikuti imam lain dengan burhan (dalil yang pasti), bukan dengan hawa nafsu atau suatu kepentingan…

  2. addariny mengatakan:

    قال إبراهيم النخعي رحمه الله: إني لأرى الشيء مما يعاب فما يمنعني من أن أعيبه إلا مخافة أن أبتلى به

    Ibrohim an-Nakho’i mengatakan: “Sungguh kadang aku melihat sesuatu yang bisa dicela, tapi aku urung mencelanya, karena khawatir tertimpa hal sama pada diriku”

  3. Tommi mengatakan:

    Robi’ bin Khutsaim (murid Ibnu Mas’ud) berkata : “Apa-apa yang kamu ucapkan di sini/dunia, maka akan dituliskan dan dibacakan semuanya nanti/di akhirat”. Di lain waktu ia berkata : “Penyakit badan itu adalah obat bagi penyakit kenikmatan, istighfar adalah obat bagi penyakit dosa-dosa dan cara pengobatannya adalah kamu berhenti dari maksiat dan tidak mengulanginya.”

    Catatan untuk akhi musyaffa (bisa dihilangkan) : maaf, karena tidak bisa menampilkan tulisan arab karena laptop saya tidak punya software bahasa arab. Mohon dimaklumi ya akh…

  4. Tommi mengatakan:

    “Hati-hatilah kalian, dunia ini awalnya fana’ dan kesusahan, dan akan berakhir dengan fana’ dan kesusahan pula, ingatlah bahwa dunia ini halalnya akan menjadi hisab dan haramnya akan menjadi azab.” (Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah-)

  5. Ronggo mengatakan:

    Perbedaan antara nasehat dan kecaman adalah bahwa nasehat itu merupakan perbuatan baik kepada orang yang engkau nasehati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan, cinta dan cemburu. Maka nasehat itu semata-mata perbuatan baik didasari kasih sayang dan kelembutan dan dimaksudkan hanya mencari ridha Allah shalallahu ‘alaihi wasallam dan wajahNya, dan berbuat kebaikan kepada makhlukNya. Maka dia bersikap lemah-lembut semaksimal mungkin dalam menjalankan nasehat tersebut dan sabar dalam menerima gangguan dan celaan dari orang-orang yang dinasehatinya dan mensikapinya seperti sikap seorang dokter yang ahli, penuh rasa kasih sayang kepada pasiennya yang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan setengah sadar, dia sabar menghadapi kekurangajaran pasiennya dan tindak-tanduknya yang tidak tahu aturan itu, dokter tersebut tetap bersikap lemah-lembut dan merayunya dengan berbagai cara dalam usahanya untuk meminumkan obat kepadanya. Begitulah sikap seorang pemberi nasehat.

    Sedangkan pengecam ialah seorang yang bermaksud mempermalukan, menghinakan, dan mencela orang yang dikecam dan dicacinya, akan tetapi dengan bungkusan berupa nasehat, maka dia mengatakan, “Wahai pelaku ini dan itu! Wahai orang yang pantas dicela dan dihina!” Seolah-olah dia seorang pemberi nasehat dengan penuh kasih sayang, dan cirinya adalah apabila dia melihat orang yang dicintainya dan telah memberikan jasa baik kepadanya berbuat kesalahan yang sama atau bahkan lebih buruk lagi, dia hanya diam seribu bahasa sambil mencari-cari alasan untuk membela dia dengan mengatakan, “Manusia tidak ada yang ma’shum karena manusia tempatnya salah dan khilaf atau “kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya” atau “Allah Subhana wa Ta’ala Maha Pengampun dan Maha Penyayang”, dan yang semisalnya.

    Sungguh aneh mengapa sampai berbeda sikapnya terhadap dua orang tadi, yang satu dia mencintainya dan yang lain dia membencinya dan mengapa yang satu mendapatkan bagian darimu, berupa kecaman yang dibungkus dengan bentuk nasehat dan yang satu mendapatkan bagian darimu berupa harapan, maaf, ampunan, serta mencari-cari pembelaan.

    Dan masih termasuk perbedaan antara penasehat dan pengecam bahwasanya penasehat itu tidak memusuhimu apabila engkau tidak menerima nasehatnya, ia mengatakan, “Kewajiban saya hanya menyampaikan, dan saya mengharap pahala dari Allah, baik engkau terima ataupun engkau tolak nasehat ini.” Dan dia berdo’a kepada Allah memohonkan kebaikan untukmu di saat engkau tidak ada disisinya, dan segala kekuranganmu ditutupinya, tidak diberitahukannya kepada orang dan tidak disebarkannya kepada khalayak ramai, sedangkan pengecam berbuat sebaliknya.”

    Dari kitab Ar-Ruuh oleh Ibnul Qayyim rahimahullah hal 381-382

    [Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]

  6. Ronggo mengatakan:

    Seorang wanita muslimah, memiliki batasan hijab yang juga membatasi segala aktivitasnya agar terlindungi dari maksiat dan kerusakan. Hijab, bukan sekadar lembaran pakaian yang menutup aurat seorang wanita muslimah, namun juga lembaran ketakwaan yang membatasi segala gerak-gerik, ucapan dan perilaku wanita muslimah.

  7. Addariny mengatakan:

    إن أشد الناس شقاء, من بلي بلسان منطلق، وقلب منطبق، فهو لا يحسن أن يتكلم, ولا يستطيع أن يسكت

    Ath-Thufi mengatakan: “Sungguh org yg paling celaka adl: mrk yg lisannya pintar ngomong, tapi buta hatinya, sehingga ia tidak baik dalam berkata, tp diam pun ia tidak bisa”. (Syarah Mukhtashor Roudloh 3/40)

  8. Addariny mengatakan:

    من حقق النظر وراض نفسه على السكون إلى الحقائق -وإن آلمتها في أول صدمة-، كان اغتباطه بذم الناس إياه أشد وأكثر من اغتباطه بمدحهم إياه.
    لأن مدحهم إياه إن كان بحق وبلغه مدحهم له، أسرى ذلك فيه العجب، فأفسد بذلك فضائله. وإن كان بباطل فبلغه فسره، فقد صار مسرورا بالكذب، وهذا نقص شديد.
    وأما ذم الناس إياه، فإن كان بحق فبلغه، فربما كان ذلك سببا إلى تجنبه ما يعاب عليه، وهذا حظ عظيم لا يزهد فيه إلا ناقص. وإن كان بباطل وبلغه فصبر، اكتسب فضلا زائدا بالحلم والصبر، وكان مع ذلك غانما، لأنه يأخذ حسنات من ذمه بالباطل، فيحظى بها في دار الجزاء أحوج ما يكون إلى النجاة بأعمال لم يتعب فيها ولا تكلفها، وهذا حظ عظيم لا يزهد فيه إلا مجنون.
    وأما إن لم يبلغه مدح الناس إياه فكلامهم وسكوتهم سواء. وليس كذلك ذمهم إياه، لأنه غانم للأجر على كل حال، بلغه ذمهم أو لم يبلغه. ولولا قول رسول الله صلى الله عليه وسلم في الثناء الحسن [ذلك عاجل بشرى المؤمن]، لوجب أن يرغب العاقل في الذم بالباطل أكثر من رغبته في المدح بالحق. (مدواة النفوس 17-18)ـ

    Ibnu Hazm -rohimahulloh- mengatakan:
    “Barangsiapa merenungi dengan seksama, dan jiwanya rela menerima hakekat -meski pada awalnya, itu pahit-, maka ia akan lebih menyenangi celaan manusia, dari pada pujian mereka.

    Karena pujian mereka, jika memang benar dan sampai padanya, maka itu bisa menimbulkan penyakit ‘ujub (bangga diri) yang akan merusak keutamaannya.

    Namun bila pujian itu tidak benar dan ketika sampai padanya dia senang dengannya, mk berarti dia senang dg kedustaan. Sungguh ini kekurangan yang sangat.

    Adapun celaan manusia padanya, jika memang benar dan sampai padanya, maka itu bisa menjadi sebab ia menjauhinya (di kemudian hari), dan ini keuntungan yang besar, tiada yang tidak menginginkannya melainkan orang yang kurang (akalnya).

    Namun bila celaan itu tidak benar, dan ketika sampai padanya ia sabar, maka disamping ia menjaga kesabaran dan ketenangannya, ia juga mendapatkan keuntungan besar lain, karena ia akan mengambil pahala kebaikan dari orang yang mencelanya, sehingga karenanya ia di akhirat nanti mendapatkan keselamatan dari pahala amalan, yang ia tidak harus capek-capek mengerjakannya, dan ini juga keuntungan besar, tiada yang tidak menginginkannya melainkan orang yang gila.

    Adapun jika pujian manusia itu tidak sampai padanya, maka bicara dan diamnya itu tidak ada bedanya. Tidak demikian dengan celaan mereka, karena orang yang dicela akan mendapat keuntungan dalam segala keadaan, baik celaan itu sampai padanya ataupun tidak.

    Andai saja tidak ada sabda rosul, bahwa pujian adalah kabar gembira yang disegerakan, maka harusnya orang yang berakal lebih menyenangi celaan yang dusta, dari pada pujian yang benar. (Mudawatun Nufus 17-18)

  9. mahdiy mengatakan:

    “Jangan kalian ikuti kebenaran karena seseorang, tetapi ikutilah seseorang karena dia benar. Kenalilah kebenaran, niscaya kalian akan mengetahui siapa yang benar” [Ali bin Abi Thalib*] *apakah penisbatan ini shahih?

    • addariny mengatakan:

      Ana ga tahu sanadnya… tp banyak ulama yg menisbahkannya kepada beliau… wallohu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s