Arsip untuk 5 September 2009

islamup_com-ec050929ffSebelum masuk ke dalil berikutnya, penulis ingin menyampaikan permintaan maaf kepada Majalah Qiblati yang merasa terusik dengan artikel ini. Penulis minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Qiblati karena redaksi artikel pertama yang terkesan menyerang orang yang tidak setuju dengan kalender yang berlaku sekarang ini.

Sebenarnya yang penulis inginkan adalah penyeimbangan argumen yang ada, bukan memperkeruh suasana, (karena sebenarnya Qiblati-lah yang lebih awal memperkeruh suasana, jika bisa dikatakan demikian). Penulis hanya ingin mengembalikan pemahaman fajar shodiq kepada pemahaman Alqur’an dan Sunnah, sebagaimana dipahami oleh mayoritas ulama Islam sejak dulu kala, mulai dari Ahli Tafsir sekaliber Ibnu Jarir At-Thobari, Ulama sekaliber Ibnu Zaid, dan Ibnu Taimiyah, serta ulama ahli bahasa sekaliber Az-Zamakhsyari dan Ibnu Manzhur.

InsyaAlloh… Penulis dan qiblati sepakat ingin memperbaiki ibadah umat, jika memang terdapat kesalahan dalam kalender yang ada. Penulis juga sangat mendukung adanya observasi, untuk mencocokkan antara data di kalender yang ada dengan kenyataan lapangan, untuk kemudian jika ada kesalahan dibuat rumusan ulang untuk memperbaiki data yang ada.

Karena penulis yakin, Qiblati juga sepakat harus ada kalender rumusan baru dalam jadwal sholat kita, untuk dijadikan sebagai patokan umum, bukan terus mengarahkan setiap individu masyarakat untuk ru’yah fajar shodiq tiap hari. Karena di zaman sekarang ini, ru’yah tiap hari malah menjadi sangat memberatkan Umat Islam, berbeda dengan zaman dulu yang jauh dari gedung-gedung yang menjulang, dan polusi cahaya yang sangat mengganggu pandangan dalam meru’yah fajar shodiq. Belum lagi di beberapa daerah kadang terjadi mendung dalam waktu yang relatif lama, dan dalam keadaan demikian tidak memungkinkan dilakukan ru’yah untuk waktu sholat yang minimal sehari harus lima kali. Oleh karena itu, -menurut penulis- kalender untuk penentuan sholat, di zaman ini merupakan hal yang sangat dibutuhkan sekali, sebagaimana telah diterapkan oleh seluruh Negara Islam.

Tapi penulis berharap, sebelum langkah-langkah yang telah ditempuh terlalu jauh ditindak lanjuti, hendaklah di teliti ulang apakah dua ciri tambahan untuk fajar shodiq yang selama ini digulirkan sesuai dengan dalil-dalil syar’i? (yakni ciri bahwa sinar fajar shodiq harus memenuhi jalanan dan perumahan, dan adanya campuran warna merah, khususnya ketika langit bersih dan cuaca cerah). Karena mayoritas ulama tidak menjadikan dua hal itu sebagai syarat untuk fajar shodiq, maka harusnya kita juga demikian.

Perlu kita camkan di sini, bahwa sebagaimana kita harus hati-hati dalam hal sholat, agar kita tidak sholat sebelum waktunya, kita juga harus hati-hati dalam hal puasa, agar puasa kita dimulai dari awal waktunya. Jadi, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama cepatnya hingga sholat subuh kita jadi tidak sah, begitu pula sebaliknya, jangan sampai waktu subuh kita terlalu lama lambatnya, hingga puasa kita jadi tidak sah… Syeikh Athiyah Salim mengatakan:

(lebih…)