Arsip untuk 7 Juli 2009

shohih muslimBab: Suami yang mencerai istrinya ketika haid

(848) Nafi’ mengatakan: Ibnu Umar pernah menceraikan istrinya saat sedang haid. Lalu Umar menanyakan hal itu kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Maka beliau menyuruhnya untuk merujuknya kembali dan menangguhkan talaknya hingga si istri haid lagi, kemudian menunggu lagi hingga si istri suci. Setelah itu, ia baru boleh mentalaknya asalkan belum menggaulinya. Itulah masa iddah yang diperintahkan oleh Allah Taala bagi wanita yang diceraikan.

Nafi’ mengatakan: (Setelah kejadian itu), jika Ibnu Umar ditanya tentang hukum orang yang mentalak istrinya ketika haid, ia menjawab: “Apabila kamu baru mentalaknya satu atau dua kali, maka sungguh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, telah menyuruh orang yang melakukan hal itu untuk merujuknya, lalu menangguhkan talaknya sampai si istri haid lagi, lalu menunggu lagi hingga si istri suci. Setelah itu, ia baru boleh mentalaknya asalkan belum menggaulinya”.

Tetapi apabila ia sudah mentalaknya sebanyak tiga kali, maka (Ibnu Umar mengatakan): “Sungguh kamu telah melanggar syariat Tuhanmu dalam mentalak istrimu, dan sekarang ia sudah bukan istrimu lagi!”.[1] (lebih…)