Arsip untuk Juli, 2009

katakan tidak kpd maksiatSuatu ketika seorang lelaki mendatangi Ibrohim bin Ad-ham… ia mengatakan: “Wahai Abu Ishaq (panggilan kesayangan Ibrohim)! Sungguh, aku ini orang yang terlalu menuruti hawa nafsuku, maka ku mohon berikan aku nasihat yang dapat mencegah dan menyelamatkan hatiku!

Maka Ibrohim mengatakan: “Jika kamu setuju dan mampu menerapkan lima perkara ini, maka kemaksiatan tidak lagi membahayakanmu, dan kenikmatan tidak lagi menjerumuskanmu”.

Lelaki itu mengatakan: “Wahai Abu Ishaq, Sebutkanlah lima perkara itu!” (lebih…)

shohih muslimBab: Mahrom dari persusuan, sebagaimana mahrom dari kelahiran

(874) Dari Aisyah r.a. : Suatu hari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersamanya, dan ia mendengar suara laki-laki meminta izin  di rumah Hafshoh. Ia pun mengatakan: “Wahai Rosululloh! Orang itu minta izin di rumahmu”. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Sepertinya itu paman sepersusuannya Hafshoh”. Aisyah balik bertanya: “Wahai Rosululloh! (Apa boleh) seandainya si fulan paman sepersusuannya Hafshoh masih hidup, masuk menemuiku?” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menjawab: “Ya (boleh), karena persusuan itu me-mahrom-kan siapa saja yang di-mahrom-kan oleh kelahiran”.

Bab: Orang yang disusui menjadi mahrom suaminya ibu yang menyusui

(875) Aisyah r.a. mengisahkan: Paman sepersusuanku (pernah) datang dan meminta izin untuk menemuiku, maka akupun menolaknya. Sehingga ia meminta Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- agar menyuruhku untuk mengizinkannya (menemuiku). Ketika Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mendatangiku, aku mengatakan: “Sesungguhnya paman sepersusuanku datang meminta izin untuk menemuiku, dan aku menolaknya”. Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Biarkanlah pamanmu menemumu!” aku menjawab: “Tapi yang menyusuiku adalah istrinya, bukan suaminya?!” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan lagi: “Sesungguhnya dia adalah pamanmu, biarkanlah ia menemuimu!” (lebih…)

IMAM_MAHDI_by_Nice_birdBismillah… Telah terukir dalam sejarah, banyak sekali orang yang mengaku sebagai Mahdi yang digambarkan dalam hadits-hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Lihatlah sebagai contoh: Ubaidulloh bin Maimun al-Qoddah (322 H), Ibnu Taumarta di maroko (524 H), Muhammad Ahmad di Sudan (1302 H), Muhammad bin Abdulloh al-Qohthoni (1400 H), Mirza Ghulam Ahmad (1908 M) dan masih banyak lagi, mereka semua adalah para Mahdi palsu yang mendatangkan banyak kerugian dan kesesatan.

Karena kabar tentang akan keluarnya Imam Mahdi itu datang dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka sebenarnya cara paling pas untuk menilai ke-MAHDI-an seseorang, hanyalah dengan mencocokkannya dengan keterangan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Pertanyaannya: Apakah beliau telah menerangkan kepada umatnya tentang rincian Imam Mahdi itu secara detail?!

Tentu jawabannya adalah “Ya”, mengapa?! Karena tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh umat manusia kecuali telah beliau sampaikan semasa hidupnya, baik hal itu berupa kabar, peringatan ataupun anjuran. Itulah diantara sebab mengapa beliau dijuluki sebagai Nabi Pembawa Rahmat Bagi Seluruh Alam.

Dalam artikel ini, kita akan menelaah hadits-hadits tentang Imam Mahdi, semoga bisa menjadi barometer bagi kita untuk memastikan ke-MAHDI-an seseorang. (lebih…)

pluralisme-keragaman-jelajah-budayaSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasul-Nya, keluarga dan para sahabat beliau dan orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat, wa ba’du:

Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa (Negara Saudi Arabia), telah membahas pertanyaan yang masuk, serta pendapat, dan tulisan yang dimuat di berbagai media massa tentang propaganda menuju pluralisme agama; Islam, Yahudi dan Kristen.

Rentetan dari propaganda ini, diantaranya: Himbaun untuk membangun masjid, gereja dan sinagog dalam satu komplek, seperti dalam sebuah kampus, Bandar udara dan tempat-tempat umum, juga himbaun untuk mencetak Al Quran, Taurat dan Injil dalam sebuah buku…dst. Dan untuk hal itu, mereka telah menyelenggarakan symposium, seminar dan organisasi di negara barat dan di timur.

Setelah mempertimbangkan dan mengkaji, maka kami -Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Negara Saudi Arabia- menetapkan sebagai berikut:

Pertama:

Dalam aqidah Islam -yang diketahui secara aksiomatis dan telah disepakati oleh kaum muslimin-, bahwa tiada agama yang benar di muka bumi ini kecuali agama Islam, yang menjadi penutup seluruh agama, dan membatalkan ajaran agama-agama sebelumnya. Maka tidak ada agama untuk menyembah Allah di muka bumi selain Islam, Allah berfirman, (QS. Ali Imran:85): (lebih…)

question-mark-1(161) Sebagian syiah menuduh Aisyah r.a. telah berzina –naudzubillah-.

Maka kita katakan kepada mereka: Jika tuduhan itu benar, mengapa Rosululloh tidak menegakkan hukuman zina kepadanya, padahal beliau telah mengatakan “Demi Allah, andai saja Fatimah yang mencuri, maka pasti aku potong tangannya”??! (HR. Bukhori) Mengapa Ali r.a. juga tidak menegakkan hukuman zina kepadanya, padahal ia adalah orang yang tak gentar dengan apapun dijalan Allah??! Mengapa pula Hasan r.a. tidak menghukumnya dengan hukuman zina, ketika ia menjadi kholifah??!

(162) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. memiliki Alqur’an yang susunannya sesuai dengan urutan turunnya!

Kita katakan kepada mereka: Ali r.a. telah menerima tampuk khilafah setelah Utsman r.a, mengapa ia tidak mengeluarkan mushaf ini dengan lengkap dan baik?! Dua kemungkinan untuk kalian:

(a) Bisa jadi mushaf ini sebenarnya tidak ada, dan kalian hanya berdusta atas nama Ali r.a.

(b) atau mungkin mushaf itu ada dan Ali r.a. menyembunyikannya. Jika demikian, berarti ia telah menyembunyikan, dan menipu kaum muslimin selama pemerintahannya. –dan ini tidak mungkin dilakukan olehnya-. (lebih…)

shohih muslimKITAB LI’AN [1]

Bab: Jika seorang suami mendapati istrinya (selingkuh) dengan orang lain

(865) Sahl bin Sa’d as-Sa’idy mengabarkan: bahwa Uwaimir al-Ajlany datang dan bertanya kepada Ashim bin Adiy al-Anshory, “Apa pendapatmu wahai Ashim, jika seorang suami mendapati istrinya selingkuh dengan orang lain? Apa ia membunuh orang tersebut dan mereka akan balas membunuhnya (di qishos)? Atau apa yang seharusnya ia lakukan? Tolonglah wahai Ashim, tanyakan hal ini kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-!

Kemudian Ashim menanyakannya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tetapi beliau tidak senang dengan masalah-masalah itu dan mencelanya, sehingga apa yang didengarnya dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- membuat resah hatinya. Ketika Ashim pulang ke rumahnya, datanglah Uwaimir bertanya: “Wahai Ashim! Apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-? Ia menjawab: “Pertanyaanmu itu tidak mendatangkan kebaikan bagiku, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak senang dengan masalah yang kau tanyakan”. Uwaimir berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan berhenti, aku akan tanyakan langsung kepada beliau!”.

Kemudian Uwaimir beranjak menemui Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- di tengah kerumunan orang, ia berkata: “Wahai Rosululloh! Apa yang harus dilakukan seorang suami, yang mendapati istrinya berselingkuh dengan orang lain? Apa ia membunuh orang tersebut dan mereka akan balas membunuhnya (di qishos)? Atau apa yang seharusnya ia lakukan? Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Alloh telah menurunkan ayat tentang kamu dan istrimu, maka datangkanlah dia”

Sahl mengatakan: Kemudian keduanya mengucapkan sumpah li’an, saat itu aku dan orang-orang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Ketika keduanya selesai, Uwaimir mengatakan: “Wahai Rosululloh! Sungguh aku telah berdusta kepadanya, jika aku mempertahankannya (sebagai istriku)! Lalu ia mentalaknya sebanyak tiga kali, sebelum Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan hal itu kepadanya. Ibnu Syihab mengatakan: maka itu menjadi tuntunan bagi orang yang melakukan sumpah li’an. (lebih…)

Question (1)(107) Mengapa kaum syiah memberikan derajat ma’shum kepada Fatimah r.a., tapi mereka tidak memberikan derajat ke-ma’shum-an tersebut kepada dua saudarinya: Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.??! Padahal kita tahu keduanya juga darah daging Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- seperti Fatimah r.a.!!

(108) Jika dikatakan kepada syiah: Mengapa Ali r.a. tidak menuntut haknya untuk menjadi kholifah setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sebagaimana anggapan mereka hal tersebut jelas termaktub dalam wasiat beliau??!

Mereka menjawab: karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga mewasiatkan agar ia tidak menyulut fitnah (kericuhan) dan menghunuskan pedangnya sepeninggal beliau.

Kita katakan: Lalu mengapa ia menghunuskan pedangnya ketika perang Jamal dan perang Shiffin, sehingga menyebabkan ribuan orang gugur di dalamnya??! Siapakah sebenarnya yang lebih berhak ditumpas, orang dholim yang pertama, ataukah yang keempat, atau yang kesepuluh… dst??! (lebih…)

shohih muslimBab: Wanita Hamil, Jika Melahirkan Setelah Suaminya Wafat

(858) Dari Ubaidulloh bin Abdulloh bin Utbah bin Mas’ud, bahwa bapaknya menulis perintah kepada Umar bin Abdulloh bin Arqom Azzuhry, untuk menemui Subai’ah bintil Harits al-aslamiyyah, guna menanyakan peristiwa yang dialaminya dan apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ketika ia meminta fatwa kepada beliau.

Kemudian Umar bin Abdulloh menulis jawaban kepada Abdulloh bin Utbah, (isinya) sesungguhnya Subai’ah mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya ia adalah istrinya Sa’ad bin Khoulah, -seorang dari bani Amir bin Lu-aiy, dan salah satu pasukan perang badar-. Ia wafat pada waktu haji wada’, di saat istrinya sedang hamil. Tidak berapa lama setelah itu  istrinya melahirkan.

Ketika suci dari nifasnya ia menghias diri untuk mereka yang ingin melamarnya. Melihat kejadian itu Abu Sanabil bin Ba’kak –seorang dari bani dar- menemuinya, ia menanyakan: “Kenapa ku lihat kamu menghias diri? Apakah kamu ingin menikah? Demi Alloh kamu tidak boleh menikah sebelum selesai masa empat bulan lebih sepuluh hari!” Subai’ah mengatakan: “Mendengar ucapan itu, segera aku kumpulkan baju-bajuku pada sore harinya, kemudian aku menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan hal itu, maka beliau mem-fatwa-kan bahwa aku telah halal (boleh menikah) ketika aku melahirkan, dan menyuruhku untuk menikah jika aku menghendakinya”.

Ibnu Syihab mengatakan: “Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa boleh baginya menikah, langsung setelah melahirkan, walaupun masih dalam masa nifas, asalkan suaminya tidak menggaulinya sampai ia suci dari nifasnya”. (lebih…)

question_mark01Alhamdulillah, artikel tentang syiah ini bisa kami lanjutkan lagi… semoga dapat menjawab banyak keganjilan yang terdapat dalam ajaran syiah yang dewasa ini banyak menyebar hingga di sekeliling kita…  jangan lupa saran dan kritik anda sangat kami nantikan… selamat membaca…

(55) Abul Faroj al-Ashbahaniy dalam kitabnya Maqotilut Tholibiyyin (88, 142, 188), al-Arbiliy dalam kitabnya Kasyful Ghummah (2/66), dan al-Majlisiy dalam kitabnya Jala’ul Uyun (582), mereka telah menyebutkan bahwa: Abu bakar bin Ali bin Abi Tholib r.a. adalah diantara orang yang terbunuh di Karbala bersama saudaranya Husain r.a. Terbunuh juga waktu itu, anaknya Husain yang namanya Abu Bakar. Terbunuh pula Muhammad al-Ashghor yang mempunyai kun-yah Abu Bakar.

Pertanyaannya: Mengapa nama-nama itu disembunyikan oleh syiah??! Mengapa mereka hanya menggembar-gemborkan nama Husain r.a. dalam peristiwa itu??!

Sebabnya adalah karena saudara dan anaknya Husain r.a., keduanya bernama Abu Bakar!! Ulama syiah tidak ingin fakta ini diketahui oleh pengikut mereka dan kaum muslimin. Mengapa?? Karena hal itu akan menyingkap kebohongan mereka ketika menuduhkan adanya permusuhan antara ahlul bait dengan para pemuka sahabat, terutama Abu Bakar r.a.

Karena seandainya -sebagaimana keyakinan syiah- Abu Bakar r.a. itu telah murtad, kafir, dan merampas haknya Ali r.a., tentunya tidak mungkin banyak ahlul bait yang memiliki nama Abu Bakar??!

Adanya fakta tentang banyaknya nama ahlul bait yang sama dengan nama Abu Bakar, adalah bukti kecintaan mereka terhadap Abu Bakar as-Shiddiq r.a.!!

Lalu mengapa kaum syiah tidak mengikuti Ali r.a. dan Husein r.a. untuk menamai anak mereka dengan nama Abu Bakar??! (lebih…)