bila AHMADIYAH bicara KESESATAN-nya…!

Posted: 14 Juni 2009 in Firoq
Tag:, , , , , , ,

tadhkirah160ab1Oleh: Abu Abdillah Addariny

Bismillahirrohmanirrohim… alhamdulillaahi robbis samaawaati warobbil ardhi warobbil ’arsyil karim… wash-sholaatu wassalaamu ala rosulihil kariim… wa’ala aalihii washohbihi wa man saaro alaa nahjihi ila yaumil adhiim…

Berikut ini kami paparkan bukti penodaan dan penjiplakan, yang dilakukan oleh Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad, terhadap Kitab Suci Umat Islam Alqur’an…

ayat-ayat ini tercantum dalam kitab suci Ahmadiyah tadzkiroh yang ditulis sendiri oleh Mirza Ghulam Ahmad. Ayat-ayat yang disusun dengan serampangan, dan kelihatan tak serasi, bahkan oleh mereka yang belum memahami grammer dalam bahasa arab sekalipun.

Semoga dengan melihat secara langsung bagaimana tindakan kriminal rohani dilakukan oleh Nabi Palsu itu, kita semua bisa mengambil pelajaran berharga darinya… Sehingga yang masih bingung bersikap, menjadi cepat sigap, dan bagi yang sudah mengambil sikap, menjadi makin mantap… amin.

Catatan penting:

  1. Untuk lebih meng-efisien-kan tulisan, selanjutnya: “Mirza Ghulam Ahmad” kami singkat “MGA
  2. Nomor yang tertera di bagian kiri, adalah berdasarkan nomor urut yang dibuat oleh LPPI. Tujuan kami tetap mencantumkannya, agar anda mudah dalam merujuk kembali ke naskah asli yang mengumpulkan ayat-ayat tersebut.
  3. Ayat yang dijiplak oleh MGA, kami cetak dengan huruf tebal. Tujuannya agar pembaca yang budiman dapat dengan mudah melihat letak perbedaan antara yang Asli dengan yang Imitasi.
  4. Kadang ayat redaksi hasil jiplakan MGA, sama persis dengan redaksi ayat suci Alqur’an, hanya saja MGA merubah arah sasaran ayat, menjadi tertuju kepada dirinya sendiri.
  5. Karena dalam penjiplakan ayat suci al-Quran,  si Nabi Palsu tersebut seringkali mengumpulkan beberapa ayat dalam satu tempat, maka penulis terpaksa harus memisahkan antara ayat tersebut, dalam kolom-kolom khusus, tujuannya agar para pembaca, dapat dengan mudah merujuk ke ayat aslinya di Dalam Sitab suci al-Quran.

Untuk selanjutnya kami persilahkan pembaca, melihat langsung, bagaimana parahnya penodaan terhadap ayat suci al-Quran itu… penulis yakin seandainya masyarakat muslim kita tahu, tentunya tidak mungkin ada yang masih membela, keberadaan Kaum Ahmadiyah di lingkungan sekitarnya….

N

o

Ayat Dalam Tadzkiroh

Ayat Suci Alqur’an Yang Dijiplak

1

&

16

يا أحمد، بارك الله فيك، وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى

Tadzkiroh Hal 43 dan 241:

Wahai Ahmad (MGA)! Alloh telah memberkahimu. Bukan engkau (MGA) yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi Alloh-lah yang melempar (mereka).

Surat al-Anfal, ayat: 17

Bukan engkau (Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi, Alloh-lah yang melempar (mereka).

2

ـ(79) يا أحمد, فاضت الرحمة على شفتيك (80) إِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (81) يرفع الله ذكرك وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ في الدنيا والآخرة.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَـإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Tadzkiroh, hal: 50

(79) Wahai Ahmad (MGA), Rahmat Alloh telah memenuhi kedua bibirmu. (80) Sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami. (81) Alloh mengangkat penyebutan (nama) mu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat.

Surat at-Thur, ayat: 48

Dan bersabarlah (Muhammad), untuk menunggu ketetapan tuhanmu! Karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan kami.

Surat al-Fath, ayat: 2 Agar Alloh memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu

4

ـ(1) قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ (2) إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ، وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (3) وقالوا أنى لكَ هذا (4) قل هو الله عجيب (5) يَجْتَبِي مَنْ يَشَاءُ من عباده (6) وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ، وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا، وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Tadzkiroh, hal: 62

(1) Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”(2) Sesungguhnya aku mengambilmu, dan mengangkat kamu kepada-Ku, serta menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat(3) Dan mereka berkata: “Dari mana engkau (MGA) memperoleh ini?” (4) Katakanlah: “(Itu dari) Dia, Alloh yang menakjubkan (5) Dia memilih siapa di antara hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (6) Dan masa-masa (kemenangan dan kekalahan) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).

Surat Ali Imron, ayat: 31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

Surat Ali Imron, ayat: 55

(Ingatlah), ketika Alloh berfirman, “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, dan menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, serta menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.

Surat Ali Imron, ayat: 37

Dia (Nabi Zakaria) berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau memperoleh ini?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Alloh”.

Surat Ali Imron, ayat: 179

Alloh tidak memperlihatkan kepadamu (Muhammad) hal-hal yang ghaib, tetapi Dia memilih siapa di antara rosul-rosul yang dikehendaki-Nya.

Surat Ali Imron, ayat: 140

Dan masa-masa (kemenangan dan kekalahan) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).

8

ـ(8) قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ (9) و اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

Tadzkiroh, hal. 81

(8) Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”(9) Dan ketahuilah bahwa Alloh-lah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering).

Surat Ali Imron, ayat: 31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

Surat al-Hadid, ayat: 17

Ketahuilah bahwa Alloh-lah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering).

15

ـ(18) قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ويرحم عليكم وهو أرحم الراحمين

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Tadzkiroh, hal. 224

(18) Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian, serta menyayangi kalian, dan Dia-lah Dzat yang paling maha penyayang di antara para penyayang.

Surat Ali Imron, ayat: 31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian, dan mengampuni dosa kalian”

Surat Yusuf, ayat: 92

Alloh mengampuni kalian, dan Dia-lah Dzat yang paling maha penyayang di antara para penyayang.

22

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Tadzkiroh, hal 277 dan 378

Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

Surat Ali Imron, ayat: 31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

30

قل عندي شهادة من الله, فهل أنتم مؤمنون. قل عندي شهادة من الله, فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ. وقُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Tadzkiroh, hal 360

Katakanlah, “Aku mempunyai kesaksian dari Alloh, maka maukah kalian beriman?. Katakanlah, “Aku mempunyai kesaksian dari Alloh, maka maukah kalian berserah diri (masuk Islam)?. Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian. Dan katakanlah (MGA)! “Wahai segenap manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh yang diutus kepada kalian semua”.

Surat Hud: 14 & surat al-Anbiya’: 108

Maka maukah kalian berserah diri (masuk Islam)?

Surat Ali Imron, ayat: 31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

Surat al-A’rof, ayat: 158

Katakanlah (Muhammad)! “Wahai segenap manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh yang diutus kepada kalian semua”.

46

ـ(10) قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ (11) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ (12) إني مهين من أراد إهانتك (13) وإني معين من أراد إعانتك

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

Tadzkiroh, hal. 495

(10) Katakanlah (MGA)! Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian (11) Sesungguhnya Kami memeliharamu, dari mereka yang mencaci-makimu (12) sesungguhnya aku akan menghinakan orang yang bermaksud menghinamu (13) dan sesungguhnya aku akan menolong orang yang bermaksud menolongmu

Surat Ali Imron, ayat:   31

Katakanlah (Muhammad)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”

Surat al-Hijr: 95

Sesungguhnya Kami memeliharamu, dari mereka yang mencaci-makimu

6

ـ(4) يا أحمد, اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ (5) نفخت فيك من لدني روح الصدق

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Tadzkiroh, hal. 72

(4) Wahai Ahmad (MGA), tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!(5) Aku tiupkan kepadamu Ruh Shidqi dari sisi-Ku

Surat al-Baqoroh:35 & al-A’rof:19

Wahai (Nabi) Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!

34

ـ(76) يَا أحمد اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ (77) يَا مريم اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ (78) تموت وأنا راض منك (79) فادْخُلُوا الجنة إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ (80) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا آمنين

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Tadzkiroh, hal. 368

(76) Wahai Ahmad (MGA), tinggallah kamu dan isterimu di surga ini! (77) Wahai maryam, tinggallah kamu dan suamimu di surga! (78) kamu akan mati dan aku ridho kepadamu (79) Masuklah kalian ke surga ini, dengan aman insyaAlloh (80) Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbagialah kalian! Dan masuklah kalian ke surga dengan aman”.

Surat al-Baqoroh: 35 & al-a’rof: 19

Wahai (Nabi) Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!

Surat Yusuf, ayat: 99

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul kedua orang tuanya, seraya mengatakan, “Masuklah kalian ke negeri mesir ini, dalam keadaan aman insyaAlloh.

Surat az-Zumar, ayat: 73

Dan orang-orang yang bertakwa kepada tuhannya, diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai di depannya dan pintu-pintunya telah dibukakan, para penjaganya mengatakan kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbagialah kalian! Dan masuklah kalian ke surga dengan kekal selamanya!”.

42

ـ(17) وأنت مني بمنزلة لا يعلمها الخلق (18) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (19) ياَ أحمد اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Tadzkiroh, hal. 396

(17) dan kamu di sini memiliki kedudukan yang tidak diketahui oleh makhluk (18) Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (19) Wahai Ahmad (MGA), tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!

Surat al-Anbiya’, ayat:107

Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam

Surat al-Baqoroh:35 dan al-A’rof: 19

Wahai (Nabi) Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!

54

ـ(96) ياَ أحمد اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ (97) نُصِرتَ وقالوا لَاتَ حِينَ مَنَاصٍ

ياَ آدم اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ

Tadzkiroh, hal. 628

(96) Wahai Ahmad (MGA), tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!(97) kamu telah ditolong, dan mereka mengatakan, “Bukanlah saatnya untuk lari melepaskan diri”

Surat al-Baqoroh:35 dan al-A’rof: 19

Wahai (Nabi) Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!

Surat Shod, ayat: 3

Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saatnya untuk lari melepaskan diri.

55

ـ(109) بشرى لك يا أحمدي (110) أنت مرادي ومعي (111) سرك سري (112) إني ناصرك (113) إنى حافظك (114) إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا (115) أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا (116) قل هو الله عجيب

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ

Tadzkiroh, hal. 629

(109) Wahai ahmad, namamu sempurna sedangkan namaku tidak sempurna (110) Kamu adalah tujuan-Ku dan bersama-Ku (111) Rahasiamu adalah rahasia-Ku juga (112) Sesungguhnya aku adalah penolongmu (113) Sesungguhnya aku adalah penjagamu (114) Sesungguhnya aku menjadikan engkau (MGA) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia (115) Patutkah manusia menjadi heran?! (116) Katakanlah, Dia-lah Alloh yang menakjubkan

Surat al-Baqoroh, ayat: 124

Dia (Alloh) berfirman, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau (Nabi Ibrohim) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia”.

Surat Yunus: 2

Patutkah manusia menjadi heran, bahwa kami memberi wahyu kepada salah seorang dari mereka.

7

ـ(1) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قريبا من القاديان (2) وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ (3) صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ (4) وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

Tadzkiroh, hal 76 dan 637

(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Tadzkiroh) di dekat Qodian(2) Dan Kami telah  menurunkan (Tadzkiroh) ini dengan sebenarnya, dan (Tadzkiroh) ini turun dengan membawa kebenaran.(3) Benarlah Alloh dan Rosul-Nya(4) Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

Surat al-Qodar, ayat: 1

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) di malam Lailatul Qodar

Surat al-Isro’, ayat: 105

Dan Kami telah menurunkan (Alquran) ini dengan sebenarnya, dan (al-Quran) itu turun dengan membawa kebenaran.

Surat al-Ahzab, ayat: 22

Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Alloh dan Rosul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.

Surat al-Ahzab, ayat: 37

Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

24

ـ(43) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قريبا من القاديان، وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ، وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

Tadzkiroh, hal. 278

(43) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Tadzkiroh) di dekat Qodian, Dan Kami telah  menurunkan (Tadzkiroh) ini dengan sebenarnya, dan (Tadzkiroh) ini turun dengan membawa kebenaran. Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

Surat al-Qodar, ayat: 1

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) di malam Lailatul Qodar

Surat al-Isro’, ayat: 105

Dan Kami telah menurunkan (Alquran) ini dengan sebenarnya, dan (al-Quran) itu turun dengan membawa kebenaran.

Surat al-Ahzab, ayat: 37

Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

35

ـ(94) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قريبا من القاديان (95) وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ (96) صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ (97) وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

Tadzkiroh, hal 76 dan 637

(94) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Tadzkiroh) di dekat Qodian(95) Dan Kami telah  menurunkan (Tadzkiroh) ini dengan sebenarnya, dan (Tadzkiroh) ini turun dengan membawa kebenaran.(96) Benarlah Alloh dan Rosul-Nya(97) Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

Surat al-Qodar, ayat: 1

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) di malam Lailatul Qodar

Surat al-Isro’, ayat: 105

Dan Kami telah menurunkan (Alquran) ini dengan sebenarnya, dan (al-Quran) itu turun dengan membawa kebenaran.

Surat al-Ahzab, ayat: 22

Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Alloh dan Rosul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.

Surat al-Ahzab, ayat: 37

Dan keputusan Alloh itu pasti terlaksana

49

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ للمسيح الموعود

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Tadzkiroh, hal. 509

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (tadzkiroh)  di malam lailatul qodar, sesungguhnya Kami menurunkannya untuk al-Masih yang ditunggu-tunggu

Surat al-Qodar, ayat: 1

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran)  di malam lailatul qodar

52

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ القدرِ إِنَّا كُنَّا مُنْزلين

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Tadzkiroh, hal. 564

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (tadzkiroh) di malam lailatul qodar, sesungguhnya Kami-lah yang menurunkannya.

Surat ad-Dukhon, ayat: 3

Sesungguhnya kami telah menurunkannya di malam yang diberkahi, sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan

12

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ أمرك, وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Tadzkiroh, hal. 122

Maka tidakkah mereka memperhatikan urusanmu?! Sekiranya urusan itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

Surat an-Nisa, ayat: 82

Maka tidakkah mereka memperhatikan al-Quran?! Sekiranya (al-Quran) itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

39

قل وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

وَ لَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Tadzkiroh, hal. 382

Katakanlah, Sekiranya itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

Surat an-Nisa, ayat: 82

Sekiranya (al-Quran) itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

21

إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا أيدنا عَبْدَنَا فَأْتُوا بكتاب مِنْ مِثْلِهِ

وَ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

Tadzkiroh, hal. 254

Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami kuatkan kepada hamba kami (MGA), maka buatlah satu kitab (saja) yang menyamainya.

Surat al-Baqoroh, ayat: 23

Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang menyamainya

50

إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نزّلنا على عَبْدِنَا فَأْتُوا بشِفاءٍ مِنْ مِثْلِهِ

وَ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

Tadzkiroh, hal. 254

Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami turunkan kepada hamba kami (MGA), maka buatlah satu obat (saja) yang menyamainya.

Surat al-Baqoroh, ayat: 23

Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang menyamainya

14

ـ(1) يا أحمد, بارك الله فيك (2) الرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ

ـ(1) الرَّحْمَنُ (2) عَلَّمَ الْقُرْآنَ

Tadzkiroh, Hal. 223

Wahai Ahmad (MGA), Alloh telah memberkahimu (2) (Alloh) yang maha pengasih, yang telah mengajarkan al-Quran.

Surat ar-Rohman, ayat: 1-2

(1) (Alloh) yang maha pengasih (2) yang telah mengajarkan al-Quran

31

ـ(1) يا أحمد, بارك الله فيك (2) الرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ، لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ، وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (3) قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ المؤمنين (4) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

ـ(1) الرَّحْمَنُ (2) عَلَّمَ الْقُرْآنَ

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

(قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ)

(وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

Tadzkiroh, hal. 363 dan 620

(1) Wahai Ahmad, Alloh telah memberkahimu (2) (Alloh) yang maha pengasih, yang telah mengajarkan al-Quran, agar engkau (MGA) memberi peringatan kepada kaum, yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan dan agar terlihat jelas jalan orang-orang yang berdosa (3) Katakanlah (MGA)! “Sesunggunya aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama-tama mukmin (beriman) (4) Dia-lah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar ia bisa memenangkannya di atas semua agama.

Surat ar-Rohman, ayat: 1-2

(1) (Alloh) yang maha pengasih (2) yang telah mengajarkan Alqur’an

Surat yasin, ayat: 6

Agar engkau (Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum, yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai

Surat al-An’am, ayat: 55

Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat al-Quran agar terlihat jelas jalan orang-orang yang berdosa.

Surat al-An’am, ayat: 14

Katakanlah (Muhammad)! sesungguhnya aku diperintah agar menjadi orang yang pertama-tama muslim (berserah diri kepada Alloh).

Surat al-An’am: 163

Dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama muslim (berserah diri kepada Alloh).

Surat at-Taubah: 33 & ash-Shof: 9

Dia-lah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar ia bisa memenangkannya di atas semua agama.

37

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقّ وتهذيب الأخلاق

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

Tadzkiroh, hal. 375

Dia-lah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, serta untuk mendidik akhlak.

at-Taubah:33, al-Fath:28 & as-shof:9

Dia-lah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar ia bisa memenangkannya di atas semua agama.

25

ـ(61) بشرى لك يا أحمدي،  أنت مرادي ومعي (62) إني ناصرك, إني حافظك, إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Tadzkiroh, hal. 279

(61) Kabar gembira bagimu wahai ahmad-Ku, engkau adalah tujuan-Ku dan bersama-Ku (62) Sesungguhnya aku adalah penolongmu. Sesungguhnya Aku adalah penjagamu. Sesungguhnya aku menjadikan engkau (MGA) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.

Surat al-Baqoroh, ayat: 124

Dia (Alloh) berfirman, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau (Nabi Ibrohim) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia”.

33

ـ(52) يا أحمد، يتم اسمك ولا يتم اسمي (53) بوركت يا أحمد! وكان ما بارك الله فيك حقا فيك (54) شأنك عجيب وأجرك قريب (55) إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا (56) أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ

Tadzkiroh, hal. 366

(52) Wahai Ahmad, namamu sempurna sedangkan namaku tidak sempurna (53) Wahai Ahmad, kamu telah diberkahi, dan berkah yang Alloh berikan kepadamu telah menjadi hak kamu (54) Urusanmu menakjubkan dan pahalamu dekat (55) Sesungguhnya aku menjadikan engkau (MGA) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. (56) Patutkah manusia menjadi heran (karenanya)?!

Surat al-Baqoroh, ayat: 124

Dia (Alloh) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau (Nabi Ibrohim) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia”.

Surat Yunus, ayat: 2

Patutkah manusia menjadi heran, karena kami memberi wahyu kepada salah seorang dari mereka.

29

إِنَّا أَرْسَلْنَا أحمد إِلَى قَوْمِهِ فأعرضوا وقالوا كَذَّابٌ أَشِرٌ

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

Tadzkiroh, hal. 353, 358 dan 403

Sesungguhnya kami telah mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling, dan mengatakan: “(MGA) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!

Surat Nuh, ayat: 1

Sesungguhnya kami telah mengutus (Nabi) Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datangnya adzab yang pedih”

Surat al-Qomar, ayat: 25

(Kaum Tsamud berkata:) “Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya (Nabi Sholih yang hidup) di tengah-tengah kita?! Pastilah dia (Nabi Sholih) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!”

40

إِنَّا أَرْسَلْنَا أحمد إِلَى قَوْمِهِ، فأعرضوا وقالوا كَذَّابٌ أَشِرٌ ، وجعلوا يشهدون عليه ويسيلون كـمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِـمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

Tadzkiroh, hal. 385

Sesungguhnya kami telah mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling, dan mengatakan: “(MGA) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!” Kemudian mereka bersaksi atasnya dan mengalir seperti air yang tercurah

Surat Nuh, ayat: 1

Sesungguhnya kami telah mengutus (Nabi) Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datangnya adzab yang pedih”

Surat al-Qomar, ayat: 25

(Kaum Tsamud berkata:) “Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya (Nabi Sholih yang hidup) di tengah-tengah kita?! Pastilah dia (Nabi Sholih) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!”

Surat al-Qomar, ayat:11

Lalu kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah.

43

إِنَّا أَرْسَلْنَا أحمد إِلَى قَوْمِهِ، فأعرضوا وقالوا كَذَّابٌ أَشِرٌ، وجعلوا يشهدون عليه ويسيلون كـمَاءٍ مُنْهَمِرٍ, إن حبي قريب مستتر, يأتيك نصرتي, إني أنا الرحمن

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِـمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

Tadzkiroh, hal. 403

Sesungguhnya kami telah mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling, dan mengatakan: “(MGA) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!” Kemudian mereka bersaksi atasnya dan mengalir seperti air yang tercurah. Sesungguhnya kekasih-Ku amat dekat dan tersembunyi, akan datang kepadamu pertolongan-Ku. Sesungguhnya Aku adalah yang maha pengasih.

Surat Nuh, ayat: 1

Sesungguhnya kami telah mengutus (Nabi) Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datangnya adzab yang pedih”

Surat al-Qomar, ayat: 25

(Kaum Tsamud berkata:) “Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya (Nabi Sholih yang hidup) di tengah-tengah kita?! Pastilah dia (Nabi Sholih) itu seorang yang amat pendusta lagi sombong!”

Surat al-Qomar, ayat:11

Lalu kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah.

23

ـ(19) يا أحمد، يتم اسمك ولا يتم اسمي (20) إِنِّي رَافِعُكَ إِلَيَّ (21) أَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي (22) شأنك عجيب وأجرك قريب

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي

Tadzkiroh, hal. 277

(19) Wahai ahmad, namamu sempurna sedangkan namaku tidak sempurna (20) Sesungguhnya Aku mengangkatmu ke sisi-Ku (21) Aku telah melimpahkan kepada engkau (MGA) kasih sayang yang datang dari-Ku (22) Urusanmu menakjubkan dan pahalamu dekat.

Surat Ali Imron, ayat: 55

Ingatlah ketika Alloh berfirman: “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu (dari bumi) dan mengangkatmu ke sisi-Ku

Surat Thoha, ayat: 39

Aku telah melimpahkan kepada engkau (Nabi Musa) kasih sayang yang datang dari-Ku

32

ـ(46) يا أحمد, فاضت الرحمة على شفتيك (47) إِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (48) يرفع الله ذكرك وَيُتِمّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ في الدنيا والآخرة.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَـإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Tadzkiroh, hal. 366

(46) Wahai Ahmad (MGA), Rahmat Alloh telah memenuhi kedua bibirmu. (47) Sesungguhnya engkau (MGA) berada dalam pengawasan Kami. (48) Alloh mengangkat penyebutan (nama)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu (MGA) di dunia dan di akhirat.

Surat at-Thur, ayat: 48

Dan bersabarlah (Muhammad), untuk menunggu ketetapan tuhanmu! Karena sesungguhnya engkau (Muhammad) berada dalam pengawasan Kami.

Surat al-Fath, ayat: 2

Agar Alloh memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu (Muhammad)

36

ـ(129) قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Tadzkiroh, hal. 372

(129) Katakanlah (MGA), “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya sesembahan kalian adalah sesembahan yang maha esa.”

Surat al-Kahfi: 110 & Fus-shilat: 6

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya sesembahan kalian adalah sesembahan yang maha esa.”

38

ـ(64) وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا (65) الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ، يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا

إنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ، يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Tadzkiroh, hal. 379 (64)

Dan buatlah (wahai MGA)bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami (65) Orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (MGA), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh, Tangan Alloh di atas tangan mereka.

Surat Hud, ayat: 37

Dan buatlah (wahai Nabi Nuh) bahtera itu, dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami

Surat al-Fath, ayat: 10

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh, Tangan Alloh di atas tangan mereka.

47

ـ(22) قل عندي شهادة من الله, فَهَلْ أَنْتُمْ تؤمنون (23) أنت وجيه في حضرتي اخترتك لنفسي (24) إذا غضبتَ غضبتُ وكلما أحببتَ أحببتُ (25) يحمدك الله من عرشه (26) يحمدك الله ويمشي إليك (27) أنت مني بمنزلة لا يعلمها الخلق (28) أنت مني بمنزلة توحيدي وتفريدي (29) أنت من ماءنا وهم من فشل (30) الحمد لله الذي جعلك المسيح ابن مريم (31) وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَعْلَمُ

فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

Tadzkiroh, hal. 495-496

(22) Katakan (wahai MGA), aku mempunyai kesaksian dari Alloh, maka maukah kalian menyakininya (beriman kepadanya)? (23) Kamu memiliki kedudukan yang mulia di hadapan-Ku, aku memilih kamu untuk diri-Ku (24) Apabila kamu marah maka Aku pun marah, dan setiap kali kamu menyayangi (seseorang), maka Aku-pun menyayangi (dia) (25) Alloh memujimu dari Arasy-Nya (26) Alloh memujimu dan berjalan ke arahmu (27) Kamu di sisi-Ku memiliki kedudukan yang tidak diketahui oleh makhluk (28) Kamu di hadapan-Ku memiliki kedudukan tauhid-Ku dan ke-esaan-Ku (29) Kamu berasal dari air kami, sedangkan mereka dari sesuatu yang gagal (30) Segala puji bagi Alloh yang telah menjadikanmu al-Masih putra Maryam (31) Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau (MGA) ketahui.

Surat Hud: 14 & al-Anbiya’: 108

Maka maukah kalian berserah diri (masuk Islam)

Surat an-Nisa’, ayat: 113

Dan Alloh telah menurunkan Aqur’an dan hikmah (sunnah) kepadamu, dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau (Muhammad) ketahui.

51

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

Tadzkiroh, hal. 595

Inilah ayat-ayat kitab (tadzkiroh) yang jelas (makna dan lafalnya)

Yusuf:1, asy-Syu’aro’:2 & al-Qoshos:2

Inilah ayat-ayat kitab (al-Quran) yang jelas (makna dan lafalnya)

56

حم تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ

(حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ)

(تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ)

Tadzkiroh, hal 709

Haa miim, inilah ayat-ayat kitab (tadzkiroh) yang jelas (makna dan lafalnya).

az-Zuhruf:1-2 & ad-Dukhon:1-2

Haa miim, demi kitab (al-Qur’an) yang jelas (makna dan lafalnya)

Surat Yusuf: 1, Syu’aro’:2 & al-Qoshoh:2

Inilah ayat-ayat kitab (al-Quran) yang jelas (makna dan lafalnya)

9

ـ(27) وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (28) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tadzkiroh hal. 83

(27) Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (MGA) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat, Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku (28) Dan tidaklah aku mengutusmu (MGA), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam

Surat al-Baqoroh, ayat: 186

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku

Surat al-Anbiya’, ayat: 107

Dan tidaklah aku mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam

10

ـ(57) مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ (58) رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Tadzkiroh hal. 97

(57) Muhammad (MGA) itu adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka. (58) Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Alloh.

Surat al-Fath, ayat: 29

Muhammad (bin Abdulloh) adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka.

Surat an-Nur, ayat: 37

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Alloh.

11

ـ(63) يا أحمد, فاضت الرحمة على شفتيك (64) إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (65) وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (66) أنت معي وأنا معك (67) سرك سري (68) وَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ، الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ، وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (69) إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (70) وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

ـ(1) إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (2) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

ـ(2) وَ وَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (3) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (4) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

Tadzkiroh, hal. 98

(63) Wahai Ahmad, rahmat (Alloh) telah memenuhi kedua bibirmu (64) Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu (MGA) nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berkorbanlah! (65) Dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku (66) Engkau bersama-Ku dan Aku bersamamu (67) Rahasiamu adalah rahasiaku juga (68) Kami telah menghilangkan beban darimu (MGA) yang memberatkan punggungmu, dan kami pun telah meninggikan bagimu (MGA) sebutan (nama) mu (69) Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus (70) Sebagai orang terkemuka di dunia dan di akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh)

Surat al-Kautsar, ayat: 1-2

(1) Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (2) Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu, dan berkurbanlah!

Surat Thoha, ayat: 14

Dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku

Surat al-Insyiroh ayat 2-4

(2)Dan Kami telah menghilangkan beban darimu (Muhammad) (3) yang memberatkan punggungmu (4) dan kami pun telah meninggikan bagimu (Muhammad) sebutan (nama)mu

Surat az-Zuhruf, ayat: 43

Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus

Surat Ali Imron, ayat: 45

(Ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Alloh menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra),  namanya al-Masih Isa putra Maryam, sebagai seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh)

20

ـ(70) فبشرى لك في النكاح (71) الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (72) إنا زَوَّجْنَاكَهَا, لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا

وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ

Tadzkiroh, hal. 248

(70) Maka kabar gembira bagimu atas pernikahan (mu) (71) Kebenaran itu dari tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (MGA) termasuk orang-orang yang ragu (72) Sesungguhnya kami yang menikahkan kamu dengan dia, tak ada seorang pun yang dapat merubah ketetapan-ketetapan Alloh.

Surat al-Baqoroh, ayat: 147

Kebenaran itu dari tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.

Surat al-Ahzab, ayat: 37

Maka ketika Zaid telah (menceraikannya), kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab)

Surat al-An’am, ayat: 34

Dan tak ada seorang pun yang dapat merubah ketetapan-ketetapan Alloh.

.

.

AYAT YANG DIJIPLAK DARI HADITS NABI –shollallohua alaihi wasallam-:

3

ـ(86) يا أحمد، يتم إسمك ولا يتم إسمي (87) كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Tadzkiroh, hal: 51

(86) Wahai Ahmad, namamu sempurna, sedang nama-Ku tidak sempurna. (87) Hiduplah kamu (MGA) di dunia ini, seolah-olah kamu orang asing atau seperti orang yang sedang dalam perjalanan!

Hadits Riwayat Bukhori no. 6416

Hiduplah kamu (Ibnu Umar) di dunia ini, seolah-olah kamu orang asing atau seperti orang yang sedang dalam perjalanan!

.

.

AYAT-AYAT YANG tidak menjiplak dari al-Quran, tapi ISI KANDUNGANYA BERPOTENSI me-MURTAD-kan orang yang meyakininya… (perhatikan dengan seksama huruf yang sengaja kami cetak tebal…)

1

وخاطبني ربي, وقال: يا أحمد, بارك الله فيك

Tadzkiroh hal. 43

Dan tuhanku berbicara langsung kepadaku, Ia berkata: “Wahai Ahmad, Alloh telah memberkahimu.

5

بوركت يا أحمد! وكان ما بارك الله فيك حقا فيك

Tadzkiroh hal. 66

Kamu telah diberkahi wahai Ahmad (MGA), dan berkah yang Alloh berikan kepadamu adalah menjadi hakmu

9

ـ(23) بشرى لك يا أحمدي (24) أنت مرادي ومعي (25) غرست كرامتك بيدي

Tadzkiroh, hal. 83

(23) Kabar gembira bagimu wahai Ahmad-Ku! (24) Engkau adalah tujuanku dan bersamaku (25) Aku menyematkan kemulianmu dengan tangan-Ku sendiri

13

اعلم أن زوجة أحمد وأقاربها كانوا من عشيرتي

Tadzkiroh, hal. 138

Ketahuilah, bahwa isteri ahmad (MGA) dan kerabat-kerabat dekatnya itu adalah termasuk keluarga-Ku juga.

15

ـ(15) يا أحمدي, أنت مرادي ومعي (16) أنت وجيه في حضرتي (17) اخترتك لنفسي

Tadzkiroh, hal. 224

(15) Wahai ahmad-Ku, kamu adalah tujuan-Ku dan bersamaku (16) Kamu memiliki kedudukan yang mulia di sisi-Ku (17) Aku memilihmu untuk diri-Ku

17

ـ(18) بشرى لك يا أحمدي،  أنت مرادي ومعي، غرست كرامتك بيدي

Tadzkiroh, hal. 242

(18) Kabar gembira bagimu wahai Ahmad-Ku! Engkau adalah tujuanku dan bersamaku, Aku menyematkan kemulianmu dengan tangan-Ku sendiri

18

ـ(41) يحمدك الله من عرشه, نحمدك ونصلي (42) يا أحمد! يتم اسمك ولا يتم اسمي

Tadzkiroh, hal 245

(41) Alloh memujimu dari Arsy-Nya, Kami memujimu dan bersholawat (untukmu) (42) Wahai Ahmad (MGA), namamu sempurna, sedang nama-Ku tidak sempurna

19

ـ(52) بوركت يا أحمد، وكان ما بارك الله فيك حقا فيك (53) أنت وجيه في حضرتي, اخترتك لنفسي, وأنت مني بمنزلة لا يعلمها الخلق

Tadzkiroh, hal 246

(52) Kamu telah diberkahi wahai ahmad, dan berkah yang Alloh berikan kepadamu telah menjadi hak kamu (53) Kamu memiliki kedudukan yang mulia di hadapan-Ku, Aku memilihmu untuk diri-Ku, dan kamu di sisi-Ku memiliki kedudukan yang tidak diketahui oleh makhluk.

23

ـ(23) الأرض والسماء معك كما هو معي (24) أنت وجيه في حضرتي اخترتك لنفسي (25) أنت وجيه في الدنيا وحضرتي (26) سبحانك الله تبارك وتعالى, زاد مجدك, ينقطع آباءك ويبدء منك

Tadzkiroh hal. 277

(23) Bumi dan langit bersamamu sebagaimana dia bersamaku (24) Kamu berkedudukan mulia di hadapan-Ku, aku memilihmu untuk diri-Ku (25) Kamu berkedudukan mulia di dunia dan hadapan-Ku (26) Maha suci Alloh yang maha berkah dan maha tinggi, kemuliaanmu bertambah, (garis keturunan dari) nenek moyangmu terputus dan dimulai (lagi) darimu.

26

يا أحمد, أنت مرادي ومعي, يحمدك الله من عرشه

Tadzkiroh, hal. 293

Wahai Ahmad-Ku, engkau adalah tujuan-Ku dan bersama-Ku, Alloh memujimu dari Arasy-Nya.

27

يا أحمد أجيب كل دعائك إلا في شركائك

Tadzkiroh, hal. 294

Wahai Ahmad, aku akan mengabulkan setiap permohonan dalam doamu, kecuali dalam hal persekutuan-persekutuanmu

28

يا احمد, فاضت الرحمة على شفتيك

Tadzkiroh, hal. 322

Wahai Ahmad, Rahmat Alloh telah memenuhi kedua bibirmu.

32

ـ(49) يا أحمدي،  أنت مرادي ومعي (50) غرست كرامتك بيدي

Tadzkiroh, hal. 366

(49) Kabar gembira bagimu wahai Ahmad-Ku! Engkau adalah tujuanku dan bersamaku (50) Aku menyematkan kemulianmu dengan tangan-Ku sendiri

41

ـ(1) بشرى لك أحمدي, أنت مرادي ومعي (2) غرست لك قدرتي بيدي (3) سرك سري (4) أنت وجيه في حضرتي (5) اخترتك لنفسي (6) أنت مني بمنزلة توحيدي وتفريدي, فحان أن تعان وتعرف بين الناس (7) يا أحمد, فاضت الرحمة على شفتيك بوركت يا أحمد, وكان ما بارك الله فيك حقا فيك

Tadzkiroh, hal 394-395

(1) Kabar gembira bagimu wahai ahmad-Ku, kamu adalah tujuan-Ku dan bersama-Ku (2) Aku menyematkan kekuasaan-Ku kepadamu dengan tangan-Ku sendiri (3) Rahasiamu adalah rahasia-Ku (pula) (4) Kamu memiliki kedudukan mulia di hadapan-Ku (5) Aku memilihmu untuk diri-Ku (6) KAMU DI SISI-KU MEMILIKI KEDUDUKAN TAUHID-KU DAN KEESAAN-KU, maka datanglah saatmu untuk ditolong dan dikenal di kalangan manusia (7) Wahai Ahmad, Rahmat (Alloh) telah memenuhi kedua bibirmu (8) Wahai Ahmad, kamu telah diberkahi, dan berkah yang telah Alloh berikan kepadamu menjadi hakmu.

44

ـ(17) أنت مني بمنزلة أولادي (18) أنت مني وأنا منك

Tadzkiroh, hal. 436

(17) Kamu di sisi-Ku memiliki kedudukan seperti anak-anak-Ku (18) Kamu berasal dari-Ku dan Aku berasal darimu.

45

يا أحمد, جعلت مرسلا

Tadzkiroh, hal. 493

Wahai ahmad (MGA), kamu telah dijadikan sebagai seorang Rosul

48

ـ(42) يا أحمدي, أنت مرادي ومعي (43) سرك سري (44) شانك عجيب وأجرك قريب (45) إني أنرتك واخترتك

Tadzkiroh, hal. 496

(42) Wahai ahmad-Ku, kamu adalah tujuan-Ku dan bersama-Ku (43) Rahasiamu adalah rahasia-Ku (pula) (44)  Urusanmu menakjubkan dan pahalamu dekat (45) sesungguhnya aku menerangimu dan memilihmu.

53

ـ(9) يا أحمدي, أنت مرادي ومعي (10) أنت مني بمنزلة توحيدي وتفريدي (11) وأنت مني بمنزلة لا يعلمها الخلق (12) وأنت وجيه في حضرتي (13) اخترتك لنفسي (14) إذا غضبت غضبت وكلما أحببت أحببت (15) أثرك الله على كل شيء (16) الحمد لله الذي جعلك المسيح بن مريم

Tadzkiroh, hal. 569

(9) Wahai ahmad-ku, kamu adalah tujuan-ku dan bersama-ku (10) KAMU DI SISI-KU MEMILIKI KEDUDUKAN TAUHID-KU DAN KEESAAN-KU (11) Kamu di sisiku memiliki kedudukan yang tidak diketahui oleh makhluk (12) Dan kamu memiliki kedudukan yang mulia di hadapan-ku (13) Aku memilihmu untuk diri-Ku (14) Apabila kamu marah, maka aku pun marah. dan setiap kali kamu menyayangi (seseorang), maka Aku pun menyayangi (dia) (15) Alloh telah melebihkan kamu di atas segala sesuatu (16) Segala puji bagi Alloh yang telah menjadikanmu al-Masih, putera Maryam.

53

ـ(5) أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (6) أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (7) أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (8) بورك من معك ومن حولك

Tadzkiroh, hal. 749

(5) Kamu adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KUFUR (mengingkarimu) (6) Kamu adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KUFUR (mengingkarimu) (7) Kamu adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KUFUR (mengingkarimu) (8) diberkahi orang yang bersamamu dan orang yang di sekitarmu

.

Untuk sementara, artikel ini penulis cukupkan sekian dulu… Semoga di waktu mendatang, kami bisa meneruskannya dengan artikel lain,  yang berhubungan erat dengan masalah ini…amin.

Sumbangsih dari pembaca, sangat kami harapkan… baik berupa saran, usulan ataupun sanggahan yang membangun… paling tidak sumbangsih tersebut menjadi suntikan semangat bagi kami, untuk bisa terus menulis, berkarya, sekaligus beramal…

Bukan maksud penulis untuk menyakiti orang lain yang pikirannya tidak sealur dengan tulisan ini… Tapi artikel ini bagi penulis, ibarat Vitamin… Ia akan menjadi OBAT bagi mereka yang menderita sakit…Ia juga menjadi PENGUAT DAYA TAHAN TUBUH bagi mereka yang sehat… Kurang lebihnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya…

Bagi yang ingin merujuk ke naskah asli LPPI yang mengumpulkan Ayat-ayat Tadzkiroh yang kami cantumkan di atas, silahkan men-download-nya melalui link berikut:

http://www.mediafire.com/download.php?in2f5gemyzj

Akhir kata, kami tutup tulisan ini, dengan doa kaffarotul majlis, “ Subhaanakalloohumma wa bihamdik, Asyhadu allaa ilaaha illaa anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaiik….” Wassalam…

Selesai di Madinah, Senin 15 Juni 2009

Komentar
  1. Rahmat Kedai mengatakan:

    -_-”
    Ahmadiyah benar2 penjiplak yang baik ya :lol:
    SESAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Saya pernah debat soal ini di kampus, dan saya dukung 100% pembasmian AHMADIYAH!!!Ahmadiyah membuat hukum menjadi abu2 dan ini lebih sulit dibedakan daripada HITAM!!!
    Bagus pak ^^b

    Kedai

    • addariny mengatakan:

      Mas Rahmat Kedai… terima kasih atas kunjungan, dukungannya… semoga amal anda (berdebat masalah ahmadiyah) mendapat pahala yang besar dari Sang Penjaga Kitab-Nya…
      Syukron banget atas komennya…

    • mazgie mengatakan:

      mudah2an anda dibukakan hatinya oleh ALLOH untuk bs melihat yg benar,hati anda sudah betul2 mengeras laksana batu kali..
      sesungguhnya hanya ALLOH lah yg Maha Mengetahui.
      jangan nodai hati dgn rasa kebencian dan iri hati.LOVE for ALL hatred for none

    • addariny mengatakan:

      Jawaban untuk Mas Mazgie…
      Amin… semoga Alloh juga membukakan hati anda untuk menerima kebenaran Alqur’an, yang diantara ayatnya adalah ”Bukanlah Muhammad (bin Abdulloh) itu ayah dari seseorang diantara kalian, tetapi dia adalah utusan Alloh dan penutup para Nabi”.
      Semoga Alloh juga membuka hati anda untuk menerima perkataan para ulama Islam, bahwa barangsiapa telah mengaku sebagai sebagai nabi, sepeninggal Nabi Muhammad bin Abdulloh -shollallohu alaihi wasallam- maka ia telah murtad, begitu pula orang yang membenarkan pengakuannya…. amin.
      Kami mencintai setiap kebenaran, kebaikan, dan jalan yang lurus… sebaliknya kami membenci setiap penyelewengan, kejahatan dan jalan yang sesat…
      Sesungguhnya orang yang ingin mencintai semuanya tanpa terkecuali adalah orang yang sedang bermimpi….
      Apakah kita mencintai orang yang menodai kehormatan ibu kita atau adik kita atau orang yang kita kasihi…??? tentunya tidak…. begitu pula kita tidak akan cinta kepada orang yang mendustakan Alquran dan Assunnah… Meskipun begitu kita tetap mendakwahinya dan mengharapkannya mau kembali ke jalan yang benar…
      Mohon maaf, jika ada kata-kata kami yang kurang berkenan… kami tidak mengharapkan kecuali hanya kebaikan untuk anda… wassalam

    • Putra Rafflesia mengatakan:

      Menanggapai ayat yag ada pergunakan di atas Firman Allah Ta’ala: “Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari antara kaum laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasulullah dan Khaataman Nabiyyiin [Meterai sekalian nabi)
      Bagaimana sesungguhnya hubungan antara khaataman-nabiyyiin
      dengan kalimat “Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu? Perlu diperhatikan adanya kata laakin (melainkan) yang disisipkan sebelum kata rasulullah dan khaataman-nabiyyiin. Kata melainkan biasanya digunakan untuk menghilangkan keraguan. Setiap orang Islam jika membaca kalimat pertama tersebut juga timbul pertanyaan dan keraguan mengapa Muhammad bukan bapak dari seorang laki-laki di antara kamu? Firman Allah dalam Surah al-Kautsar ayat 4 menyatakan: “Sesungguhnya, musuh engkaulah yang akan tanpa keturunan.”

      Peristiwa wafatnya Ibrahim tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, Rasulullah s.a.w. menshalatinya dan bersabda, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” (H. R. Ibnu Majah). Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 9 Hijriah, sedangkan ayat khaataman-nabiyyiin diwahyukan pada tahun 5 Hijriah. Jadi, beliau s.a.w. mengucapkan kata-kata tersebut 4 tahun setelah menerima wahyu ayat khaataman-nabiyyiin. Jika ayat khaataman-nabiyyiin diartikan sebagai penutup atau kesudahan atau penghabisan atau akhir nabi-nabi, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia (Ibrahim) tidak akan menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi amat jelas bahwa Nabi s.a.w. yang menerima wahyu, dan paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau s.a.w. tidak mengungkapkan pengertian khaatam sebagai penutup atau terakhir.

    • addariny mengatakan:

      Naudzubillah min haadzihidh dholaalah…

      Hal pertama yang menjadi sorotan kami adalah: kesembronoan anda menerjemahkan ayat, sesuka anda sendiri, agar sesuai dengan keyakinan anda… masa redaksi “khaatamun nabiyyin” anda maknai “meterai kenabian”..??!!! Apakah Anda lebih pintar dari Para Ulama Ahli Tafsir zaman dahulu???!! Seharusnya Anda malu menyebutkan penafsiran yang menyelisihi seluruh Ahli Tafsir ternama dalam dunia Islam…

      Kami yakin anda bukan orang yang bodoh, cobalah lebih jujur… Rujuklah tafsir-tafsir ulama islam, jika memang anda seorang muslim… Tafsir Thobariy, Tafsir Baghowi, Tafsir ibnu katsir dan puluhan kitab tafsir umat islam lainnya!!! Sungguh tidak ada yang menafsirkan seperti penafsiran anda… mereka semua sepakat bahwa makna “khaatamun nabiyyin” adalah “penutup kenabian”.

      Ahli tafsir ternama Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat ini:

      فهذه الآية نص في أنه لا نبي بعده، وإذا كان لا نبي بعده فلا رسول بعده بطريق الأولى والأحرى؛ لأن مقام الرسالة أخص من مقام النبوة، فإن كل رسول نبي، ولا ينعكس. وبذلك وردت الأحاديث المتواترة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من حديث جماعة من الصحابة.

      Artinya: “Ayat ini adalah nash (dalil yang nyata) bahwa tiada nabi setelah beliau (muhammad shollallohu alaihi wasallam), dan jika nabi setelahnya saja tidak ada, apalagi rosul setelahnya (tentunya lebih tidak memungkinkan adanya), karena kedudukan seorang rosul itu lebih istimewa dibanding kedudukan seorang nabi. Makanya dikatakan bahwa setiap rosul adalah nabi, tidak sebaliknya.
      Dan yang demikian itu (tidak adanya kenabian setelah Muhammad shollallohu alaihi wasallam), telah diterangkan dalam banyak hadits, yang telah mencapai derajat mutawatir, hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh sekelompok besar sahabat dari Rosululloh shollallohu alaihi wasallam”. (Lihat tafsir Ibnu Katsir 6/428)

      Sedangkan ayat kedua anda terjemahkan dengan makna yang sangat dan sangat sempit sekali… anda menerjemahkan redaksi al-Abtar dengan terjemahan anda “orang yang tanpa keturunan” padahal makna sebenarnya al-Abtar adalah “orang yang hina dina, dan terputus nama baiknya (tidak dikenang oleh orang yang hidup setelahnya)” silahkan merujuk ke Tafsir Ibnu Katsir 8/504.

      Penggunaan hadits tersebut sebagai dalil, menunjukkan kurangnya ilmu anda dalam hal hadits… Tidakkah anda mengerti bahwa hadits tersebut sangat lemah sekali sanadnya… Lihatlah bagaimana para ulama menghukumi kelemahan hadits anda itu… sebagai contoh saja, lihatlah perkataan Imam Nawawi, dalam kitabnya at-tahdzib 1/103 berikut ini:

      هذا الحديث باطل وجسارة على الكلام بالمغيبات ومجازفة وهجوم على عظيم

      Artinya: “Hadits ini adalah batil (sangat lemah sekali), sangat sembrono dalam mengungkap hal gaib, ngawur dan semena-mena dalam perkara yang sangat berbahaya”.

      Dan masih banyak sekali pernyataan senada dari ulama-ulama islam lainnya. Di satu sisi anda mengambil hadits yang sangat lemah ini, karena mendukung keyakinan anda, tapi di sisi lain anda meninggalkan hadits yang jelas-jelas shohih yang merupakan tafsiran dari ayat suci Alquran yang kita bahas sekarang. Hadits tersebut berbunyi:

      كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

      Yang memimpin kaum Bani Isroil zaman dahulu adalah para nabi, setiap satu nabi wafat akan datang nabi setelahnya. (adapun sekarang) SESUNGGUHNYA TIDAK AKAN ADA LAGI NABI SETELAHKU. (HR. Bukhori no: 3455 dan HR. Muslim, no: 1842)

      Karena Hadits anda sangat lemah sekali, maka itu tidak bisa dijadikan sandaran hukum untuk melegalkan adanya nabi baru, jika memang anda dalam kebenaran, seharusnya anda punya banyak hadits yang shohih yang bisa anda jadikan sebagai dalil… bukan malah mengais satu hadits yang sudah terbukti sangat lemah sekali…

      Sekali lagi kami mohon atas kata-kata yang kurang berkenan, tujuan kami hanya ingin menggugah kesadaran anda, sehingga tidak terus terbius oleh Ajaran Ahmadiyyah, padahal sudah jelas sangat menyeleweng dari Ajaran Islam yang suci dan damai…

      Jika memang anda orang yang obyektif dalam berdiskusi… maka lihatlah dalil-dalil ini… dan kembalilah ke jalan yang benar… semoga Alloh merahmati anda… sungguh kami tidak mengharapkan, kecuali kebaikan untuk anda…

    • Putra Rafflesia mengatakan:

      Berikut ini literatur-literatur terkenal dalam dunia Islam yang telah mengungkapkan penggunaan kata khaatam dengan arti yang menunjukkan suatu derajat (rank) kemuliaan, keunggulan,keutamaan, kesempurnaan, atau derajat lainnya, sebagai berikut:
      1. Hadhrat Ali r.a. adalah “khaatam-ul-auliya” (Tafsir Saafi, pada Surah al-Ahzab). Apakah setelah Hz. Ali r.a. wafat tidak ada auliya (wali) lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir wali-wali Allah yang termashur dalam dunia Islam.
      2. Imam Syafi’i r.h. (767-820) juga disebut “khaatam-ul-uliya” (AlTuhfatus-Sunniyya, hlm. 45)
      3. Syekh Ibn-ul-Arabi r.h. (1164-1240) disebut sebagai “khaatamul-auliya.” (Futuhaat Makkiyyah, pada halaman judul 25)
      Tiga orang auliya (wali) Allah ini masing-masing telah diberikan gelar khaatam-ul-auliya. Bagaimanakah kata haatam menurut ungkapan bahasa Arab itu hanya dapat diartikan sebagai terakhir/penutup saja, yaitu tidak boleh ada lagi uliya (wali) lain setelah Hz. Ali bin Abi Thalib r.a.?

    • addariny mengatakan:

      Pertama-tama, anda harus tahu bahwa arti dari khotamul auliya’ adalah penutup para wali, bukan cincin para wali. Gelar tersebut adalah gelar yang salah dan banyak diingkari oleh para ulama’, sebagai contoh perkataan Ibnu Taimiyah berikut ini:

      وَلَفْظُ خَاتَمِ الْأَوْلِيَاءِ : لَا يُوجَدُ فِي كَلَامِ أَحَدٍ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَلَا أَئِمَّتِهَا وَلَا لَهُ ذِكْرٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَلَا سُنَّةِ رَسُولِهِ، وَمُوجَبُ هَذَا اللَّفْظِ أَنَّهُ آخِرُ مُؤْمِنٍ تَقِيٍّ. (الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان44)ـ

      “Kata khotamul auliya'(penutup para wali) tidak pernah ada dalam perkataan para salaf dan para imamnya, kata tersebut juga tidak disebut dalam Kitabulloh maupun sunnah rosul-Nya. Makna yang terkandung dalam lafal ini (khotamul auliya = penutup para wali) adalah bahwa sesungguhnya ia orang terakhir yang mukmin dan bertakwa” (lihat kitab Alfurqon 44).

      Kapan gelar tersebut muncul pertama kali?

      وَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ مِنَ الْمَشَايِخِ الْمُتَقَدِّمِينَ بِخَاتَمِ الْأَوْلِيَاءِ إلَّا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَكِيمُ التِّرْمِذِيُّ فَإِنَّهُ صَنَّفَ مُصَنَّفًا غَلِطَ فِيهِ فِي مَوَاضِعَ، ثُمَّ صَارَ طَائِفَةٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ يَزْعُمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ خَاتَمُ الْأَوْلِيَاءِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَدَّعِي أَنَّ خَاتَمَ الْأَوْلِيَاءِ أَفْضَلُ مِنْ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ بِاَللَّهِ وَأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ يَسْتَفِيدُونَ الْعِلْمَ بِاَللَّهِ مِنْ جِهَتِهِ كَمَا يَزْعُمُ ذَلِكَ ابْنُ عَرَبِيٍّ صَاحِبُ ” كِتَابِ الْفُتُوحَاتِ الْمَكِّيَّةِ ” وَ ” كِتَابِ الْفُصُوصِ “، فَخَالَفَ الشَّرْعَ وَالْعَقْلَ مَعَ مُخَالَفَةِ جَمِيعِ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَوْلِيَائِهِ (الفرقان 210-213)ـ

      (Ibnu Taimiyah mengatakan:) Tidak ada satu pun ulama terdahulu yang membicarakan masalah khotamul auliya, kecuali muhammad bin ali alhakim attirmidzy (meninggal 320 H), ia telah mengarang kitab (khotmul wilayah) yang di dalamnya terdapat kesalahan di beberapa tempat. Kemudian datanglah beberapa orang di akhir zaman yang masing-masing mereka mengaku sebagai khotamul auliya’ (penutup para wali). Sebagian mereka ada yang mendakwakan bahwa khotamul auliya (penutup para wali) lebih utama dari pada khotamul anbiya (penutup para nabi) -jika dilihat dari sisi pengetahuan mereka tentang Alloh-. (Bahkan) mereka beranggapan bahwa para nabi itu mendapatkan pengetahuan tentang Alloh dari para penutup wali tersebut, sebagaimana telah didakwakan oleh IBNU AROBI dalam kitabnya futuhat makkiyyah dan kitab al-fushus. Dengan perkataannya tersebut, maka ia telah menyelisihi syariat, akal sehat dan seluruh nabi dan para wali Alloh. (al-furqon hal: 210-213)

      Siapa sebenarnya khotamul auliya’?

      وَخَاتَمُ الْأَوْلِيَاءِ فِي الْحَقِيقَةِ آخِرُ مُؤْمِنٍ تَقِيٍّ يَكُونُ فِي النَّاسِ وَلَيْسَ ذَلِكَ بِخَيْرِ الْأَوْلِيَاءِ وَلَا أَفْضَلِهِمْ بَلْ خَيْرُهُمْ وَأَفْضَلُهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ثُمَّ عُمَرُ : اللَّذَانِ مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ وَلَا غَرَبَتْ عَلَى أَحَدٍ بَعْدَ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ أَفْضَلَ مِنْهُمَا . (مجموع فتاوى 11/444)ـ

      (Ibnu Taimiyah mengatakan:)Pada hakekatnya, khotamul auliya’ (penutup para wali) adalah orang terakhir yang mukmin dan bertakwa. Meskipun dia khotamul auliya’, tapi ia bukanlah wali yang paling baik, bukan pula wali yang paling mulia. Akan tetapi wali yang paling baik dan paling mulia adalah Abu bakar ash-shiddiq, kemudian Umar r.a. Keduanya adalah orang yang paling mulia setelah para Nabi dan Rosul. (lihat majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah 11/444)

      Gelar khotamul auliya’ di kalangan sufiyah, adalah gelar kosong tanpa makna.

      ثُمَّ إنَّ هَذَا خَاتَمُ الْأَوْلِيَاءِ صَارَ مَرْتَبَةً مَوْهُومَةً لَا حَقِيقَةَ لَهُ، وَصَارَ يَدَّعِيهَا لِنَفْسِهِ أَوْ لِشَيْخِهِ طَوَائِفُ وَقَدْ ادَّعَاهَا غَيْرُ وَاحِدٍ، وَلَمْ يَدَّعِهَا إلَّا مَنْ فِي كَلَامِهِ مِنَ الْبَاطِلِ مَا لَمْ تَقُلْهُ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى كَمَا ادَّعَاهَا صَاحِبُ الْفُصُوصِ… وَآخَرُ كَانَ يَزْعُمُ أَنَّهُ الْمَهْدِيُّ الَّذِي يُزَوِّجُ بِنْتَهُ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَأَنَّهُ خَاتَمُ الْأَوْلِيَاءِ وَيَدَّعِي هَؤُلَاءِ وَأَمْثَالُهُمْ مِنَ الْأُمُورِ مَا لَا يَصْلُحُ إلَّا لِلَّهِ وَحْدَهُ. (الفرقان 46)ـ

      (Ibnu Taimiyah mengatakan:) Sesungguhnya derajat khotamul auliya’ (penutup para wali) adalah derajat yang hanya ada dalam khayalan, dan tidak ada hakekatnya. Setiap kelompok bisa mendakwakan dirinya atau pemimpinnya telah mencapai derajat tersebut. Dan tidak sedikit orang yang telah mendakwakan hal tersebut. (Ironisnya) tidak ada seorang pun yang mendakwakan dirinya (khotamul auliya’), kecuali mereka yang perkataannya bathil, bahkan orang yahudi dan nasrani pun tidak pernah mengatakan apa yang mereka katakan, sebagaimana didakwakan oleh pengarang kitab al-fushush (IBNU AROBI)… (Diantara mereka) ada pula, yang mengaku sebagai al-Mahdi yang akan menikahkan anaknya dengan Isa bin Maryam, mengaku sebagai penutup para wali, mengaku memiliki sesuatu yang tidak pantas dimiliki kecuali oleh Alloh semata. (Al-furqon, hal:46)

    • addariny mengatakan:

      Tentang perkataan anda yang mengatakan bahwa Ali r.a. bergelar khotamul auliya’, maka itu hanyalah dakwaan yang tidak sesuai dengan fakta, itu hanyalah kebohongan yang anda sebar-sebarkan… atau mungkin anda berdalil dengan hadits palsu yang berbunyi:
      أنا خاتم الأنبياء وأنت يا علي خاتم الأولياء
      Aku adalah khotamul anbiya’, sedangkan kamu wahai Ali, khotamul auliya (hadits ini palsu, silahkan merujuknya ke silsilah ahadits dho’ifah, hadits no: 694)

      Sedangkan Imam Syafi’i, sungguh tidak ada muridnya yang mengatakan bahwa beliau adalah khotamul auliya… ini juga kebohongan yang tanpa dasar fakta ilmiyah… sebagaimana kami jelaskan bahwa orang yang pertama kali membicarakan gelar penutup para wali adalah alhakim attirmidziy (meninggal 320H), dan dia lahirnya jauh hari setelah imam syafi’i (wafat 204 H)… sebelum itu tidak ada satu pun orang mengenal gelar khotamul auliya… pertanyaannya bagaimana Imam Syafi’i mendapatkan gelar tersebut, padahal belum ada orang yang membicarakannya sama sekali… belum lagi gelar tersebut adalah gelar yang tidak sesuai dengan syariat islam… tidak mungkin Imam Syafi’i atau pun muridnya menggelarinya dengan gelar tersebut.

      Sedangkan Ibnu Arobi, dialah orang yang banyak dikecam oleh banyak ulama, pada zamannya maupun zaman setelahnya, banyak ulama yang mengatakan bahwa dia adalah pembohong besar, bahkan mengkafirkannya… (lihat biografinya dalam kitab siyar a’lamin nubala’ karya Imam Adz-dzahaby 23/48). Apakah orang seperti ini yang menjadi rujukan anda dalam berdalil…?!

      Perlu juga kita perhatikan di sini, bahwa gelar yang diberikan oleh sang pencipta… sangatlah berbeda dengan gelar yang hanya diberikan oleh si hamba… khotamun nabiyyin (penutup para nabi) adalah gelarnya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang diberikan oleh Alloh azza wajall yang maha tahu apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi di masa mendatang…, Gelar yang Alloh berikan berdasarkan Ilmu-Nya, yang maha mengetahui segala sesuatu…

      Gelar pemberian Alloh sangat berbeda dengan gelar pemberian hamba yang serba ciut ilmunya… ia hanya tahu apa yang disaksikan dan didengarnya… Andaikan saja gelar-gelar seperti khotamul auliya’ (penutup para wali), khotamul muhaqqiqin (penutup para ahli tahqiq), kotamul mujahidin (penutup para mujahidin) itu dibenarkan… tentunya gelar tersebut hanya berlaku pada saat orang yang memberikan gelar itu masih hidup… karena gelar tersebut adalah hasil pengamatan dia saja… yang tentunya pengamatan tersebut akan berubah sesuai dengan perjalanan masa… itulah perbedaan antara gelarnya Sang Pencipta dengan gelarnya si hamba yang hina di hadapan-Nya.

    • Pencari kebenaran mengatakan:

      Inilah redaksi ayat ke-40 dari surat al-Ahzab:

      مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

      Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang diantara kalian, akan tetapi dia adalah Rosululloh (utusan Alloh) dan penutup para nabi”.

      Karena saya bukan ahli tafsir, maka tidak sepantasnya saya menafsiri ayat tersebut dengan semau gue, asal jemaatku senang… tidak, saya tidak akan seperti itu, aku akan menukilkan komentar Imam Ahli Tafsir kenamaan, yang sudah sangat masyhur kitabnya, dia-lah pengarang kitab tafsir Ibnu Katsir, inilah diantara komen beliau dalam menafsiri ayat tersebut:

      والأحاديث في هذا كثيرة، فمن رحمة الله تعالى بالعباد إرسال محمد، صلوات الله وسلامه عليه، إليهم، ثم من تشريفه لهم ختم الأنبياء والمرسلين به، وإكمال الدين الحنيف له. وقد أخبر تعالى في كتابه، ورسوله في السنة المتواترة عنه: أنه لا نبي بعده؛ ليعلموا أن كل مَنِ ادعى هذا المقام بعده فهو كذاب أفاك، دجال ضال مضل، ولو تخرق وشعبذ، وأتى بأنواع السحر والطلاسم والنَيرجيَّات، فكلها محال وضلال عند أولي الألباب، كما أجرى الله، سبحانه وتعالى، على يد الأسود العَنْسي باليمن، ومسيلمة الكذاب باليمامة، من الأحوال الفاسدة والأقوال الباردة، ما علم كل ذي لب وفهم وحِجى أنهما كاذبان ضالان، لعنهما الله. وكذلك كل مدع لذلك إلى يوم القيامة حتى يختموا بالمسيح الدجال، فكل واحد من هؤلاء الكذابين يخلق الله معه من الأمور ما يشهد العلماء والمؤمنون بكذب مَنْ جاء بها. وهذا من تمام لطف الله تعالى بخلقه. (6/430)

      Artinya: “Banyak hadits-hadits yang senada dengan ini (tidak adanya kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam). Maka termasuk bentuk kasih sayang Alloh terhadap hambanya adalah diutusnya Muhammad –shollallohu alaihi wasallam- kepada mereka, dan termasuk bentuk penghormatan Alloh kepada para hambanya adalah dengan diakhirinya kenabian dan kerasulan dengan (diutusnya) beliau (Muhammad –shollallohu alaihi wasallam-).

      Alloh telah memberitahukan di dalam kitab-Nya, begitu pula Rosul-Nya telah memberitahukan di dalam sunnahnya: bahwa tiada lagi nabi setelah beliau (Rosululloh shollallohu alaihi wasallam). Tujuannya agar umatnya tahu bahwa sesungguhnya setiap orang yang mengaku telah mencapai derajat (kenabian) setelah beliau (wafat), maka ia adalah pendusta dan pembohong besar, dajjal, sesat dan menyesatkan; walaupun ia mempunyai sesuatu yang luar biasa, pandai bersulap dan mahir dengan aneka sihir, rajah dan tenaga dalam. Maka itu semuanya adalah muhal dan kesesatan bagi mereka yang berakal sehat.

      Sebagaimana Alloh ta’ala telah sematkan banyak hal buruk dan kata-kata konyol, kepada (nabi palsu) Aswad al-Anbasiy di Yaman, dan Musailamah Alkadz-dzab di negeri Yamamah, yang menjadikan orang yang memiliki hujjah, akal dan pemahaman tahu betul bahwa keduanya adalah pembohong yang sesat –semoga Alloh melaknat keduanya-.
      Hal tersebut juga akan diterapkan Alloh kepada setiap pendakwa kenabian sampai hari kiamat, sehingga nantinya diakhiri oleh si Dajjal.
      Oleh karena itulah, Alloh ta’ala selalu menyertakan kepada setiap pembohong besar (pendakwa kenabian), hal-hal yang bisa dilihat oleh para ulama dan kaum muslimin, sebagai tanda kedustaan mereka. Inilah diantara kesempurnaan lembutnya Alloh dalam memperlakukan hambanya”. (lihat tafsir Ibnu Katsir 6/430)

      Semoga Jemaat Ahmadiyah dapat memahami uraian Imam Ibnu katsir tersebut, dan menyadari bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi palsu, sesat dan menyesatkan…

      Terimakasih kepada saudara kami Addariny, yang telah menjawab setiap syubhat yang dilemparkan oleh kaum Ahmadiyah dengan jawaban yang sangat ilmiyah, merujuk kepada kitab-kitab Ahlussunnah waljama’ah, kami sangat menghargai dan mengambil manfaat dari jawaban-jawaban anda… semoga kita selalu dalam naungan taufiq-Nya sehingga selamat dari kesesatan yang banyak berkeliaran di sekitar kita…

      wasssalam

    • Ahmad B. mengatakan:

      Jika Kita mengatakan bahwa dengan mengikuti Nabi Muhammad maka anugerah yang tertinggi didapat oleh umat Rasulullah adalah …hanya siddiq…(tidak mungkin Nabi ummati datang,…sedangkan kita mengatakan bahwa ‘Yesus’/Nabi Isa-lah yg nanti akan datang…)maka tanpa Kita sadari sebenarnya…maaf ya…Tuan2 justru telah merendahkan derajat Rasulullah saw & artinya: menganggap Nabi Isa lebih mulia dari nabi…& ndak ada bedanya pandangan2 Tuan2 dgn orang nasrani,…sementara Rasulullah mengatakan bahwa nanti di akhir zaman akan datang Isa almasih,…so…mari Mubaligh2 Islam, orang2 Islam,…lebih baik Tuan2 masuk, bergabung dgn agama kami Nasrani,…dan sama2 nunggu kedatangan Isa yg dijanjikan…bagaiman?@?@?

      Silahkan Tuan2 menjawab pertanyaan sy yg bodoh ini,…karena sy tidak, belum menemukan jawabannya…bila kerangka berpikir sy 100% seperti yg Tuan2 pahami…
      Smoga ada yang ‘genius’menemukan permasalahan sy ini???

    • addariny mengatakan:

      Kami tidak mengatakan bahwa dengan mengikuti Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- maka anugerah yang tertinggi yang diraih oleh Muhammad hanyalah martabat siddiq…

      Kami hanya mengatakan sebagaiamana sabda Rosul –shollallohu alaihi wasallam- bahwa “Tidak akan ada lagi Nabi setelah-ku (yakni Muhammad bin Abdulloh -shollallohu alaihi wasallam)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

      Tidak ada kelaziman / keharusan bahwa jika Nabi Isa turun di akhir zaman, berarti merendahkan martabat dan derajat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Bahkan sebaliknya itu merupakan kemuliaan bagi beliau. Mengapa?! Karena ketika turun nanti, Nabi Isa menjadi penerus penyeru syari’at islam… bukan menyeru kepada syariat Injil yang dibawanya dulu… hal ini merupakan kemuliaan dan kehormatan bagi Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

      Jangan pula kita samakan keyakinan ini dengan keyakinan Kristen, karena mereka mengatakan bahwa Isa a.s. telah dibunuh dan ruhnya menjadi tuhan… sedangkan kita meyakini bahwa Isa a.s. tidak dibunuh, akan tetapi diangkat ruh dan jasadnya ke langit, untuk nantinya diturunkan kembali, sebagai umat Muhammad yang akan menegakkan syariat beliau sebelum kiamat tiba… jadi jelas sangat berbeda keyakinan Ahlus Sunnah dengan keyakinan Nasrani… semoga bisa dipahami…

    • Ahmad B. mengatakan:

      Bismillahirrohmanirrohim…

      Tidak ada masalah dong dengan Pendiri Ahmadiyah, yang telah mengatakan kepada dunia bahwa Beliau adalah Isa Muhammadi, yang telah dikabarkan Rasulullah saw akan datang di akhir zaman,… (tidak ada Isa Israeli yg akan datang, karena Isa Israeli telah wafat di dunia ini juga)…

      Tidak ada Mahdi kecuali Isa,… artinya orangnya harus satu, …dan dari orang Islam yg setia, pengikut Rasul Karim saw, … dan jelas sekali dalam hadist muslim Rasulullah saw menyebutkan Nabiyullah Isa 4x…akan turun.

      Apakah Kita akan mengatakan bahwa Tuhan mempunyai pembantu yg umurnya 2000 thn lebih, jenggotnya jg sepanjang 2000 km,… dan Allah tidak Maha Kuasa untuk tidak ‘mengambil’ satu saja pengikut sejati Rasulullah saw ???… Coba Tuan jelaskan…

    • addariny mengatakan:

      Bismillahirrohmanirrohim….
      Pernyataan anda bahwa “MGA adalah Isa Muhammadi (Isa yang menjadi penganut Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-)” adalah tidak tepat sama sekali, mengapa?? Karena banyak juga orang lain yang termasuk Isa Muhammadi, bukankah anda melihat banyak sekali umat Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang bernama Isa?! Lalu apa keistimewaan MGA dengan penamaan itu?!

      Sebenarnya istilah yang lebih tepat yang seharusnya anda pakai adalah: istilah yang ada dalam kitab Tadzkiroh, yang mengatakan bahwa “MGA itu Isa bin Maryam (Isa putra Maryam)”. Lihat Tadzkiroh hal. 496 dan 569

      Jika demikian, apakah akal orang sehat akan menerima kenyataan bahwa MGA putra Ghulam murtadho itu sama dengan Isa putra Maryam a.s?! Apakah orang yang dilahirkan tanpa ayah sama dengan orang yg lahir dengan ayah dan ibu??! Apakah Isa putra putra Maryam yang diturunkan kepadanya Kitab Injil sama dengan MGA yang hanya mendapatkan wahyu dari setan yang mengaku Tuhannya??!.

      Pernyataan anda bahwa “Isa Israili telah wafat” sangat bertentangan dengan Alquran, simaklah ayat berikut: “( Umat Yahudi itu Kami hukum juga) kerena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih putra Maryam utusan Alloh’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (orang yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa“. (an-Nisa’: 157). Lihatlah ayat Alqur’an ini dengan jelas menyatakan bahwa Isa belum wafat!! Bagaimana anda mengatakan bahwa beliau telah wafat?! Jika anda menentang Alqur’an, mengapa masih mengaku sebagai Muslim?!

      Hadits yang menyatakan bahwa “Tidak ada Mahdi kecuali Isa”, adalah hadits yang sangat lemah sekali, dan tidak boleh dijadikan sebagai sandaran hukum.
      Karena diantara perowi hadits itu ada yang bernama: Muhammad bin kholid al-janadiy. Tahukah anda bahwa dia adalah perowi yang majhul (tidak diketahui)??.
      Ditambah lagi ada perowi lain yang namanya al-Hasan. Tahukah anda bahwa dia adalah perowi yang sering tadlis??! Ia tidak dipercaya kecuali jika menyatakan mendengar langsung dari orang sebelumnya, sedang di hadits tersebut ia hanya mengatakan “’An anas bin malik” (dari Anas bin Malik)… kesimpulannya hadits anda sangat lemah sekali, sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Albaniy dalam takhrijnya terhadap Kitab Sunan Ibnu Majah.

      Untuk paragraf terakhir… Astaghfirullah… anda sangat berani sekali mengatakan hal itu, padahal tanpa dalil bukti sama sekali… semoga anda bisa merujuk kembali perkataan anda itu… Bukankah anda tahu bahwa Alloh talah menghidupkan Ashabul Kahfi lebih dari 309 tahun…?! Bahkan Alloh telah menghidupkan Nabi Nuh di alam nyata dan mendakwahi kaumnya selama lebih dari 950 tahun…?! Bukan itu saja, bahkan Alloh menjadikan para malaikat berumur panjang dari itu…?! Tidak yakinkah anda bahwa Jibril Mikail, Isrofi dan Izroil sampai sekarang masih hidup?! Berapa umur mereka?!

      Jika Alloh menghendaki, tentunya Dia akan mampu mengutus Nabi setelah Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-. Tapi Alloh tidak menghendaki hal itu, dan tentunya Dia memiliki Hikmah yang agung, mengapa tidak menghendakinya… tidak lain kewajiban kita adalah mempercayai sabda ilahi… dari Alqur’an maupun sunnah…

      Sekian jawaban kami, semoga dapat dimengerti dan dipahami… amin.

  2. Putra Rafflesia mengatakan:

    Tuduhan bahwa Jemaat Ahmadiyah telah melakukan pembajakan Al-Qur’an adalah sebuah tuduhan yang mengada-ada dan jelas tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan itu didasarkan pada perkataan bahwa orang Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri yang bernama Tadzkirah. Tidak diragukan lagi bagi Jemaat Ahmadiyah bahwa tidak ada kitab suci lain kecuali Al-Qur’an, dan nama Tadzkirah yang disebut-sebut sebagai kitab suci baru muncul sekitar tahun 1992 ketika salah seorang penulis buku yang terbit di Indonesia yaitu M. Amin Djamaluddin mengarang buku berjudul Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur’an.1 Jadi, istilah kitab suci yang melekat pada buku Tadzkirah memang diciptakan oleh M. Amin Djamaluddin, bukan oleh Jemaat ahmadiyah. Di dalam literatur-literatur Ahmadiyah apa pun, sejak masa hidup Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908) sampai dengan hari ini, tidak pernah ditemukan istilah kitab suci untuk Tadzkirah. Demikian pula Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. telah menyatakan mengenai Al-Qur’an sebagai berikut: “Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif. Dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’, dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur’an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Ta’ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan.” (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 43)
    Jadi, yang namanya Tadzkirah sebenarnya adalah sebuah buku yang berisi kumpulan wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang diterima oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Selama Hz. Mirza Ghulam Ahmad hidup, tidak ada buku yang bernama Tadzkirah. Jadi, jika tuduhannya adalah membajak ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka tuduhan itu tidak ada dasarnya sama sekali, sebab dapat kita temukan juga ‘pembajakan’ serta pengulangan-pengulangan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah pengutipan ayat-ayat Qur’an dalam ceramah-ceramah dan juga dalam tulisan di berbagai macam buku. Orang-orang yang mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an itu juga dapat dikatakan telah membajak kitab suci Al-Qur’an dengan menurutkan tuduhan para penentang Ahmadiyah, sebab mereka tidak meminta izin dari Pemilik Al-Qur’an yaitu Allah Ta’ala untuk mengutip isi Al-Qur’an. Bahkan dalam Al-Qur’an Karim juga dapat kita temukan kesamaan dengan kitab-kitab suci terdahulu sebelum lahirnya Al-Qur’an. Kalau begitu keadaannya, apakah kita punya keberanian untuk mengatakan bahwa Islam telah mengacakacak dan membajak isi dari kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil karena ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an Karim yang merupakan pengulangan dari kedua kitab tersebut? Jadi, dengan adanya wahyu yang berkesinambungan, semakin menunjukkan sifat mutakallim-Nya. Sebab, Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mengakhiri hidupnya di atas tiang salib, sehingga tidak mampu berbicara lagi. Tuhan kita adalah Tuhan Yang
    Maha Hidup, Yang Maha Berbicara, Yang Maha Perkasa, dan itu kekal adanya dan sampai sekarang masih berbicara kepada hamba-hamba pilihannya.

    • addariny mengatakan:

      Mas Putra Raflesia… kami mengucapkan banyak terimakasih atas sanggahan anda dalam masalah ini… memang sanggahan anda sekilas cukup kuat… tapi kalau direnungkan kembali, ternyata sebenarnya sanggahan anda sangat lemah dan sudah terjawab sejak awal… kami akan berikan banyak jawaban tentang sanggahan anda:

      1. Tentang nama Tadzkiroh, sebenarnya sudah muncul sejak para pengikutnya MGA mengumpulkan catatan pengalaman rohani Nabi Palsu tersebut, yakni pada tahun 1935, 27 tahun setelah meninggalnya Nabi Palsu tersebut. (lihat poin ke-6 penjelasan PB JAI, tentang pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan warga jamaah ahmadiyah indonesia). Jadi tidak seperti anggapan anda bahwa nama tersebut baru ada sejak tahun 1992.

      2. Tentang disebutnya Tadzkiroh sebagai kitab suci, anda bisa rujuk kembali sampul kitab tadzkiroh tersebut, yang kami pampang di awal tulisan, di situ tertulis kata-kata WAHYUN MUQODDAS yang artinya adalah WAHYU SUCI. Dan wahyu suci yang disusun sebagai buku (kitab), tentunya menjadi kitab suci. Yang diantara isinya adalah ayat-ayat bajakan, yang sebagiannya telah kami cantumkan di atas… Jadi benar, bahwa tadzkiroh adalah kitab suci, andaikan anda ga mengakui sebagai kitab suci, berarti anda menyalahi keyakinan Ahmadiyah sendiri… Bahkan sudah jelas bahwa isi kitab Tadzkiroh adalah Wahyu Ilahi (menurut anggapan MGA). Kalau demikian adanya, apakah ada orang yang meyakini bahwa wahyu ilahi tersebut tidak suci?!!

      3. Tentang nukilan anda dari MGA, maka kami jawab, meskipun secara sekilas tidak ada penyelewengan yang berarti, tapi sebenarnya kata-kata tersebut memiliki arti yang senada dengan tulisan kami di atas. Karena ungkapan tersebut bisa juga diartikan sebagai berikut: “Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif, (karena maksud Quran Syarif di sini adalah wahyu yang dibukukan menjadi Tadzkiroh). Dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam (karena maksud dari nama Muhammad di sini adalah MGA). Dan tidak ada agama kami kecuali Islam (yakni Islamnya kaum Ahmadiyah). Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’ (maksudnya nabi kita adalah MGA). dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub (Qur’an syarif yakni wahyu yang dibukukan menjadi Tadzkiroh). Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan (Khodimul Islam adalah pelayan Islam, dan MGA melayani Islam dengan mengangkat dirinya sebagai nabi, mengaku mendapat wahyu langsung dari Alloh dll..)“. Jadi sekali lagi nukilan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai landasan yang mendukung ucapan anda. Ucapan MGA kami pahami demikian, karena tindakannya yang juga sering mempermainkan makna ayat-ayat suci Alqur’an. Sebagaimana tercantum di awal tulisan ini.

      4. Kita harus bisa membedakan antara membajak ayat dengan menukil ayat. Yang dimaksud dengan Membajak ayat, itu mengambil ayat tersebut, dan mengakuinya sebagai ayat milik dia, bahkan sampai menyelewengkan artinya, dan inilah yang dilakukan oleh MGA. Berbeda dengan menukil ayat, ia hanya mengambil ayat tersebut, sebagai dalil, dan menisbahkannya ke sumber awalnya, tidak mengakui itu sebagai ucapannya, dan tidak menyelewengkan artinya.

      5. Perkataan Ahlussunnah bahwa wahyu sudah tidak turun lagi, bukan berarti Alloh tidak bicara lagi. Bahkan mereka dengan jelas menerangkan bahwa Alloh masih tetap Maha berbicara; ketika Dia berkehendak, kapan Dia berkehendak, dan bagaimana Dia berkehendak. (lih. Syarh Akidah Thohawiyah hal. 129).

      6. Pengakuan seseorang, bahwa ia adalah Rosul, dan mendapatkan wahyu langsung dari Alloh, menurut para ulama, adalah diantara penyebab seseorang menjadi murtad, anda bisa ruju’ perkataan para ulama tentang masalah itu di ratusan kitab dalam madzhab empat; Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali. Sebagai contoh saja, saya nukilkan dari kitabnya Imam Nawawi Roudhotut Tholibin (7/283-284):

      حقيقتها (أي الردة) قطع الإسلام، ويحصل ذلك تارة بالقول،… وتارة بالفعل… والأفعال الموجبة للكفر… كالسجود للصنم أو للشمس وإلقاء المصحف في القاذورات… وكذا من جحد جواز بعثة الرسل، أو أنكر نبوة نبي من الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم، أو كذبه أو جحد آية من القرآن مجمعا عليها… أو ادعى النبوة بعد نبينا صلى الله عليه وسلم، أو صدق مدعيا لها

      Hakekatnya (murtad) adalah memutuskan keislaman, itu bisa terjadi dengan perkataan,… bisa juga dengan perbuatan,… (contoh) perbuatan yang menyebabkan kafir,… itu seperti: sujud kepada berhala atau matahari, melempar mushaf ke tempat kotoran… begitu juga mengingkari adanya pengutusan para rosul, atau mengingkari kenabian salah seorang Nabi dari sekian banyak Nabi, atau mendustakan atau mengingkari ayat Alqur’an yang sudah disepakati (keberadaannya)… atau mengaku sebagai Nabi sepeninggal Nabi kita –shollallohu alaihi wasallam-, atau (bahkan) membenarkan orang yang mengaku sebagai Nabi… dst

      Penulis mohon maaf dengan panjangnya jawaban ini, mudah-mudahan memberikan manfaat, khususnya bagi Mas Putra Raflesia yang baik hati, dan umumnya bagi para pembaca yang budiman. Sekali lagi, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

    • rian REA mengatakan:

      Tentang kata Wahyu Muqaddas… Memang wahyu dari Allah itu suci dan tidak setiap wahyu yang dibukukan adalah Kitab Suci. Apakah anda mengetahui tentang Hadits Qudsi?? bukankah isinya adalah wahyu suci?? namun apakah anda menyebutnya sebagai kitab suci?

    • addariny mengatakan:

      Untuk Mas Rian REA…
      Alhamdulillah kalau memang anda meyakini bahwa Tadzkiroh adalah bukan kitab suci… Itulah harapan awal kami menulis artikel ini, yakni agar tidak ada orang yang meyakini kesuciannya…
      Apa yang anda katakan memang benar… bahwa tidak setiap wahyu yang dibukukan adalah kitab suci… kitab yang memuat hadits qudsiy memang tidak kita sebut sebagai kitab suci…
      Tapi permasalahan tidak se-sepele itu…
      Permasalahannya adalah si MGA, telah memposisikan Tadzkiroh, di posisi Alqur’an, dan Karena Alquran adalah Kitab suci…. apa yang posisinya sama dengan Alqur’an, berarti kitab suci jg… Coba anda renungkan kembali ayat-ayat suci Alqur’an berikut ini:
      .
      1. Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami turunkan (yakni: Alqur’an) kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang menyamainya

      2. Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam Lailatul Qodar

      3. Dan Kami telah menurunkan (Alquran) ini dengan sebenarnya, dan (al-Quran) itu turun dengan membawa kebenaran.

      4. Inilah ayat-ayat kitab (al-Quran) yang jelas (makna dan lafalnya)

      5. Sekiranya (al-Quran) itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

      Perhatikanlah beberapa ayat suci Alqur’an di atas… Ayat-ayat tersebut telah dibajak oleh MGA dengan redaksi yang sama… tapi ia merubah kata-kata Aqur’an dengan Kata Tadzkiroh…

      Memposisikan Tadzkiroh, di posisi yang hanya bisa dicapai oleh Kitab Suci Alqur’an… berarti menganggap bahwa Tadzkiroh adalah kitab suci juga…

      Sungguh sangat mengherankan… kalau kita tidak menganggapnya sebagai kitab suci… kenapa masih membelanya ketika bertentangan dengan Ayat suci Alqur’an… seharusnya kalau Tadzkiroh bukan kitab suci… dan ia menyelisihi Alqur’an… untuk apa kita membelanya… pantaskah sesuatu yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah kita bela…??

      Demi Alloh, saya hanya mengaharapkan kebaikan bagi Anda… Saya mohon maaf kepada Mas Rian ERA atas kata-kata yang mungkin kurang berkenan di hati anda… sekian dulu… Wassalam…

    • rian REA mengatakan:

      Permasalahan yang anda sebut tidak sepele itu adalah SALAH, karena dalam kenyataannya Mirza Ghulam Ahmad (peace be upon him) tidak memposisikan Tadhkirah pada posisi Alqur’an. Itu hanya karangan anda saja!

      Mengapa demikian?

      Karena seperti anda telah tulis sebelumnya, tadhkirah dikompilasi tahun 1935, jauh hari setelah MGA (peace be upon him) wafat tahun 1908.

      Kaum Ahmadi pun tidak pernah memposisikan Tadhkirah sebagai kitab suci. Kitab suci yang senantiasa mengisi shubuh dan maghrib setiap kaum Ahmadi hanyalah Alqur’an yang senantiasa dibaca beserta terjemahnya, tidak ada yang lain. Bahkan tadhkirah pun hingga saat ini jaraaang terdapat di rumah setiap ahmadi, silakan anda buktikan!

    • addariny mengatakan:

      Sungguh demi Alloh permasalahan antara Kaum Muslimin dengan Kaum Ahmadiyah tidak sepele… kalau anda menganggap sepele, berarti anda tidak tahu yang sebenarnya… atau pura2 tidak mempermasalahkannya… atau ingin mendapat simpati dari Kaum Muslimin…
      kami tidak mengarang apa-apa… kami tidak akan bicara tanpa bukti… kami bicara berdasarkan apa yang kami dapati di kitab Tadzkiroh… dan ayat-ayat yang kami contohkan di atas… benar-benar memposisikan Tadzkiroh seperti Alqur’an yang notaben adalah kitab suci…
      kami tidak menilai ahmadiyah berdasarkan apa yang dipraktekkan oleh kaum Ahmadiyah… kenapa demikian? karena kalau kita menilai suatu ajaran, dari apa yang dipraktekkan oleh suatu penganut ajaran tersebut, kita tidak akan mengetahui ajaran sebenarnya… kami beri contoh… ketika kita melihat kaum nasrani mabuk2an, zina, dan aneka kemaksiatan lain, apakah kita menilai ajaran mereka dari kenyataan tersebut?? dengan mengatakan tidak benar bahwa mabuk dan zina dilarang oleh agama nasrani, karena ternyata dalam kehidupan mereka mabuk2 dan berzina…
      betapa banyak ajaran yang tidak diperaktekkan oleh penganutnya… lihatlah ayat2 tadzkiroh di atas… “engkau (MGA)di sisi-Ku memiliki kedudukan seperti anak2-Ku”, apakah anda meyakini Alloh mempunyai anak?? apakah anda meyakini bahwa mirza berkedudukan seperti anak-anak Alloh yang lain??
      Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wassallam- saja tidak memiliki kedudukan demikian… Oleh karena isi tadzkiroh yang seperti inilah… kaum Muslimin geram dan mengkafirkan mereka…
      Kalau datang saatnya kaum ahmadiyah kuat.. melebihi kekuatan kaum muslimin… kami yakin mereka akan membaca Tadzkiroh dlm sholat mereka… mereka saat ini tidak membacanya karena masih lemah dan takut dengan kekuatan Kaum muslimin…sekian dulu… semoga kita selalu dalam hidayah-Nya… amin

  3. thio mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Wahai untuk kawan2 yg membela Ahmadiyah (putra rafflesia dan mazgie).
    Skrg, saya ajak kalian berpikir jernih dulu untuk melihat hal2 yg simpel dan amat sangat terang…seterangnya sinar matahari di siang bolong.
    Sudah sangat jelas sejelas2nya bahwa Abul Qosim, Rasulullah Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wassalam adalah Nabiyullah yg terakhir. Itulah fakta yg tidak terbantahkan dan semua umat Islam sepakat dan berada pada 1 suara mengenai hal ini. Skrg jika ada seseorg yaitu Mirza Ghulam Ahmad yg notabene adalah bukan siapa2, mengaku2 sebagai Nabi setelah Rasulullah, apakah pantas hal ini masih kalian bela kalau kalian memegang teguh 2 kalimat Syahadat? Apakah kalian menganggap bahwa Allah Ta’ala mengkhianati janjinya sendiri bahwa tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Rasulullah Muhammad??? Lupakanlah dulu masalah tadzkiroh. Jawablah hal ini dulu. Ini adalah hal yg amat simpel.

    Lalu jika kalian katakan, “itu kan hak setiap org untuk mendirikan agama yg ia yakini.” Maaf2 aja nih mas, mbak, bapak, ibu…Org itu (MGA dan antek2nya) memakai nama Islam didepan sektenya (lengkapnya : Jemaah Islam Ahmadiyah). Saya amat sangat tidak rela bila agama kita yg fitri ini dikotori oleh org2 busuk yg berniat mengubah/mengacak2 risalah yg telah dibawa Rasulullah Muhammad apalagi sampe mengatakan dirinya adalah Nabi setelah Nabi Muhammad dan membuat2 kitab suci untuk menandingi Al Qur’an. Islam ya Islam, ga ada itu Islam Ahmadiyah, nama Islam kok dicatut2??? Tidak sadarkah kalian, nama Islam adalah nama pemberian Allah Ta’ala sendiri??? Kalau kalian memang ingin mendirikan ajaran baru, janganlah catut nama Islam didepan nama sekte kalian!

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” QS Ali Imron ayat 19
    Jadi kalian yg masih hobi mencatut2 nama Islam untuk mengacak2 ajarannya. Segeralah bertobat! Selama bumi masih berputar pada porosnya dan matahari masih terbit dari timur terbenam di barat, Allah Yang Maha Pengampun akan selalu mau menerima tobat selama bersungguh2.

    Aku berlindung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kesesatan yg dibisikkan syetan dan pengikut2nya.

    • rian REA mengatakan:

      Setiap hari minimal 17 kali kita memohon kepada Allah agar kita diberikan nikmat :

      (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri NIKMAT kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
      QS. al-Fatihah (1) : 7

      Dan inilah definisi nikmat berdasarkan alqur’an :
      Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi NIKMAT oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, para syuhada dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
      QS. an-Nisa’ (4) : 69

      Apakah umat muslim tidak akan diberikan NIKMAT TERTINGGI oleh ALLAH swt berdasarkan ayat tsb diatas? Akankah akan sia-sia minimal 17 doa (+ shalat-shalat sunnat dan nafal yang dikerjakan)yang setiap hari kita panjatkan?

    • addariny mengatakan:

      Orang yang meyakini adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad –shollallohu alaihi wassallam-, hukumnya murtad, sebagaimana perkataan para ulama, dan telah kami sebutkan perkataan Imam Nawawi di komen kami sebelum ini.
      Kalau dia sudah murtad, anda tahu sendiri hukum sholatnya sah apa tidak?! Kalau sholatnya tidak sah, berarti doa yang di dalamnya juga demikian hukumnya, walaupun ia berdoa seribu kali setiap harinya.
      Bahkan orang murtad tidak hanya sholat saja yang tidak sah, semua amalan yang berpahala, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya, sebagaimana hukum orang kafir, sehingga ia taubat, kembali ke Agama Islam lagi.
      Jika anda pengikut Ahmadiyah, anda tidak pantas berdalil dengan ayat tersebut, karena ayat tersebut adalah khusus bagi mereka yang mentaati Alloh dan rosulnya. Sedangkan Anda tidak mentaati Alloh dan Rosul-Nya.
      Bagaimana anda mengaku mentaati Alloh dan Rosul-Nya, tapi meyakini adanya nabi baru MGA, padahal sudah jelas ayat dan haditsnya…
      Jika ingin doa anda didengar oleh Alloh, maka tinggalkanlah Ajaran Ahmadiyah, ikuti Islam Ahlussunnah waljamaah, sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-.
      Terimakasih atas partisipasinya….

    • rian REA mengatakan:

      Jika saya mengatakan umat muslim, maka yang saya maksudkan didalam perkataan diatas adalah saya, anda dan orang-orang lain yang mengaku muslim.

      Sungguh sangat disayangkan jika anda setiap hari berdo’a agar ditunjukkan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat ALLAH taala, tetapi anda sendiri tidak ingin mengecap kenikmatan tertinggi yang dapat diberikan ALLAH taala. Sayang sungguh sayang…

      Jika anda mengaku mengikuti ALLAH, tentunya anda harus mengikuti Alqur’an yang KITAB ALLAH. Kata-kata yang saya kutip diatas untuk TAFSIR kata NIKMAT bukanlah tafsir saya, Ulama, bahkan rasul saw tetapi merupakan KATA-KATA ALLAH TAALA SENDIRI! Apakah anda hendak membantahNYA juga???

      Nah sekarang siapakah orang yang tidak mentaati ALLAH dan RASULNYA kemudian?

    • addariny mengatakan:

      Untuk Rian REA… ternyata anda tidak paham dengan jawaban kami sebelumnya… inti jawaban kami untuk anda pada komen sebelum ini adalah:

      Selama anda meyakini adanya nabi baru, berarti anda telah murtad (bukan muslim lagi), sebagaimana pernyataan para ulama Islam…
      Ketika anda sudah murtad, maka berarti anda tidak termasuk orang yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya…
      Dan orang yang tidak taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, tidak berhak mendapatkan apa yang dijanjikan Alloh ta’ala dalam ayat tersebut…
      Hasilnya… anda tidak akan mendapatkan nikmat tersebut selama anda masih mengikuti ajaran ahmadiyah (baca kekafiran).

      Jadi, pahamilah dengan cermat, kami tidak menolak tafsiran anda tentang kata nikmat… kami hanya ingin mengatakan bahwa anda tidak berhak atas janji Alloh dalam ayat tersebut, karena anda telah kafir, sedangkan konteks ayat tersebut adalah bagi mereka yang taat kepada Alloh dan Rosul-nya…

      Akhirnya, kami berpesan kepada anda dan kaum Ahmadiyah pada umumnya… hendaklah anda mentaati Alloh dan Rosululloh… sadarlah bahwa Alloh sudah menetapkan tidak adanya nabi lagi setelah wafatnya Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-.

      Ingatlah sabda beliau –shollallohu alaihi wasallam-:

      لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

      “Kiamat tak akan datang, sehingga keluar dajjal-dajjal (yakni penipu dan pembohong besar), jumlah mereka mendekati 30 orang, mereka semua mengaku sebagai Rosululloh (utusan Alloh)”. (HR. Bukhori 3609, dan HR. Muslim 157)

  4. irfan mengatakan:

    sy tertarik dengan diskusi tentang ahmadiyah ini!

    anda bersikeras mengatakan bahwa kitab suci ahmdiyah adalah tazkirah sedangkan dari ahmadiyah sendiri bersikeras pula mengatakan bahwa tazkirah bukanlah kitab suci!!!saya bingung….sebenarnya yang lebh tahu tazkirah itu siapa…anda ataukah ahmadiyah sendiri??

    • addariny mengatakan:

      Mali……..ng, ada mali…..ng, mali…..ng…!!!
      mendengar jeritan itu, masyarakat langsung berhamburan utk menangkapnya…
      setelah tertangkap… dengan sangat yakinnya ia mengatakan: “aku tidak mencuri… demi Alloh, demi Alquran, aku tidak mencuri….”
      kemudian maling tersebut di bawa ke kepala desa dan beserta para warga utk diadili…
      si maling tersebut dengan sangat yakinnya mengatakan “Pak kepala desa, demi Alloh aku tidak mencuri, sungguh tuduhan mereka tidak beralasan”
      “tidak benar pak kepala desa! kami jelas-jelas melihatnya telah mencuri!!!” Jawab Masyarakat, menyanggah elakannya.
      melihat kasus di atas… siapa yang akan anda percaya… apakah anda akan mengatakan bahwa siapa yang lebih tahu tentang dirinya itulah yang akan kita terima ucapannya, dan dalam hal ini, kita katakan pencuri tersebut lebih tahu tentang dirinya, dari pada masyarakat???
      itulah jawaban pertanyaan anda… ketahuilah bahwa jarang adanya orang yang melakukan kejahatan, kemudian ia mau mengakui kejahatannya… lihat sj koruptor, provokator, pembajak, pemalsu dll, mereka jarang sekali dengan sukarela mau mengakui perbuatannya… ketika keadaan demikian… apa yang kita lakukan… kita harus melihat bukti perbuatannya… jika bukti mengatakan ya… berarti kita katakan bahwa ia telah berbuat jahat, walaupun ia tidak mengakuinya…
      dan begitulah yang terjadi pada kasus ahmadiyah ini, mereka tidak mengakui perbuatan yang dilakukan MGA, padahal berpuluh-puluh bukti nyata, yang tidak ada keraguan di dalamnya telah menyatakan bahwa ia telah menjiplak Alqur’an, Mengakui bahwa Tadzkiroh adalah kitab suci, dan kesesatan-kesesatan lainnya…

    • irfan mengatakan:

      lho kok coment yang saya sampaikan tidak di munculkan semuanya??
      kenapa? takut akan kebenaran?
      kalo Anda ingin mengetahui tentang isi suatu rumah, anda tanya ke siapa? ke sang pemilik rumah ataukah ke tukang bakso di depan rumah???
      Klo Anda bertanya ke tukang bakso, niscaya informasi yng Anda dapatkan pastilah salah krena dia memang tidak mengetahui isi rumah tsb!! Tpi kalo Anda tanyakan ke pemiliknya, ia akan memberikan informasi yg Anda inginkan!!
      Begitu pula..klo Anda ingin mengetahui Tazkirah, maka tanyakanlah ke pihak Ahmdiyah!!
      klo informasi yg ANda dapatkan dri pihak ketiga…apalagi yg menetang, dijmin informasinya pasti salah dan tidak objektif!!

    • addariny mengatakan:

      Subhanalloh… kenapa kami takut kebenaran… justru itulah yang kami cari… komen anda kami cut… karena keluar dari pembahasan ini… kami tidak menginginkan para pembaca menjadi tidak fokus pada permasalahan yang kami bahas… mohon maaf sebelumnya…
      Ucapan anda sudah kami jawab pada komen sebelumnya…
      Analogi (qiyas) anda salah besar… anda telah meng-analogi-kan antara orang yang berbuat kejahatan dengan orang yang tidak berbuat kejahatan…
      kalo kita tanya kejahatan seseorang, apakah kita tanya ke orangnya, atau kita lihat bukti kejahatannya….?!!! (anda bisa jawab sendiri)
      berbeda kalo kita minta keterangan kepada orang yang tidak bersalah, mungkin orang yang paling tahu akan jujur mengatakannya…
      Bahkan keterangan kami tidak jauh2 dari sumber ajaran Ahmadiyah sendiri… yakni kitab Tadzkiroh yang diagung-agungkan oleh penganutnya…
      selanjutnya kami persilahkan anda membaca artikel kami, Tadzkiroh dan akidah yang dikandungnya…
      mohon maaf atas kekhilafan kami… kami sangat berharap adanya forum diskusi yang sangat kondusif dan transparan…
      terimakasih…. wassalam

    • irfan mengatakan:

      Allah taala berjanji bahwa Dialah yang akan menjaga dan memelihara Alquran dari campur tangan manusia (QS. Al Hijr: 9)
      Jadi tuduhan pembajakan ayat-ayat suci Alquran sungguh merendahkan dan meremehkan Allah swt. yaitu Yang Maha Kuasa, yang Dia sendiri berjanji dalam ayat tersebut untuk menjaga dan memeliharanya.Dan “naudzubillahi mindzalik”, apakah menurut Anda kini Allah swt. sudah lalai terhadap janjiNya, sehingga ada manusia yang berhasil membajak kitab suciNya? Ini sungguh suatu hal yang ironis!! Suatu sikap yang meremehkan kekuasaan daripada Allah SWT. sebab janji Allah tersebut adalah janji yang hakiki dan abadi.

    • addariny mengatakan:

      Alloh ta’ala tidak dan takkan lalai terhadap janji-Nya… Dia akan selalu menjaga kemurnian kitab-Nya. Oleh karena hal inilah, setiap usaha untuk menodai dan membajak Alquran, akan disingkap oleh hamba-hamba-Nya, sehingga kitab-Nya akan selalu suci dan murni…

      Anda harus teliti dan cermat dalam berbicara… Tidak setiap perbuatan menodai sesuatu, menjadikan sesuatu tersebut ternodai… Kami misalkan di sini Kemuliaan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, berapa ribu kali orang-orang kafir telah melakukan penodaan terhadap kemuliaan beliau? Apakah itu menyebabkan kemuliaan beliau ternodai??!! Ternyata tidak, kemuliaan beliau tetap selalu terjaga sampai hari kiamat, sebagaimana janji Alloh kepada beliau.

      Begitu pula Alquran, berapa ribu kali para kafirin berusaha menodai, memalsu dan membajak Alquran? Tapi alhamdulillah, karena janji Alloh untuk menjaga kitab-Nya, Alquran tersebut akan tetap terjaga kesucian dan kemurniannya, tidak ternodai, tidak terpalsukan dan tidak akan terbajak…

      Apa yang dilakukan MGA adalah tindakan menodai dan membajak Alquran, tapi hal itu tetap akan sia-sia, dan pasti diungkap kebusukannya oleh Alloh azza wajall, tidak lain pengungkapan tersebut adalah bentuk penjagaan Alloh terhadap Alquran, agar ia selalu suci dan murni, hingga akhirnya nanti diangkat kembali ke haribaan-Nya… wallohu a’lam…

  5. ibnu sutomo mengatakan:

    @akhi irfan & akhi rian,

    Jgnlah tertipu dengan penampilan luar. Pengikut ahmadiyah sama dengan syiah yg menerapkan fungsi taqiyah dalam keseharian mereka. Jd, org2 yg awam akan mudah tertipu lalu menganggap ahmadiyah tidak ada bedanya dengan agama Islam atau dikatakan hanya sebuah mazhab baru. Sungguh telah gamblang pemaparan oleh akhi addariny (beliau tidak mungkin brani memaparkan dengan segitu gamblangnya kalau tidak mempunyai sumber), dan kalau mau lebih simpel lagi (alias tidak ush sulit2 membahas tazkiroh), apa yg dikemukakan oleh akhi thio diatas, apakah ada org Islam yg mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul setelah Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wassalam? Sungguhpun klo ada org Islam mengakui MGA sebagai Rasul baru, maka ia bisa disebut murtad karena telah mengkhianati 2 kalimat syahadat. Lalu apakah Allah azza wa jalla mengkhianati risalahnya sendiri dengan menurunkan Rasul lagi sepeninggal Rasulullah? Tolonglah dipikirkan hal ini dulu wahai akhi sekalian.

    Sesungguhnya persoalan ini telah jelas dan terang. Hati kitalah yg masih sering tertutup dan tidak mau menerima kebenaran walau itu pahit.

  6. arsyad mengatakan:

    wah sepertinya bang irfan ini org ahmadiyah sendiri ya…

    Sptnya saya lihat permasalahannya adalah pada para pengikut ahmadiyah yg sbnrnya tidak mengetahui hakikat dibalik agama ahmadiyah itu sendiri.
    Untuk akhi addariny, salam kenal, ijin copy paste artikel ini untuk dikirim ke milis kampus.

    Jazakumulloh khoiron katsiro

    • addariny mengatakan:

      monggo…. mudah2an banyak manfaatnya… amin…. terima kasih atas bantuannya nyebarkan artikel kami… (jangan lupa sertakan alamat sumbernya) syukron wa baaroka fikum…

  7. Putra Rafflesia mengatakan:

    Di dalam sejarah Islam, dijumpai banyak sekali ulama-Ulama Masa awwal, yaitu ulama-ulama yang ke zuhudan dan kesuciannya tidak diragukan lagi, bahkan sulit untuk mendapatkan contoh dan bandingannya dizaman sekarang ini. Para Ulama Masa Awwal ini mengemukakan pengalaman–pengalaman rohani mereka bahwa mereka menerima wahyu dari Allah Swt,. Di dalam wahyu yang mereka terima, nampak dengan jelas, sebagiannya sama persis dengan ayat-ayat Al-Quran, dan sebagiannya lagi, campuran antara kata-kata yang persis dengan ayat-ayat Al-Quran dan kata-kata lain yang bukan ayat-ayat Al-Quran
    Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menulis didalam kitab beliau Futuhatul Makiyyah jld. 3 hal 367 bahwa beliau menerima wahyu “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan satupun dari antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.” Wahyu yang diterima oleh Ibnu Arabi ini sama persis dengan ayat Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 136.
    Abdul Qadir Jaelani didalam Futuuhul Ghaib menulis yang Artinya: “Engkau akan dijadikan kaya dan pemberani. Dan engkau akan dianugerahi kemuliaan. Dan engkau akan dianugerahi dengan karunia bermukhaathabah bahwa engkau di sisi Kami pada martabat yang tinggi, yang luhur dan jujur.” Wahyu ini merupakan campuran dari kata-kata yang persis sama dengan ayat Al-Quran surah Yusuf ayat 55 dengan kata-kata lain yang sama sekali tidak persis ayat Al-Quran. Masih banyak lagi contoh-contoh yang dapat dikemukakan.

    • addariny mengatakan:

      Tindakan mengaku telah mendapatkan wahyu dari Alloh ta’ala, adalah tindakan yang menyebabkan kekufuran, dan hal ini telah disepakati oleh seluruh Ulama Islam (IJMA). Kami nukilkan di sini perkataan Ulama Terkenal dari Madzhab Syafi’I, Sulaiman bin Muhammad al-Bujairomy asy-Syaffi’I, ia mengatakan dalam kitabnya Tuhfatul habib ala syarhil khotib 5/106:

      ولو ادعى أنه يوحى إليه -وإن لم يدع النبوّة- أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع

      Artinya: “Apabila ada orang mengaku, bahwa ia telah mendapatkan wahyu -walaupun tidak mengaku sebagai nabi- atau mengaku pernah masuk surga dan telah makan sebagian buahnya serta telah memeluk bidadari, maka -sebagaimana kesepakatan para ulama (IJMA’)- ia telah kafir”.

      Adapun nukilan anda dari Abdul Qodir al-Jailany, maka kami sangat sangsi tentang kebenarannya, karena banyaknya kisah-kisah beliau yang dipalsukan dan dibuat-buat. Ditambah lagi, perbuatan dan tindakan beliau bukanlah merupakan DALIL, sehingga bisa dijadikan sebagai pijakan hukum syar’ie….

      Begitu pula nukilan dari Ibnu Arobiy, jika memang nukilan tersebut benar dari Ibnu Arobiy, maka kami katakan bahwa ia telah salah dalam pengakuannya, karena telah menyelesihi kesepakatan para Ulama sebelumnya. Dan perbuatannya bukanlah merupakan DALIL, sehingga bisa dijadikan pijakan untuk melegalkan tindakan mengaku telah mendapat wahyu dari Alloh ta’ala…

      Setelah ini semua… kami ingin bertanya kepada Anda, mana yang lebih utama, Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, serta Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad, menurut anda mereka lebih utama atau MGA, Ibnu Arobi dan Abdul Qodir al-Jaelany???!! Tentunya kalau anda masih beragama Islam, anda akan menjawab: delapan orang pertama, lebih utama dari tiga orang terakhir… kalau delapan orang tersebut saja tidak pernah mendapatkan wahyu… bagaimana orang lain pantas mendapatkan wahyu???!!! Cobalah anda berfikir lebih obyektif dan jernih….!!

    • Kepada Putra Rafflesia…
      Dalam berdiskusi, anda harus perhatikan kaidah berikut:

      إن كنت ناقلا فالصحة وإن كنت مدعيا فالدليل

      “Kalau anda menukil, maka pastikan keshahihannya; namun jika anda mengklaim maka mana dalilnya”.
      Ketika Anda menukil dari Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat Al Makkiyyah, tahukah anda siapa Ibnu Arabi? Bagaimana Akidahnya? Bagaimana dia menurut pandangan ulama kaum muslimin?
      Tahukah Anda bahwa dia pernah mengatakan syair berikut yang mengungkapkan bahwa dia penganut akidah wihdatul wujud, alias bahwa Allah menitis ke semua hal termasuk dirinya? Tahukah Anda bahwa salah satu kitabnya yang berjudul Fushuushul Hikam penuh berisi kekafiran, sampai-sampai Imam Adz Dzahabi mengatakan dalam Siyar A’lamin Nubala’ (jilid 23 hal 48) tatkala berbicara ttg Ibnu ‘Arabi:

      ومن أردإ تواليفه كتاب ” الفصوص ” فإن كان لا كفر فيه، فما في الدنيا كفر

      Salah satu tulisan terjeleknya ialah kitab Al Fushuush”, kalau tidak ada kekafiran di dalamnya, maka di dunia ini tidak ada lagi kekafiran”
      Ibnu ‘Arabi mendapat kecaman keras dari banyak ulama, diantaranya Izzuddien bin Abdissalaam yang hidup sezaman dengannya, beliau mengatakan bahwa Ibnu Arabi itu Syaikhun Kadzdzab {Syaikh yang pembohong}, bahkan Ibrahim Ar Raqqi mengatakan bahwa Ibnu Arabi meyakini bahwa ‘alam telah ada sejak dahulu, dan ini merupakan keyakinan yang disepakati sebagai kekafiran. Ibrahim juga mengatakan bahwa Ibnu Arabi tidak mengharamkan perzinaan. dan masih banyak lagi perkataan ulama ttg kekufuran Ibnu Arabi, silakan jika Anda faham bahasa Arab untuk melihat biografinya di Tarikhul Islam tulisan Imam Dzahabi jilid 47 hal 278-279.

      jadi kesimpulannya, orang-orang KAFIR macam Ahmadiyyah tidak akan mendapatkan argumentasi yang kuat kecuali dari orang KAFIR pula. Sebab tidak akan bertemu antara ISLAM dengan KEKAFIRAN (baca: AHMADIYYAH).

    • addariny mengatakan:

      Untuk Akh Abu Hudzaifah… Syukron jazilan atas komennya yang sarat dengan dalil yang kuat…
      Kalo kaum Ahmadiyah menginginkan kebenaran… seharusnya dengan dalil-dalil seperti ini mereka sudah sadar, bertaubat dan kembali ke jalan yang benar…

    • Putra Rafflesia mengatakan:

      Ketika para sahabat berselisih pendapat tentang memandikan jenazah Rasulullah Saw. apakah dengan cara menanggalkan pakaian beliau atau tidak menanggalkannya, maka turunlah wahyu dari Allah kepada mereka:
      “Ighsiluu rasuulallaahi Wasallaam wa ‘alaihi tsiyaabuhu.”

      Artinya:

      “Mandikanlah Rasulullah Saw dalam keadaan beliau berpakaian.”

      (HR. Baihaqi dari Aisayah r.a. dan Misykat Bab. Al-Kiramat hal. 545)

      Ini adalah wahyu yang turun segera setelah Rasulullah Saw wafat yang membuktikan bahwa wahyu berupa penjelasan dan bukan wahyu Syari’at masih tetap turun.

    • addariny mengatakan:

      Putra Raflesia, kami mohon maaf atas lambatnya jawaban ini…
      Harus anda ketahui bahwa yang dimaksud dengan wahyu dalam Syariat Islam adalah:

      إعلام الله أنبياءه بما يريد أن يبلغه إليهم من شرع أو كتاب بواسطة أو غير واسطة

      “Pemberitahuan Alloh kepada para nabi-Nya, tentang syariat atau kitab, agar disampaikan kepada umatnya, dengan atau tanpa perantara”. (Lihat ushulul iman, hal: 155)

      كلام الله المنزَّل على نبي من أنبيائه

      “Ucapan Alloh yang diturunkan kepada para nabi-Nya” (lihat al-Mu’jamul Falsafiy 2/570)

      Dan wahyu ini adalah merupakan keistimewaan para nabi, tidak ada yang menerima wahyu selain para nabi. (lihat kitab al-Kulliyyat, karya al-kafawi, hal: 173)

      Seluruh Ulama Islam telah sepakat bahwa wahyu Alloh telah terputus setelah wafatnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana diterangkan oleh Sahabat Abu Bakar, Umar dan para sahabat lainnya dalam atsar-atsar berikut ini:

      عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا، فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ، فَقَالا لَهَا مَا يُبْكِيكِ، مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟! فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ مِنْ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا (رواه مسلم 2454)

      Sahabat Anas mengatakan: “Setelah wafatnya Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- Abu bakar pernah mengatakan kepada Umar (bin Khottob): ‘Marilah kita pergi ke rumah Ummu Aiman, kita menziarahinya sebagaimana Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- juga biasa menziarahinya!’. Maka ketika kami sampai di rumahnya, Ummu Aiman malah menangis. Abu bakar dan Umar kemudian menegurnya: ‘bukankah nikmat yang ada di sisi Alloh itu lebih baik bagi Rosululloh?!’. Ummu Aiman menjawab: ‘Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa nikmat yang ada di sisi Alloh itu lebih baik bagi beliu, akan tetapi aku menangis karena sesungguhnya wahyu dari langit itu telah terputus’. Dan kata-kata itu menggetarkan hati keduanya, sehingga keduanya (Abu Bakar dan Umar) menangis bersamanya (Ummu Aiman)”. (HR. Muslim, Hadits no: 2454)

      قال عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ أُنَاسًا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالْوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الْآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وَقَرَّبْنَاهُ وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا سُوءًا لَمْ نَأْمَنْهُ وَلَمْ نُصَدِّقْهُ وَإِنْ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ (رواه البخاري 2641)

      Umar bin Khottob r.a. mengatakan: “Ketika zaman Rosululloh masih hidup, orang-orang (yang bersalah) dihukum dengan berdasarkan wahyu yang turun (kepada beliau). (Adapun sekarang) sesungguhnya wahyu itu telah terputus, dan kami akan menghukum kalian (yang bersalah) dengan bukti perbuatan kalian yang terlihat. Maka barangsiapa yang menampakkan kebaikan, maka kami pun akan mengamankan dan mendekatinya, kami tidak mengurusi amalan apapun yang dirahasiakannya, Alloh-lah yang akan mengurusi hal tersebut. Sedangkan barangsiapa yang menampakkan keburukan, maka kami tidak akan memberikannya keamanan maupun kepercayaan, walaupun ia mengatakan bahwa amalan yang dirahasiakannya baik”. (HR. Bukhori, Hadits no: 2641)

      Sedangkan redaksi atsar yang anda gunakan sebagai dalil adalah sebagai berikut:

      عن عَائِشَةَ: لَمَّا أَرَادُوا غَسْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا نَدْرِي أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ نَغْسِلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَلَمَّا اخْتَلَفُوا أَلْقَى اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّوْمَ حَتَّى مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا وَذَقْنُهُ فِي صَدْرِهِ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مُكَلِّمٌ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ لَا يَدْرُونَ مَنْ هُوَ أَنْ اغْسِلُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَقَامُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَسَلُوهُ وَعَلَيْهِ قَمِيصُهُ. (رواه أبو داود 3141، وحسنه الألباني في الإرواء حديث رقم 702)

      Dari Aisyah r.a: Ketika para sahabat ingin memandikan Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- mereka mengatakan: “Sungguh demi Alloh kami tidak tahu, apakah kami akan menanggalkan pakaian dari badan Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- sebagaimana kami biasanya memandikan saudara kami yang meninggal, atau kami akan memandikannya dalam keadaan beliau berpakaian (tanpa menanggalkannya)?!. Maka ketika para sahabat berselisih pendapat, Alloh ta’ala menidurkan mereka, sehingga tidak ada satupun dari mereka melainkan dagunya melekat di dadanya, kemudian dari arah rumah beliau, -tanpa tahu siapa orangnya- ada yang mengatakan: “Mandikanlah Nabi –shollallohu alaihi wasallam- dengan (tanpa menanggalkan) pakaiannya!”. Maka para sahabat pun menuju ke mayat Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- kemudian mereka memandikan beliau dengan (tanpa menanggalkan) pakaiannya”. (HR. Abu Dawud, hadits no: 3141, dan dihasankan oleh Albany dalam kitabnya al-Irwa’, hadits no:702)

      Cobalah anda jujur dan transparan dalam berdebat… Apakah dalam hadits tersebut ada kata-kata yang menyebutkan bahwa perintah tersebut merupakan wahyu??!! Sungguh tak ada sedikitpun kata-kata wahyu dalam atsar tersebut… Kata-kata bahwa itu wahyu, hanyalah klaim anda… dan tak ada satu pun dari ulama islam yang sependapat dengan anda… Lihatlah ratusan kitab-kitab syarah hadits yang telah ditulis oleh ulama islam, apakah ada satu saja dari mereka yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan wahyu?!..

      Dalam memahami hadits, janganlah kita hanya mengandalkan pikiran kita, tapi rujuklah kitab-kitab syarah hadits yang telah ditulis oleh ulama islam, agar kita terlindung dari kesesatan dalam memahami nash hadits… semoga Alloh menunjuki hamba-hambanya ke jalan yang lurus dan benar… amin…

  8. addariny mengatakan:

    Karena banyaknya komentar yang menyanggah kami, dan mengatakan bahwa MGA dalam kitab Tadzkirohnya tidak membajak Alqur’an akan tetapi hanya menukil ayat-ayat suci Alqur’an dan menulisnya kembali dalam kitabnya tersebut…

    Kami tegaskan kembali di sini bahwa:

    Kita harus bisa membedakan antara membajak ayat dengan menukil ayat.

    Yang dimaksud dengan Membajak ayat, itu mengambil ayat tersebut, dan mengakuinya sebagai ayat milik dia, bahkan sampai menyelewengkan arti dan isi kandungannya, dan inilah yang dilakukan oleh MGA.

    Berbeda dengan menukil ayat, ia hanya mengambil ayat tersebut, sebagai dalil, dan menisbahkannya ke sumber aslinya, dia tidak mengakui itu sebagai ucapannya, dan tidak menyelewengkan arti dan isi kandungannya…

    jika kita melihat ayat-ayat tadzkiroh yang kami tulis di atas, sungguh tidak bisa kita katakan itu sebuah iqtibas (menukil ayat), tapi yang terjadi adalah membajak ayat suci Alqur’an, dengan merubah makna dan isi kandungan… serta mengakui bahwa hal tersebut adalah hasil kerja MGA…

    Semoga keterangan ini jelas dan bisa dimengerti… wassalam…

  9. a22ahra mengatakan:

    Kawan-kawan Ahmadiyah… coba kalian renungkan hadits di bawah ini, hadits yang shohih dan jelas menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir, tidak ada lagi nabi setelahnya, semoga kaum ahmadiyah mendapatkan hidayah-Nya… amin.

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “فُضلت على الأنبياء بست: أعْطِيتُ جوامع الكلم، ونُصِرْتُ بالرعب، وأحِلَّت لي الغنائم، وجعلت لي الأرض طهورا ومسجدا، وأرسلت إلى الخلق كافة، وختم بي النبيون. (رواه مسلم 523)ـ

    Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Aku dilebihkan atas nabi-nabi yang lain, dengan enam kelebihan: (1) aku dianugrahi jawami’ kalim (ungkapan yang sedikit tapi padat makna), (2) aku diberi kemenangan dengan ketakutan (yang ditumbuhkan dalam hati musuh) (3) di halalkannya bagiku harta rampasan perang (4) dijadikannya bumi sebagai sesuatu yang dapat men-sucikan aku (5) diutusnya aku kepada seluruh makhluk (6) dan ditutupnya kenabian dengan (diutusnya) aku. (HR. Muslim 523)

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن لي أسماء: أنا محمد، وأنا أحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله تعالى بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب الذي ليس بعده نبي.” (رواه البخاري 4896 ومسلم 2354)ـ

    Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Aku mempunyai banyak nama: aku Muhammad, aku Ahmad, aku al-mahi (penghapus), karena Alloh telah menghapus kekufuran dengan (diutusnya) aku, aku al-khasyir (penggiring), karena manusia akan digiring di belakangku, dan aku juga al-aqib (yang mengakhiri), karenanya tiada lagi nabi setelahku.” (HR. Bukhori 4896, dan HR. Muslim 2354)

    Menurut hemat kami, kaum Ahmadiyah ini selalu mencari dalil yang jelimet dan ga jelas… tapi meninggalkan dalil yang jelas-jelas makna dan sanadnya… semoga dengan sedikit komen ini mereka jadi sadar… amin…

    Saya berterima kasih kepada saudara Addariny dengan postingan yang tiada duanya ini… salam kenal dariku… wassalam…

  10. didit mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum Wr Wb

    Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    Siapakah yang dimaksud dengan ahmad disini, Apakah ghulam ahmad ataukah Rasulullah SAW?

    Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang DIA diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim(QS.61:7)

    Kata “DIA” pada ayat ini merefer kepada siapa? ahmadkah?

    Wassalam

    • addariny mengatakan:

      Yang dimaksud Ahmad di situ adalah Nabi Muhammad bin Adulloh -shollallohu alaihi wasallam-. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- itu mempunyai banyak nama, diantaranya Ahmad, sebagaimana tercantum dalam hadits yg sudah kami sebutkan di komen sebelumnya.

      kata “DIA” itu kembali kepada mereka yang dimaksud dalam awal ayat, yaitu mereka yang berdusta kepada Alloh dan melakukan kemusyrikan, padahal ia diajak untuk mentauhidkan-Nya dan mengikhlaskan amalan hanya kepada-Nya. (lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 8, hal. 111)

    • didit mengatakan:

      Di hadits tertulis kata “asma” sedangkan dalam Al-Qur’an tertulis “ismu”, adakah perbedaan antara “Ismu” dengan “asma” menurut anda?

    • addariny mengatakan:

      kata asma’ adalah bentuk plural dari kata ismu… kalau kata ismu artinya nama, berarti kata asma’ artinya nama-nama atau banyak nama…

    • didit mengatakan:

      Bukankah “ismu” adalah nama zat sedangkan “asma” adalah nama sifat? bukankah ini berbeda?

    • addariny mengatakan:

      Mohon maaf sebelumnya… kami melihat, pertanyaan anda sangat aneh…
      Kami tidak tahu apa yang menjadi masalah anda…
      Kata “ismu” itu artinya nama… sedang kata “asma” itu bentuk jamaknya, yang berarti: nama-nama
      Bandingannya seperti kata “jasad” artinya badan… sedang kata “ajsad” itu bentuk jamaknya, yang berarti: jasad-jasad
      Misalnya lagi kata “bab” artinya pintu… sedang kata “abwab” itu bentuk jamaknya, yang berarti: pintu-pintu
      Semoga bisa dipahami dan dimengerti…

  11. Ahmad B. mengatakan:

    …Sy menunggu hasil jawaban moderasinya…smoga dapat secepatnya, kalo perlu diharapkan dgn menukil dalil yg sahih,…dan tidak asal menukil tapi ndak ada hubungannya dgn masalah…Amin

    • addariny mengatakan:

      Maaf, komen anda sebelumnya tidak kami muat, karena terlampau panjang… kami hanya akan menjawab komen yang singkat dan fokus pada masalah tertentu… kami ambil langkah ini, karena banyaknya komen yang masuk pada kami, dan keterbatasan waktu kami untuk menjawabnya… kl bisa, mohon satu komen satu pokok pikiran…

    • Ahmad B. mengatakan:

      Ass.wr.wb.

      Sy dulunya bukan pengikut Imam mahdi Muhammad.That’s it.

      Kalo Ahmadiyah bilang tidak membajak,…ya katakanlah tidak ke orang lain; kalo Ahmadiyah bilang syahadatnya sama seperti orang Islam lainnya,…ya jangan katakan syahadatnya beda !!!

      Tidak lazim setahu Saya di kalangan Ahmadiyah jika Ahmadiyah nabinya Hz.Mirza Ghulam Ahmad,…mereka pasti bilang Rasulullah saw,…jadi ya Kita katakan-lah apa adanya…

      Thanks,…Jazakumullah…
      Assalamu alaa manittabaalhuda…

    • addariny mengatakan:

      Wss.wr.wb
      Tidak hanya anda saja yang dulunya bukan dari Ahmadiyah… sebagian besar jemaat ahmadiyah, dulunya pasti bukan dari mereka, karena Ahmadiyah baru ada sejak kurang lebih seabad silam… (sungguh kami sangat bersedih telah kehilangan anda sebagai muslim sejati)

      Sungguh ironis, mengapa orang yang datangnya belakangan menjadi lebih benar… sedangkan orang yang berpegang teguh dengan ajaran islamnya para pendahulu islam menjadi salah dan sesat…?! Apakah sebelum MGA lahir, semua umat islam -bahkan para sahabat Nabi- itu sesat?! Ataukah sebelum MGA lahir, semua umat islam berada pada jalan yang lurus, kemudian setelah MGA lahir, mereka berubah menjadi sesat?! Kalau demikian, berarti kelahiran MGA, merupakan petaka besar bagi umat Islam… karena dengan lahirnya dia, umat islam berubah menjadi kafir semua…

      Itulah bahaya Ahmadiyah yang menggerogoti barisan umat islam… dengan tidak terasa, ternyata mereka terseret kepada kekafiran, padahal ia merasa masih berada dalam naungan Islam… sungguh bahaya yang sangat dan sangat besar…

      Itulah, mengapa kami memperingatkan umat islam agar tidak teperdaya dengan tampilan luar Jemaat Ahmadiyah… itulah sebabnya mengapa kami hanya menukil ayat-ayat dalam tadzkiroh dan tulisan tangan MGA… karena kami ingin tahu hakekat ajaran Agama yang telah dimodifikasi oleh MGA…

      Mengapa kami sangat sangsi dengan keterangan propagandis Ahmadiyah… karena kami mendapati banyak keterangan yang berbeda dan kontradiktif antara kitab Tadzkiroh dengan pernyataan mereka… tentunya ada yang tidak beres antara mereka dengan kitab Tadzkiroh dan tulisan tangan MGA yang lainnya…

      Ketika Tadzkiroh (hal. 496) mengatakan: “Wahai ahmad (MGA), kamu telah dijadikan sebagai seorang Rosul”, anda malah mengatakan “Tidak lazim setahu Saya di kalangan Ahmadiyah jika Ahmadiyah nabinya Hz.Mirza Ghulam Ahmad”.

      Ketika Tadzkiroh (hal. 749) mengatakan: “Laknat Alloh atas orang yang kafir (karena tidak mengakui kenabian MGA)”… tapi mereka mengatakan: “Kami tidak mengkafirkan golongan selain Ahmadiyah”.

      Ketika Tadzkiroh (hal. 436) mengatakan, bahwa Alloh memiliki banyak anak, yaitu dalam ayatnya: “Kamu (MGA) di sisi-Ku, memiliki kedudukan seperti anak-anak-Ku” mereka malah mengingkarinya..

      Ketika Tadzkiroh (hal. 51) mengatakan bahwa: “Nama Alloh tidak sempurna, sedangkan namamu (MGA) sempurna”, mereka para propagandis Ahmadiyah malah menyangkalnya…

      Lalu siapa yang lebih tahu Ahmadiyah… MGA atau Para Propagandisnya…?! Siapa yang harus kita percaya MGA atau Para Anteknya…?!

      Mudah2an jawaban ini, bisa merubah paradigma berfikir kita… marilah berfikir lebih obyektif…

      Thanks kembali wa iyyak jazakalloh….
      Waalaikumus salam ala manittaba’al Huda…

  12. Ahmad B. mengatakan:

    …Ass.wr.wb…
    Orang yg sombong, tinggi hati, suudzan,…tidak mempunyai niat yg lurus, kemauan utk mencari hakekat,…mk orang itu tidak akan mendapatkan karunia Ilahi,…karena jalan ini,…hanya diketahui oleh orang2 yg suci, bersih hatinya.
    Ahmadiyah itu ‘Islam……’tidak ada perbedaan significan dgn golongan Islam lainnya,…kecuali bahwa mereka telah mengimani wujud Imam mahdi Muhammad yg telah dikabarkan Rasulullah saw akan datang di akhir zaman,…sedangkan orang lain masih menunggu…nya entah sampai kapan. itu saja.
    Jadi jangan dengarkan orang2 yg telah memfitnah macem2,…bahkan telah mencap sesat dll,…Maukah Tuan, Sy katakan bahwa Tuan telah sesat karena telah meninggalkan Alqur’an dan sunnah,…dimana sunnah terbesar itu adalah adanya keberadaan Khalifah,Khalifah telah berdiri 100 tahun yang lalu & Tuan telah mengingkarinya…dan pengorbanan itu sunnah dalam memajukan Islam, membangun masjid2,…bukannya dengan jalan meminta-minta di jalan2???

    • addariny mengatakan:

      Paragraf pertama saya sepakat dengan anda…

      “Ahmadiyah itu Islam”,… perkataan ini sama dengan mengatakan bahwa:

      “Robot itu manusia”, hanya karena ia bisa mengaku: “aku adalah manusia”!
      “Burung beo itu gagak”, hanya karena ia bisa mengatakan: “aku burung gagak”!
      “Para Munafik itu Muslim”, hanya karena mereka juga bersyahadat.
      “Para atheis itu Muslim”, hanya karena mereka memakai jubah dan sorban.
      “Para penghalal zina itu Muslim”, hanya karena sholat lima waktu.
      “Setan itu Jibril”, hanya karena ia mendakwakan: “aku adalah Jibril yang ditugaskan untuk menurunkan wahyu kepadamu”!.

      Dengan hanya mengatakan bahwa “Islam membolehkan zina” saja, kita bisa murtad, apalagi dengan mengatakan bahwa Ada Nabi lagi setelah Muhammad, dan itulah Mirza Ghulam Ahamad…” cobalah anda isi diri dengan ilmu fikih, terutama masalah hukum murtad, sebelum anda membuka mulut dalam masalah itu…
      Sudah menjadi kesepakatan ulama Islam sejak dulu… bahwa siapa yang mengaku nabi setelah Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- wafat maka ia jadi murtad… Ulama islam juga sepakat bahwa orang mengikuti pendakwa nabi palsu itu juga menjadi murtad… cobalah anda merujuk apa yang kami utarakan ke kitab-kitab fikih umat islam, dalam BAB RIDDAH… tentunya anda akan merujuk ke kitab umat islam (bukan kitab jemaat ahmadiyah) jika anda mengaku sebagai umat islam.

      Timbangan sesat dan tidak, hanya bersumber dari Alqur’an, Hadits dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama,… bukan dengan mem-vonis dengan mulut kosong belaka… Dan sudah jelas, tidak ada kesepakatan dari ulama islam bahwa yang mengingkari kekholifahan MGA menjadi MURTAD… apalagi dalil Alquran dan Hadits, tentunya tidak ada sama sekali…
      Sekian… mohon maaf sebelum dan sesudahnya… semoga kelancangan redaksi kami, bisa dimaklumi adanya…

  13. Ahmad B. mengatakan:

    …janganlah bertanya rasa buah kelapa yg manis & airnya banyak menyegarkan…pada tukang mengkudu,…yg buahnya pahit…Tuan.

    Ternyata Islam itu terbagi 3 sekarang : Syiah, Ahlu sunnah wal jamaah & Ahmadiyah yang mempunyai 1 Khalifah internasional (Sunnah Islam terbesar…itu saja,…)
    lihatlah disana Ahmadiyah itu Islam atau syetan atau iblis,…kalo terbukti Ahmadiyah itu ‘Islam Sejati’ maka orang2 yg melawannya, sebagai syetan/iblisnya…
    Jadi Sy menyarankan segeralah bertaubat,…mumpung anda masih diberi umur yg panjang,…dan laksanakan wasiat Rasulullah saw,…apabila kamu mendengar,…

    Imam mahdi Muhammad telah datang,…maka segeralah berbaiat membaca syahadat kepada Beliau / penggantinya (Imam Zaman),…
    walaupun Tuan2 menghadapi kesulitan yg sangat besar,…itu lebih baik daripada Tuan2,…melawan dan masuk jahanam…Smoga bermanfaat.

    • addariny mengatakan:

      Alhamdulillah kami tidak melakukan apa yang anda larang… Bahkan yang kami lakukan adalah melihat ajaran agama Ahmadiyah langsung pada tulisan pendirinya… yakni Tadzkiroh dan kitab tulisan tangan MGA lainya… dan itu lebih obyektif ketimbang menanyakan kepada mereka yang mungkin hanya bermodal semangat fanatisme saja…

      Anda mengatakan bahwa Islam terbagi menjadi tiga… itu sangat bertentangan dengan sabda Baginda Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bahwa Islam terbagi menjadi 73 kelompok… Bukankah ucapan beliau lebih benar dari ucapan anda…?!

      Yang jelas kami telah dapati, bahwa “Ahmadiyah itu bukan Islam”, atau bisa saja anda gunakan redaksi “Ahmadiyah itu Islam tapi gadungan”.

      Memang, kami tidak heran dengan banyaknya fakta “maling teriak maling”, “pembajak teriak, awas barang bajakan” dan “parasit teriak, waspada parasit”. Umat Muhammad bin Abdulloh -bukan umat MGA- dianjurkan untuk selalu bertaubat dan beristighfar… tidak ada muslim yang luput dari dosa… dan Alloh akan mengampuni mereka yang berada di jalan-Nya… Dia takkan mengampuni dosa syirik dan kafir… walaupun seribu kali taubat dalam seharinya… Ia maha mengampuni dosa bagi mereka yang menetapi syarat diampuni dosanya… wallohu a’lam…

      Sungguh tidak masuk akal sehat… bagaimana bisa Nabi Isa putra Maryam, Imam Mahdi putra Abdulloh, dan MGA putra Murtadho… itu menyatu dalam satu jasad… Bukankah mereka memiliki ibu yang berbeda-beda… bukankah Abdulloh -ayah Imam Mahdi- itu berbeda dengan Murtadho -ayah MGA-??! Cobalah pikir dengan rasio yang lurus…

      Kami selalu berlindung kepada Alloh, agar tidak menjadi orang yang sengsara di dunia dan di akherat… kami selalu berlindung kepada Alloh, agar tidak menjadi orang kafir yang sengsara di dunia dan dan masuk neraka di akhiratnya… naudzubillah… tsumma naudzubillah…

      Sekian, terima kasih atas partisipasinya…

  14. Ahmad B. mengatakan:

    …Sebelum Beliau…mendakwakan dirinya sebagai Imam mahdi Muhammad,Isa muhammadi, Krishna, budha…

    (tapi pada saat tersebut, oleh kalangan orang Islam di Hindustan,…Beliau dianggap sebagai ‘orang suci’, mujaddid,…karena kecakapan Beliau dalam membela Islam yg diserang dan menjadi bulan2an cemoohan pengikut agama lain…; bahkan pada tahun 1990 s/d sekarang pun banyak yg menulis bahwa Beliau sebagai Mujaddid,…hanya sebatas Mujaddid. khan lumayan,…Tuan.pengakuan seperti itu sangatlah susah lho, mungkin karena salah satunya karangan2 Beliau itu lebih dari 80 buah judul buku Islam)…

    Beliau itu masih mempercayai Isa di langit,…(karena di masyarakat umum alur kepercayaan ini sangat kuat)…walaupun Sy mempunyai pendapat…bahwa Beliau sebenarnya dalam hati kecilnya,…tetap mempertanyakan hal ini,…menganggapnya sebagai suatu yg janggal,…tetapi saat itu Beliau…mengikuti apa yg telah ada…
    Smoga keterangan ini dapat membuat Tuan2 terbuka dan ‘heran’…Amin

    • addariny mengatakan:

      Hanya orang yang tidak normal yang mengaku bahwa dirinya adalah Imam Mahdi putra Abdulloh, Isa putra Maryam, Krishna, dan Budha…!! Saya yakin orang yang berakal sehat tidak akan menerima hal ini…

      Tentang klaim bahwa dia adalah Mujaddid, itu sangat bertentangan dengan klaim bahwa dia adalah NABI PALSU dan pembohong… dan sayangnya orang yang menyematkan lebel, pangkat, dan titel NABI PALSU dan pembohong itu sangat lebih banyak dari pada mereka yang memujinya…

      Bahkan kalaupun MGA itu mengarang lebih dari seribu judul buku, tapi kalau isinya kesesatan, itu malah menjadikannya semakin dicela dan semakin menambah deras kucuran dosanya…

      Banyak juga orang lain yang mempunyai karangan lebih dari seratus judul buku. Tidak tahukah anda Imam Suyuthi, Ibnul Jauzi, muhammad al-Ghozali dan para ulama-ulama Islam lainnya… Tentunya MGA tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, apalagi diberi pangkat mujaddid bahkan Nabi?!

      Subhanalloh… kepada orang yang anda anggap sebagai nabi saja anda tidak percaya dan menyelisinya?! Lalu sebenarnya siapa rujukan anda dalam berakidah?! Apakah anda merasa lebih pintar dari nabi anda itu?! Lantas apa gunanya ia sebagai Nabi, jika anda tidak mempercayai ucapannya?!…

      Semoga anda mendapatkan hidayah-Nya… amin.

  15. sansan mengatakan:

    Sdr Addariny, daripada persoalkan ahmadiyah yg tdk berbahaya, apakah anda setuju pembubaran jemaah islamiah? Pemikiran mereka membunuh orang Amerika dimanapun halal, apakah anda setuju? Bukankah ini berbahaya, mengapa ribuan muslim mengikutinya. SAYA SANGAT PRIHATIN TENTANG HAL INI.

    • addariny mengatakan:

      Kami setuju pembubaran ahmadiyah dan jemaah islamiyah, kedua-duanya sangat berbahaya lahir batin, tapi Ahmadiyah bahaya batinnya lebih menonjol, sedangkan Jemaah Islamiyah bahaya lahirnya lebih menonjol.
      Jadi tidak benar, kalau anda mengatakan bahwa Ahmadiyah tidak berbahaya, karena keyakinan Ahmadiyah bisa menyeret seorang muslim menuju kekufuran tanpa ia menyadarinya. Dari sisi ini Ahmadiyah lebih berbahaya dibanding JI.
      Kami sangat tidak setuju dengan paham JI, yang menghalalkan penyerangan kepada Kafirin di daerah non konflik, tindakan mereka itu lebih merugikan Islam dan penganutnya!!! Dan tindakan mereka itu adalah wujud ke-pengecut-an mereka, seandainya mereka gentle, seharusnya mereka melakukan penyerangan ke pusat-pusat pertahanan kafirin, bukan malah merusak negara kaum muslimin sendiri!!!
      Kami setuju dengan anda, bahwa pemikiran JI (takfiri) sangat berbahaya sekali. Tentang mengapa ribuan muslim mengikutinya, maka jawabannya adalah karena mereka juga punya gerakan dakwah untuk menggaet massa, dan tentunya orang-orang yang hanya bermodal semangat jihad tanpa ilmu yang memadai akan terjerat dengan dakwah mereka, jumlah mereka bisa ribuan, apalagi kalau kita hitung dalam sekala dunia, tidak menutup kemungkinan mencapai jutaan.
      InsyaAlloh dalam waktu-waktu mendatang, kami juga akan mem-posting artikel-artikel tentang mereka. Memang karena blog ini pribadi, dan kondisi kami yang krisis waktu karena banyak kesibukan lain, kami mohon maaf jika kurang tanggap dengan masalah-masalah yang berkembang di lapangan… Kami juga yakin banyak blog-blog lain yang membahas masalah tersebut, jadi jangan kuatir akan kehabisan sumber ilmu dari internet.
      Saya juga sangat prihatin dengan berkembangnya organisasi JI ini, tapi kami tidak putus harap, semoga Alloh tetap melindungi hambanya yang muslim dari banyak fitnah (cobaan), baik yang menyerang lahir maupun batin… Amin.

  16. ahmadb mengatakan:

    ISA TERUS KEMANA TUAN2…DIANGKAT KE LANGIT ??… MANA ADA DALAM AYAT AL-QUR’AN TSB, PERKATAAN ‘ILAASSAMA’I’ ???… APAKAH TUAN2 HENDAK MENGATAKAN BAHWA NABI ISA MASIH HIDUP DI LANGIT…?? NTAR SESUAI DENGAN HADITS NABI…AKAN DATANG DI AKHIR ZAMAN…??

    • addariny mengatakan:

      Subhanalloh… tidakkah anda membaca dan menghayati Alqur’an dan Hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-!
      Ketidak-tahuan anda tentang ayat dan hadit yang menerangkannya, bukan berarti pengetahuan anda tentang tidak adanya ayat dan hadits yang menerangkan hal itu!!!

      Cukuplah sebagai jawaban pertanyaan anda Ayat dan Sabda Nabi berikut ini:

      Alloh berfirman: “Akan tetapi Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Alloh adalah Dzat yang maha perkasa lagi maha bijaksana” (an-Nisa:158)

      Lihatlah bagaimana tafsir ayat tersebut dalam tafsir at-Thobari (9/378):
      يعني: بل رفع الله المسيح إليه. يقول: لم يقتلوه ولم يصلبوه، ولكن الله رفعه إليه، فطهَّره من الذين كفروا.
      Artinya: Akan tetapi Alloh mengangkat Isa kepada-Nya, Dia men-firmankan: “mereka (kaum yahudi) tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, akan tetapi Alloh mengangkatnya kepadanya”, sehingga ia menyelamatkannya dari ulah para kafirin.

      Lihatlah penuturan Ibnu Abbas dengan sanad yang shohih berikut ini, tentang pengangkatan Isa ke langit:

      عن ابن عباس قال: لما أراد الله أن يرفع عيسى إلى السماء، خرج على أصحابه -وفي البيت اثنا عشر رجلا من الحواريين-يعني: فخرج عليهم من عين في البيت، ورأسه يقطر ماء … ثم قال: أيكم يلقى عليه شبهي، فيقتل مكاني ويكون معي في درجتي؟ فقام شاب من أحدثهم سنا، فقال له: اجلس. ثم أعاد عليهم فقام ذلك الشاب، فقال: اجلس. ثم أعاد عليهم فقام الشاب فقال: أنا. فقال: أنت هو ذاك. فألقي عليه شبه عيسى ورفع عيسى من روزنة في البيت إلى السماء. قال: وجاء الطلب من اليهود فأخذوا الشبه، فقتلوه ثم صلبوه.

      Dari Ibnu Abbas r.a.: Ketika Alloh berkehendak untuk mengangkat Isa ke langit, maka beliau (Isa) keluar menemui para sahabatnya dengan kepala yang meneteskan air, saat itu di rumahnya ada 12 orang sahabat setianya (Hawariyin)…. Isa lalu menawarkan: “Siapa diantara kalian yang bersedia diserupakan dengan aku, hingga ia akan dibunuh menggantikanku, dan (balasannya) ia akan bersamaku sederajat dengan aku?”. Maka berdirilah sahabatnya yang paling muda umurnya. Isa mengatakan: “Duduklah!”. Lalu Isa mengulangi lagi ucapannya, dan pemuda yang sama berdiri lagi, maka ia katakan: “Duduklah!”. Lalu isa mengulangi lagi (untuk yg ketiga kali), dan pemuda itu pun berdiri lagi dan mengatakan: “Saya”. Maka Isa mengatakan: “Kamulah orang itu!”. Maka jadilah ia serupa dengan Nabi Isa. Kemudian Nabi Isa diangkat (ke langit) melewati ventilasi udara yang ada di atap rumahnya.
      Ibnu Abbas meneruskan ceritanya: “Kemudian datanglah utusan Kaum Yahudi, mereka mengambil pemuda yang telah diserupakan dengan Isa itu, dan membunuhnya, lalu menyalibnya. (lihat keterangan ini dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, hal. 449)

      Dan Nabi Isa akan turun ke dunia lagi di akhir zaman, yakni setelah keluarnya Dajjal, sebagaimana dalam sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan sanad yang shohih berikut:
      ينزل عيسى ابن مريم عند المنارة البيضاء شرقي دمشق
      (Nabi) Isa putra Maryam akan turun di menara putih, sebelah timur Kota Damaskus. (HR. Thobroni. Dishohihkan oleh Albany dalam shohih jami’us shoghir, hadits no. 8169)

      Itulah diantara akidah Umat Islam, yang bersumber dari Ayat Alqur’an dan Hadits yang shohih…
      Demikian jawaban pertanyaan anda, semoga bisa menjadi renungan untuk kita semua…

  17. sansan mengatakan:

    yth addariny,bisakah saya bertanya via email?

    • addariny mengatakan:

      InsyaAlloh bisa… anda bisa lihat alamat email kami di halaman PROFIL (sebelah kiri atas)…

  18. Sansan mengatakan:

    buat pak Addariny dan seluruh umat muslim di tanah air saya ucapkan “SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA.”

  19. Risang mengatakan:

    Wah komplit banget….. mangstaf…….

    Rajin banget nulisnya…..

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita hidayah….. sehingga selalu berjalan diatas jalanNya yang lurus

  20. ahmad mengatakan:

    menilik debat yang sangat hangat dari atas, ada beberapa komentar ana pribadi
    1. jika kita masih merasa islam, maka kita masih beriman bahwa Alquran adalah kitab suci kita

    2. Alquran memerintahkan kita untuk kembali kepada Alquran dan sunnah nabi jika kita berselisih dalam hal apapun “fa in tannaza’tum fii syai-in fa rudduuhu ilallah war rasul” itu -hanya dan jika hanya – kita memang masih beriman sebagaimana lanjutan ayat tsb “jika kalian benar benar beriman pada Allah dan hari akhir”

    3. dan tentunya kita mesti mengikuti jalannya/caranya/manhajnya orang beriman dalam menafsiri, memahami dan mengamalkan keduanya. “dan barangsiapa menentang rasul setelah JELAS BAGINYA PETUNJUK dan mengikuti JALAN SELAIN JALANNYA ORANG BERIMAN maka kami akan palingkan ia kemana ia ingin berpaling dan kelak kami jebloskan ia kedalam neraka jahannam”

    4. orang beriman yang mana yang dimaksud dalam ayat ini? bukankah kita juga beriman? maka jawabnya adalah : orang beriman yang telah disebutkan dalam alquran itu sendiri “dan jika mereka beriman seperti imannya kalian maka sungguh mereka telah tertunjuki”. maka jawablah dengan jujur -demi ALlah- siapalagikah yang Allah sebut dengan “kalian” dalam ayat ini kalau bukan para sahabat nabi saw?bukankah Alquran turun pada mereka..

    5. kepada yang masih bersikeras akan islamnya ahmadiyah kami katakan : jika kita tidak berdebat secara ilmiyah dan merujuk pada alquran dan sunnah shahihah dengan mengacu pada “jalan/metode/manhaj orang beriman (sahabat nabi saw)”dalam debat kita, maka akan dibawa kemana keislaman kita?? bukankah itu semua adalah perintah Alquran? kiranya kita tidak perlu meneruskan pertanyaan jika memang dari awal sudah tidak ada kesepakatan mengenai landasan yang kita pijak dalam debat, baik dalam “pemilihan” landasan itu sendiri (Alquran dan sunnah nabi yang SHAHIHAH) maupun dalam “cara pakai” landasan tsb (metode/manhaj/jalan para sahabat nabi saw)..jadinya justru “debat kusir” dan kurang nyambung (“jaka sembung naik ojek…”). tidak cukupkah mubahalah yang gagal dari MGA menjadi DALIL bahwa dia berdusta??

    “barangsiapa ditunjuki maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan, maka tiada yang mampu menunjukinya”

    sekian komentar, mhn maaf atas kata yang kurang berkenan
    wassalamu’alaikum

  21. Jamhur mengatakan:

    Sudahkah Tuan meminta pendapat masalah ini dengan orang Ahmadiyya langsung? klo masalah ini saya sudah banyak dengar. yg saya inginkan adalah keterangan langsung dari orang Ahmadiyahnya langsung. klo ada timbal balik itu akan lebih baik, tp klo pendapat hanya sepihak saya masih penasaran

    • addariny mengatakan:

      Di sini kita membahas kitab yang dijadikan sumber mereka… Jika ada yang menyanggah, silahkan menyanggahnya dengan mengajukan penafsiran untuk ayat-ayat yang ada pada Kitab sumber mereka itu…

  22. ndie mengatakan:

    assalamualaikum wr.wb…

    YA ALLAH….berikanlah hidayah kepada orang2 yang telah mengklaim diri mereka sebagai ajaran yang benar dan membenarkan….karena semua sudah jelas, islam ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan…sangat disayangkan mereka merasa ajaran islam mereka lah yang paling benar padahal sudah jelas bahwa mereka adalah KAUM YANG SESAT….TUNJUKILAH MEREKA JALAN YANG LURUS, YA ALLAH….

  23. ndie mengatakan:

    untuk yang punya blog…syukron atas penjelasan nya saya merasa bertambah yakin kalau ahmadiyah adalah ajaran yg sangat2 sesat..jazakillah khoir atas penjelasan dari dalilnya

  24. abu Abian mengatakan:

    jazakallah khair atas artikelnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s