Arsip untuk 12 Mei 2009

0061Bismillah…. Sebagaimana kita ketahui bahwa menuntut ilmu adalah termasuk diantara amalan yang paling utama, sebagaimana ucapan Imam Ahmad: (العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته) Tidak ada yang menandingi keutamaan (menuntut) ilmu, bagi siapa yang benar niatnya.

Oleh karenanya, ada baiknya kita merenungi anjuran dan nasehat berikut ini, semoga banyak manfaatnya, terutama bagi penulis, umumnya bagi para pembaca yang budiman, amin. Di sini penulis akan menyampaikan beberapa poin:

Pertama: Hendaklah dalam menuntut ilmu, kita niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita dan orang lain. sebagaimana ucapan Imam Ahmad:  “Niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah dengan meniatkannya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.”

Kedua: Hendaklah kita niatkan untuk  menta’ati   perintah Alloh dan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-. Yaitu perintah Alloh dalam firman-Nya: (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh. Bahkan Alloh juga memotivasi kita untuk menuntut ilmu, yaitu dalam firman-Nya (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ) Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dalam Ayat lain Alloh berfirman:  (هل يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?!

Tidak hanya itu, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga memotivasi kita dalam menuntut ilmu dalam beberapa haditsnya, diantaranya: (lebih…)

BERDAKWAH dari HATI

Posted: 12 Mei 2009 in Adab
Tag:, ,

1 (17) الحمد لله وكفى،  والصلاة والسلام على عبد الله ورسوله المصطفى،  وعلى آله وصحبه ومن اكتفى،  أما بعد

Setiap muslim yang sejati dan peduli dengan din-nya tentu akan mendambakan tersebarnya tuntunan-tuntunan agama yang dianutnya pada masyarakat sekitarnya, ia menginginkan orang lain juga mengetahui apa yang dipelajarinya, karena ia tahu bahwa “belum sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya sendiri” [1]

Tapi dengan jalan apa ia bisa mewujudkan keinginan itu?

Mungkin ada yang menjawab: Ya… gampang saja! dengan ceramah keliling, atau khutbah di masjid-masjid, atau jadi da’i terbang, atau jadi dosen di kampus-kampus terkemuka, kita bisa menyampaikan semuanya kepada masyarakat!

Memang kelihatannya sederhana, tapi masalahnya apakah masyarakat akan dengan mudah tertarik dengan apa yang kita dakwahkan? Apakah mereka sudi menghadiri dan mendengarkan ceramah kita? Bisa jadi sudah kering tenggorokan kita, tapi belum juga kita menuai hasil yang diinginkan!

Sesungguhnya yang lebih penting adalah bagaimana kita mengambil hati mereka? sehingga nantinya mereka akan dengan senang hati dan lapang dada menerima dakwah kita. (lebih…)