Arsip untuk 16 Juli 2009

Question (1)(107) Mengapa kaum syiah memberikan derajat ma’shum kepada Fatimah r.a., tapi mereka tidak memberikan derajat ke-ma’shum-an tersebut kepada dua saudarinya: Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.??! Padahal kita tahu keduanya juga darah daging Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- seperti Fatimah r.a.!!

(108) Jika dikatakan kepada syiah: Mengapa Ali r.a. tidak menuntut haknya untuk menjadi kholifah setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sebagaimana anggapan mereka hal tersebut jelas termaktub dalam wasiat beliau??!

Mereka menjawab: karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga mewasiatkan agar ia tidak menyulut fitnah (kericuhan) dan menghunuskan pedangnya sepeninggal beliau.

Kita katakan: Lalu mengapa ia menghunuskan pedangnya ketika perang Jamal dan perang Shiffin, sehingga menyebabkan ribuan orang gugur di dalamnya??! Siapakah sebenarnya yang lebih berhak ditumpas, orang dholim yang pertama, ataukah yang keempat, atau yang kesepuluh… dst??! (lebih…)

shohih muslimBab: Wanita Hamil, Jika Melahirkan Setelah Suaminya Wafat

(858) Dari Ubaidulloh bin Abdulloh bin Utbah bin Mas’ud, bahwa bapaknya menulis perintah kepada Umar bin Abdulloh bin Arqom Azzuhry, untuk menemui Subai’ah bintil Harits al-aslamiyyah, guna menanyakan peristiwa yang dialaminya dan apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ketika ia meminta fatwa kepada beliau.

Kemudian Umar bin Abdulloh menulis jawaban kepada Abdulloh bin Utbah, (isinya) sesungguhnya Subai’ah mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya ia adalah istrinya Sa’ad bin Khoulah, -seorang dari bani Amir bin Lu-aiy, dan salah satu pasukan perang badar-. Ia wafat pada waktu haji wada’, di saat istrinya sedang hamil. Tidak berapa lama setelah itu  istrinya melahirkan.

Ketika suci dari nifasnya ia menghias diri untuk mereka yang ingin melamarnya. Melihat kejadian itu Abu Sanabil bin Ba’kak –seorang dari bani dar- menemuinya, ia menanyakan: “Kenapa ku lihat kamu menghias diri? Apakah kamu ingin menikah? Demi Alloh kamu tidak boleh menikah sebelum selesai masa empat bulan lebih sepuluh hari!” Subai’ah mengatakan: “Mendengar ucapan itu, segera aku kumpulkan baju-bajuku pada sore harinya, kemudian aku menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan hal itu, maka beliau mem-fatwa-kan bahwa aku telah halal (boleh menikah) ketika aku melahirkan, dan menyuruhku untuk menikah jika aku menghendakinya”.

Ibnu Syihab mengatakan: “Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa boleh baginya menikah, langsung setelah melahirkan, walaupun masih dalam masa nifas, asalkan suaminya tidak menggaulinya sampai ia suci dari nifasnya”. (lebih…)