Gerbang menuju… Ilmu KAIDAH FIKIH

Posted: 28 Mei 2009 in Kaidah Fikih
Tag:,

2903701425_84ed88ab47(mukadimah ilmu kaidah fikih)

Alhamdulillah… segala puji bagi Alloh swt. yang telah memberikan kepada kita, karunia nikmat yang tak terhingga, utamanya nikmat iman dan islam, yang dengannya kita bisa mengarungi hidup ini dengan lurus dan selamat sampai tujuan akhir, yaitu kehidupan kekal di surga nanti insyaAlloh… (semoga Alloh memasukkan kita semua ke dalam surganya amin…)

Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan atas teladan kita, Nabi Muhammad saw, yang telah menyampaikan ajaran islam ini dengan penuh amanah, sehingga tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada satu kejelekan pun kecuali telah beliau peringatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Oleh karenanya Agama Islam menjadi agama yang sempurna, sebagaimana firmanNya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

(Pada hari Ini, Telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhoi Islam sebagai agama bagimu).

Agama islam ini telah menerangkan segala urusan manusia, dalam segala sendi kehidupannya, baik itu melalui nash yang tersurat maupun yang tersirat.

Nash yang tersurat maksudnya adalah: nash yang secara langsung menerangkan hukum sesuatu, misalnya nash tentang perintah mentauhidkan Allah, larangan berbuat syirik, (واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا) diharamkannnya khomr (إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه), diperbolehkannya jual beli (وأحل الله البيع وحرم الربى) dsb.

Sedangkan maksud dari nash yang tersirat adalah: Nash yang menerangkan hukum sesuatu, tapi secara tidak langsung, dan biasanya nash tersebut bersifat umum, yang bisa digunakan untuk menghukumi berbagai permasalahan yang serupa atau sejenis. Misalnya, nash tentang larangan istimna’ dengan berdasar firman Alloh swt:

فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Barangsiapa yang mencari kenikmatan dengan selain itu (=selain istri dan budaknya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas

Dengan nash ayat ini, kita dapat menghukumi setiap perbuatan pemuasan syahwat farji dengan selain istri dan budaknya menjadi haram.

Contoh lain dari nash yang menerangkan hukum, secara tersirat  adalah nash yang berupa kaidah-kaidah fikih, seperti misalnya: kaidah (الأمور بمقاصدها) atau (الأعمال بالنيات), yang artinya setiap amalan itu tergantung niatnya. Dengan kaidah ini, kita dapat menghukumi setiap amalan yang mubah, jika diniatkan untuk ibadah, maka amalan tersebut menjadi amal ibadah yang menghasilkan pahala, berbentuk apapun amalan mubah itu.

Agar lebih jelas lagi, kami contohkan di sini dengan satu misal saja: Amalan tidur, adalah amalan mubah, yang jika dilakukan tidak dapat pahala, begitu pula jika ditinggalkan tidak ada siksa. Tetapi apabila diniatkan untuk ibadah, misalnya dengan niat agar badan bisa fit kembali sehingga bisa giat ibadah lagi, atau niat baik lainnya, maka dengan niat ini amalan tersebut menjadi berpahala.

Dari contoh di atas kita bisa melihat, bahwa nash kaidah tersebut menerangkan amalan tidur, tapi secara tidak langsung, yakni tidak tersebut dalam lafalnya, tetapi tercakup dalam maknanya. wallohu a’lam.

Sebelum kita mempelajari ilmu kaidah fikih, hendaknya kita mengetahui 10 hal tentangnya, yang dikumpulkan dalam bait syair berikut:

إنّ مبادئ كل فنِّ عشرة                             الحدّ والموضوع ثم الثمرة

وفضله ونسبة والواضع                     والاسم الاستمداد حكم الشارع

مسائل والبعض بالبعض اكتفى             ومن درى الجميع حاز الشرفا

Pengetahuan dasar tentang suatu disiplin ilmu, meliputi sepuluh hal:

(1) Definisi, (2)Pokok pembahasan, (3)Manfaatnya

(4)Keutamaan, (5)Keterkaitan, (6)Pencetusnya

(7)Nama, (8)Sumber, (9)Hukum mempelajarinya

dan (10) Bab-bab yang dipelajari di dalamnya.

Sebagian orang ada yang hanya menyebutkan sebagian saja

tetapi siapa yang mengetahui semuanya, maka kemuliaanlah baginya.

Mengapa kita harus mengetahui mukadimah ini? Karena dengan mengetahuinya kita bisa mengetahui arah dan target kita dalam mempelajari ilmu ini, sehingga belajar kita menjadi lebih efektif dan lebih efisien. Sebagai catatan tambahan, bahwa mukadimah yang mencakup 10 hal ini, bukanlah khusus untuk ilmu kaidah fikih, tapi untuk semua disiplin ilmu. Jadi hendaklah sebelum kita mendalami ilmu apapun, kita mengetahui dulu 10 hal tersebut. Marilah kita mulai pembahasan ini, dengan step by step, mudah-mudahan taufiq-Nya selalu mengiringi kita.

1. Definisi

Ada dua cara dalam pengartian sebuah istilah kata: Definisi  harfi dan definisi  istilahi.

Definisi secara harfi (bahasa/etimologi):

Kata kaidah fikih berasal dari bahasa arab قواعد فقهية , kata tersebut mempunyai dua suku kata: قواعد yang merupakan bentuk jamak dari kata قاعدة yang artinya dasar atau pondasi.

قواعد bisa dipakai dalam hal yang hissiy (kasatmata) seperti قواعد البنيان artinya pondasi-pondasi bangunan, sebagaimana firman Alloh swt:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail “.

Bisa juga dipakai dalam hal yang maknawi (abstrak) seperti قواعد الإسلام artinya dasar-dasar islam.

Sedangkan kata فقهية adalah bentuk nisbah dari kata فقه yang artinya secara bahasa adalah pemahaman, sebagaimana firman Alloh swt:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak paham dengan perkataanmu itu….”

dan yang dimaksud di sini adalah disiplin ilmu fikih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum sesuatu yang berupa amalan, dengan berlandaskan dalil-dalil yang terperinci.

Dari uraian di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa arti bahasa dari kaidah fikih adalah dasar-dasar ilmu fikih.

Definisi secara istilahi (terminologi):

Jika kita membuka buku-buku referensi yang membicarakan tentang definisi kaidah fikih, kita akan dapati banyak definisi-definisi kaidah fikih secara istilahi (terminologi) dengan susunan kalimat yang berbeda-beda, namun semuanya kembali kepada satu makna, oleh karenanya penulis hanya akan memilih satu definisi yang penulis pandang paling mudah dipahami dan bisa mewakili sekian banyak definisi dari kaidah fikih ini, yaitu: حكم شرعي كلي في أكثر من باب , yang diartikan: sebuah hukum syar’i, yang bisa di terapkan pada semua permasalahan-permasalahan fiqhiyyah yg di cakupnya, yang meliputi beberapa bab.

Penjelasannya: Untuk lebih mudah mencerna makna definisi ini, kita bisa contohkan dalam kaidah fikih yang telah kita singgung di atas: (الأعمال بالنيات), setiap amalan tergantung pada niatnya.

Lafal kaidah ini merupakan hukum syar’i = setiap amalan tergantung pada niatnya

Bisa diterapkan pada masalah-masalah fikih yang dicakupnya, seperti: tidur, makan, jalan-jalan, olah raga, belajar…… dll. Dengan menerapkan kaidah ini, amalan-amalan tersebut bisa berpahala, bisa tidak, bahkan bisa pula mendatangkan dosa… ia mendatangkan pahala bila diniati ibadah, tidak berpahala bila tanpa niat ibadah, bahkan bisa mendatangkan dosa bila diniatkan untuk kemaksiatan, atau sarana menuju kemaksiatan.

Kaidah ini juga meliputi beberapa bab: ia berlaku dalam bab thoharoh (bersuci), masuk pula dalam bab sholat, puasa, zakat, haji, muamalat, nikah, talak, jinayat (kriminal)…. dan bab-bab lain dalam ilmu fikih.

Bedakan dengan kaidah (الأصل في الماء الطهور), pada asalnya air itu bisa men-sucikan. Kaidah ini bukan merupakan kaidah fikih, Mengapa? karena meskipun ia hukum syar’i dan bisa diterapkan pada semua permasalahan fikih yang dicakupnya, tapi ia hanya terbatas dalam bab air saja, tidak ada masuk dalam bab fikih lainnya, ia tidak berhubungan kecuali dengan bab air saja. Kaidah seperti ini diistilahkan oleh para ulama, dengan istilah dhowabith fiqhiyyah.

2. Pokok pembahasan

Yang menjadi obyek/pokok pembahasan dalam ilmu kaidah fikih ini adalah kaidah-kaidah fikih itu sendiri, ditinjau dari berbagai segi. Misalnya: ditinjau dari makna dan maksud kaidah tersebut, dalilnya, contoh penerapan kaidah tersebut, apa yang dikecualikan dari kaidah tersebut, apakah kaidah itu disepakati para ulama atau tidak, dan apakah kaidah tersebut mutlak adanya atau ada syarat-syarat khusus dalam penerapannya… dst.

3. Manfaat yang dapat dipetik

Sungguh sangat besar dan banyak manfaat dari belajar disiplin ilmu ini diantaranya:

a)      Membantu kita dalam mengingat dan membedakan banyak permasalahan yang serupa dalam ilmu fikih.

b)      Memudahkan kita dalam menemukan hukum suatu kasus atau permasalahan yang tidak termaktub secara khusus dalam nash-nash Alqur’an dan sunnah.

c)      Membentuk seseorang menjadi ahli fikih yang mumpuni dalam menjawab tantangan zaman dengan berbagai permasalahan barunya yang terus bermunculan.

d)      Susunan kalimat kaidah fikih yang singkat dan padat, menjadikan kita mudah untuk menghapalnya.

e)      Kaidah fikih dengan ciri khasnya: keluasan makna dan obyektifitas, menjadikannya sebagai patokan hukum yang bisa diterapkan pada banyak permasalahan dengan tidak terpancang pada individu ataupun permasalahan tertentu.

f)       Memudahkan kita dalam mempelajari ilmu ushul fikih, karena kaitannya yang sangat erat antara keduanya.

g)      Menjauhkan seseorang dari kontrakdiksi dalam pendapat-pendapatnya, karena ilmu kaidah fikih ini ibarat rel, kereta api yang berjalan di atasnya tidak bisa menyalahinya, ia akan berjalan kemanapun arah rel itu, ketika ia menyalahinya pertanda ia sedang celaka. Begitu pula dengan kaidah fikih, seorang mujtahid harus berpegang teguh dengannya -disamping berpegang teguh dengan dalil-dalil syar’i lainnya-. Produk fatwa yang dihasilkannya akan seragam, bila ia berjalan sesuai dengan rel kaidah, sebaliknya tanpa rel tersebut, ia akan bingung menentukan arah, gampang dibelokkan, dan riskan salah sasaran.

4. Keutamaannya

Adapun keutamaannya, kita dapat mengetahuinya dengan melihat manfaat yang akan kita petik dari belajar disiplin ilmu ini, yang telah kita sebutkan sebagiannya pada poin pembahasan yang lalu. Semakin besar manfaat ilmu tersebut, semakin besar pula keutamaannya. Oleh karena itulah, ilmu tauhid menduduki peringkat keutamaan paling tinggi dibanding disiplin ilmu lain, Mengapa? karena dengan belajar ilmu tauhid, kita dapat mengenal Rabb kita, dengannya kita dapat lebih mentauhidkanNya, sekaligus menjauhkan diri kita dari perbuatan syirik, dan itu merupakan manfaat yang paling besar dibanding manfaat-manfaat lainnya.

Dengan melihat manfaat ilmu kaidah fikih ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu ini termasuk diantara ilmu yang sangat tinggi keutamaannya, cukuplah sabda Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini menerangkan kepada kita kedudukan ilmu ini:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang Allah harapkan kebaikan padanya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam agamanya (muttafaqun alaih).

sebagaimana kita ketahui, diantara jalan untuk memahami dan mendalami agama ini, adalah dengan mempelajari ilmu kaidah fikih, dengan kata lain barangsiapa yang ahli dalam ilmu ini, berarti ia akan paham dalam agamanya, dan barangsiapa paham dalam agamanya berarti Alloh telah harapkan kebaikan padanya. Itu berarti orang yang ahli dalam ilmu kaidah fikih termasuk orang yang Alloh harapkan kebaikan padanya. Wallahu a’lam.

5. Kaitan atau hubungan ilmu ini dengan ilmu lain.

Ilmu kaidah fikih sangat erat hubungannya dengan ilmu fikih, adapun jenis hubungan tersebut adalah umum dan khusus wajhi (= bisa meluas dan menyempit sesuai dengan sudut pandang masing-masing). Artinya di satu sisi ilmu kaidah fikih itu lebih luas cakupannya, tapi di sisi lain ilmu fikih lebih luas cakupannya.

Uraian penjelasan:

Dalam ilmu ilmu qowaid fiqhiyyah, banyak dibahas masalah-masalah niat, misalnya, apa maksud niat? Apa syarat niat? Dimana letak niat? Apa tujuan niat? kapan waktu niat? bagaiman jika ragu-ragu dalam niat? bagaimana bila mengurungkan niat di tengah melakukan amalan? bagaiman jika niat berbeda dengan amalan?….. dst, yang masalah-masalah tersebut tidak dipelajari dalam ilmu fikih. Dari sisi ini, bisa dikatakan ilmu kaidah fikih, lebih luas bahasannya dibanding ilmu fikih.

Tapi di sisi lain, ilmu fikih lebih luas bahasannya dibanding ilmu kaidah fikih. Mengapa? Karena banyak permasalahan yang dibahas di dalam ilmu fikih, tidak dibahas di dalam ilmu kaidah fikih, seperti: Syarat sholat, rukun sholat, sunat sholat, bagaimana cara meletakkan tangan ketika berdiri, bagaimana cara ruku’, sujud, duduk tasyahud,… dst, yang hal tersebut tidak dibahas dalam ilmu kaidah fikih. Karena inilah, bisa kita katakan, ilmu fikih lebih luas bahasannya dibanding ilmu kaidah fikih.

Bisa pula dikatakan bahwa, hubungan keduanya sangat erat dilihat dari sudut pandang lain, yakni: Hukum-hukum fikih itu awalnya muncul melalui ilmu ushul fikih, kemudian setelah berlalunya waktu, sangat banyak bermunculan hukum-hukum fikih baru, yang menjadikan seorang mujtahid sangat susah untuk menghapalnya. Keadaan itu memunculkan gagasan untuk merangkum hukum-hukum fikih tersebut dalam rumusan-rumusan yang singkat dan baku, yang bisa mencakup banyak hukum permasalahan-permasalahan yang ada. Rumusan-rumusan itulah yang kita istilahkan dengan kaidah fikih. Wallohu a’lam.

6. Pencetusnya: adalah Ad-dabbas seorang ulama klasik dari madzhab hanafi, karena beliaulah orang pertama kali diketahui mengumpulkan semua permasalahan fikih dalam madzhab hanafi hanya dalam 17 kaedah, meskipun beliau tidak membukukannya karena keadaannya yang buta.

7. Namanya adalah: ilmu qowaid fiqhiyyah, sering pula disebut ilmu al-asybah wan nadhoir, oleh karena itulah banyak ulama islam kelasik, yang menamai kitab kaidah fikihnya dengan nama: al-asybaah wan nadhoo’ir, sebutlah sebagai contoh: Imam As-subkiy, Imam al-Ala’iy, Imam As-suyuthy, Imam Ibnu Nujaim, dan masih banyak lagi.

8. Sumbernya adalah al-Qur’an, as-Sunnah dan Istiqro‘-nya para ulama (yakni: kesimpulan yang bersumber dari penelitian mereka, dalam melihat -minimal sebagian besar- nash nash syar’iey)

9. Hukum mempelajarinya fardhu kifayah, sebagaimana hukum mempelajari ilmu mushtholah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu tafsir dll.

10.  Bab-bab yang ada dalam ilmu kaidah fikih ini, berbeda-beda dari kitab yang satu dengan kitab lainnya, sesuai dengan metode penulisan kitab kaidah fikih tersebut.

Dalam disiplin ilmu kaidah fikih ini, kita dapati metode penyusunan kitab yang bervariasi. Ada yang penyusunan urutan kaidahnya berdasarkan urutan huruf abjad, dimulai dari kaidah yang berawalan huruf alif, kemudian kaidah yang berawalan huruf ba, ta, tsa, hingga huruf ya’.

Ada yang diurutkan berdasarkan penggolongannya, misalnya dimulai dari Kaidah yang disepakati oleh semua ulama, dilanjutkan kaidah yang menjadi perbedaan pendapat para ulama antar madzhab, dilanjutkan lagi kaidah yang menjadi perbedaan pendapata para ulama dalam madzhab.

Ada juga yang mengurutkannya, dimulai dari kaidah kubro (kaidah yang paling luas cakupannya), diteruskan dengan kaidah kulliyyah (yang luas cakupannya), diteruskan lagi dengan kaidah-kaidah yang merupakan cabang dari kaidah kubro dan kaidah kulliyyah.

Ada pula yang penyusunannya hanya terbatas dalam kaidah-kaidah tertentu, misalnya hanya membahas kaidah kubro saja, atau bahkan satu kaidah saja, misalnya kitab yang khusus membahas kaidah niat, atau kaidah ghoror, atau kaidah taisir….. dst.

Sebenarnya masih banyak lagi metode penyusunan kitab kaidah fikih ini, tapi metode yang banyak dipakai adalah metode yang kami sebutkan di atas, wallohu a’lam.

Demikian akhir tulisan ini, mudah-mudahan bisa membuka gerbang pengetahuan anda tentang disiplin ilmu kaidah fikih ini… mari kita tutup dengan do’a kaffarotul majlis, semoga kebaikan yang ada dikabulkan oleh-Nya, dan kesalahan yang terjadi mendapat ampunan dari-Nya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Komentar
  1. ahmad mengatakan:

    kami nanti kelanjutannya ustadz..semoga Allah memudahkan antum dan menjadikannya sebagai amal jariyah, insya Allah..amin

    ahmad

  2. Ibnu Shalih mengatakan:

    Ustadz, ana suka dengan penjelasan antum pada poin no 5 paragraf akhir. mau tanya, kitab terbaik tentang qawaidh fiqhiyah apa? penulisnya siapa? lalu apa alasan kitab tsb dianggap yang terbaik?

  3. Abu Ulum mengatakan:

    Bismillah, izin co-pas ya Ustadz pada sebagian artikel atau seluruhnya, semoga menjadi amal baik yang diterima Allah , aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s