Mengkritisi.. DZIKIR JAMA’I.. (1, utk dewasa)

Posted: 5 Desember 2009 in Doa+Dzikir
Tag:, , , , ,

Bismillah walhamdulillah… sholawat dan salam untuk hamba dan Rosul-Nya, para keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang baik, hingga hari kiamat nanti…

Seringkali kita menghadapi sanggahan ketika mengingatkan atau melarang orang lain mengikuti seremoni bid’ah, khususnya dzikir jamai. Kita sering dilontari syubhat yang sederhana tapi kadang masuk dan menancap di hati kita, hingga selanjutnya kita luluh dan toleran dengan apa yang mereka praktekkan dan dakwahkan.

Karena latar belakang ini dan permintaan dari salah seorang ikhwan, akhirnya penulis berusaha memberi sedikit pelita penerang dalam masalah ini. Semoga tulisan yang sederhana ini dapat membantu para pejuang sunnah dalam mempertahankan benteng sunnahnya dari  serangan bid’ah dan para pembelanya, amin.

Definisi Dzikir Jama’i

Sebelum masuk dalam pembahasan inti, kita harus tahu dulu apa yang di maksud dengan dzikir jama’i?

Syeikh Dr. Muhammad bin Abdurrohman alu khomis mengatakan:

الذكر الجماعي هو: ما يفعله بعض الناس من الاجتماع أدبار الصلوات المكتوبة, أو في غيرها من الأوقات والأحوال, ليرددوا بصوت جماعي أذكارا وأدعية وأورادا وراء شخص معين, أو دون قائد, لكنهم يأتون بهذه الأذكار في صيغة جماعية بصوت واحد

“Dzikir jama’i adalah kegiatan yang dilakukan oleh sebagian orang, (seperti berkumpul setelah sholat lima waktu, atau di waktu dan keadaan lainnya), untuk mengulang-ulang dzikir, doa, atau wirid, dengan suara bersama, dan dipimpin oleh satu orang, atau tanpa ada yang memimpin, tapi mereka membaca dzikir-dzikir itu dengan cara bersama-sama dengan satu suara”. (Dzikir jama’i bainal ittiba’ wal ibtida’, hal: 11).

Syeikh Abdulloh Alfaqih dalam fatwanya mengatakan:

الذكر الجماعي: ما ينطق به الذاكرون المجتمعون بصوت واحد يوافق بعضهم بعضاً

“Dzikir jama’i adalah bacaan yang diucapkan oleh sekelompok orang yang berkumpul dan berdzikir dengan satu suara, dan (suara itu) serasi antara satu dengan yang lainnya”. (fatawa syabakah islamiyah, no fatwa: 7673)

Dari dua definisi ini kita dapat menarik ciri-ciri utama dzikir jamai:

  1. Dilakukan dengan kumpul bersama.
  2. Pembacaan dzikir, doa, atau wirid, dilakukan dengan satu suara.
  3. Biasanya dilakukan dengan dipimpin oleh satu orang, kemudian yang lain mengikutinya.

Diantara contoh dzikir jama’i:

  1. Membaca dzikir dan wirid setelah sholat dengan suara tinggi secara bersama-sama.
  2. Dzikir yang dilakukan ketika ziarah kubur, dengan cara dipimpin oleh satu orang.
  3. Dzikir yang dilakukan oleh sekelompok orang yang thowaf, dengan suara tinggi, secara bersama-sama, dan dikomando oleh pemandunya.
  4. Membaca Surat Al-Fatihah secara bersama-sama, dengan dipandu oleh satu orang, yang biasa dilakukan ketika akan mengirimkan pahalanya kepada ahli kubur.
  5. Apa yang diistilahkan dengan yasinan, tahlilan, istighotsahan dan seremoni bid’ah lainnya, yang mereka lakukan secara bersama-sama, dengan suara tinggi, dan satu suara.

Masih banyak lagi contoh dzikir jama’i ini, tapi insyaAlloh contoh yang kami sebutkan di atas, paling tidak bisa mewakili yang lainnya. Selanjutnya mari kita lihat syubhat mereka beserta jawabannya.

Dalil pertama:

Adanya nash-nash syar’i memuji para ahli dzikir, dengan menggunakan dlomir jama’, dan itu menunjukkan anjuran berkumpul dan dzikir bersama mengingat Alloh, lihatlah sebagai misal:

  1. Alloh berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kalian saat pagi dan petang” (Al-Ahzab:41-42)
  2. Alloh berfirman: “Orang yang berakal adalah mereka yang berdzikir (mengingat Alloh) ketika berdiri, duduk, dan berbaring. Dan mereka yang mengamati langit dan bumi (lalu mengatakan): Wahai tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini (semua) dengan sia-sia”. (Alu Imron:190-191)
  3. Alloh juga berfirman: “Berdzikirlah kalian dengan dzikir yang banyak, semoga kalian beruntung” (Al-Anfal:45)

Jawaban: Syubhat ini sangat mudah dijawab, diantara jawabannya:

1. Kita sepakat bahwa dzikir merupakan amalan yang dianjurkan Islam, tapi dengan dalih apa kita melakukannya dengan cara berjama’ah. Kita harus tahu, bahwa sebagaimana pokok ibadah itu harus didasari dengan dalil, begitu pula cara pelaksanaannya, harus didasari dalil. Nash-nash yang disebutkan di atas hanyalah menunjukkan anjuran untuk berdzikir, tidak ada petunjuk cara melakukannya dengan berjama’ah.

2. Dlomir jama’ bukan berarti perintah untuk melaksanakannya secara berjama’ah. Dlomir jama’ hanya menunjukkan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada banyak orang, bukan berarti harus atau dianjurkan untuk berjama’ah dalam melaksanakannya.

3. Jika dlomir jama’ dalam nash-nash itu menunjukkan adanya anjuran untuk berjama’ah dalam berdzikir, maka bagaimana kita mengartikan firman Alloh ini: “Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka hendaklah kalian datangi ladang kalian itu dari mana saja kalian kehendaki!” (Albaqoroh: 223). Apakah kita dianjurkan oleh ayat ini untuk berhubungan suami istri secara berjama’ah?!

Bagaimana pula kita memahami ayat ke-6 dari surat Alma’idah ini: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian (hendak) mendirikan sholat, maka hendaklah kalian membasuh wajah-wajah kalian, dan tangan-tangan kalian hingga sikunya… (sampai akhir ayat wudlu)”… Apakah kita akan mengatakan dianjurkannya wudlu secara berjama’ah?!

Bagaimana pula kita memahami ayat ini: “Dan jika kalian junub, maka hendaklah kalian bersuci” (Alma’idah: 6), apakah kita akan mengatakan dianjurkannya mandi junub secara bersama-sama?!

Bahkan bagaimana kita memahami ayat kedua di atas?! Apakah kita mengatakan dianjurkan untuk dzikir bersama dengan posisi berdiri, juga dzikir bersama dengan posisi tidur?! Adakah tuntunannya dzikir bersama seperti itu dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan para salafus sholeh?!

Uraian di atas menunjukkan bahwa dlomir jama’ hanya menunjukkan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada orang banyak, bukan menunjukkan anjuran untuk melakukannya secara berjama’ah, wallohu a’lam.

4. Jika istidlal (cara berdalil) mereka memang benar (dan ini mustahil adanya), tapi bukankah kita memiliki suri tauladan dalam menjalani Syariat Islam ini?! Bukankah kita semua sepakat bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- tauladan terbaik umat ini?! Bahkan Alloh berfirman: “Sungguh pada Rosululloh ada suri tauladan yang baik bagi kalian” (Al-Ahzab: 21). Pertanyaannya: Pernahkah beliau mencontohkan kepada kita pelaksanaan dzikir jama’i ini?! Pernahkan beliau melakukan tahlilan, yasinan, nariyahan, istighotsahan dll sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang pada zaman ini?! Bukankah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menuntunkan kepada kita untuk tidak melakukannya?! Mengapa kita tidak meniru beliau untuk tidak melakukannya?! Apakah kita lebih tahu tentang kebaikan melebihi beliau?! Wahai saudaraku seiman, jawablah dari lubuk hatimu yang paling dalam…

5. Wahai para pecinta Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali -rodhiyallohu anhum-… Wahai para pecinta Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal -rohimahumulloh-… Pernahkah mereka memberi contoh kepada kalian, amalan dzikir jama’i ini?! Kepada siapa kalian berkiblat dalam mengamalkan ajaran Islam ini?! Apakah kalian lebih giat dalam kebaikan melebihi mereka?! Bukankah salah seorang diantara mereka telah mengatakan bahwa: “Setiap bid’ah itu sesat, meski orang-orang menganggapnya baik”?! Sungguh tidak adanya contoh dari para generasi salafus sholih dalam masalah dzikir jama’i ini, merupakan bukti bahwa amalan tersebut bukanlah dari Islam, apalagi sampai dianjurkan oleh Islam, wallohu a’lam…

Dalil kedua: Hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan majlis dzikir, diantaranya:

  1. Sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Sesungguhnya Alloh memiliki malaikat sayyaroh yang mulia, mereka bertugas mencari majlis-majlis dzikir. Maka jika mereka menemukan majlis yang ada dzikirnya, mereka langsung duduk bersama mereka, saling menyelimuti satu dan yang lainnya dengan sayap mereka, hingga menutupi antara para ahli dzikir itu dengan langit dunia. Lalu jika mereka berpisah, maka para malaikat itu naik ke langit, kemudian Alloh azza wajall menanyai mereka -meski Dia lebih tahu dari mereka-: “Dari mana kalian datang?”. Mereka menjawab: “Kami datang dari hamba-hamba-Mu di bumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan berdoa pada-Mu…” di akhir hadits Alloh berfirman: “… Aku telah mengampuni mereka, memberi apa yang mereka minta, dan melindungi dari apa yang mereka meminta perlindungan darinya”. (HR. Bukhori: 6408 dan Muslim: 2689)
  2. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda, Alloh taala berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku pada-Ku. Dan Aku akan bersamanya bila ia menyebut-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Dan jika ia menyebut-Ku di depan khalayak, aku juga akan menyebutnya di depan khalayak yang lebih baik dari mereka”. (HR. Bukhori:6856 dan Muslim:4832)
  3. Dari Mu’awiyah, bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- suatu hari keluar menghampiri para sahabatnya yang sedang berkumpul, beliau mengatakan: “Apa yang menjadikan kalian (berkumpul) duduk (di sini)”. Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berdzikir dan memuji Alloh atas nikmat hidayah Islam yang diberikan kepada kami. Beliau bertanya lagi: “Demi Alloh, kalian berkumpul hanya karena itu?”. Mereka menjawab: “(Benar), demi Alloh kami berkumpul hanya karena itu”. Beliau lalu mengatakan: “Sungguh aku tidak meminta sumpah kalian karena mencurigai (niat) kalian, tapi karena Jibril mendatangiku dan mengabarkan bahwa Alloh azza wajall membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat”. (HR. Muslim:4869).
  4. Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seandainya aku duduk bersama kaum yang berdzikir (mengingat) Alloh mulai sholat Subuh hingga terbit matahari, itu lebih aku senangi dari pada memerdekakan empat budak dari keturunan Ismail. Dan seandainya aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Alloh, mulai dari sholat Ashar hingga terbenam matahari, itu lebih aku senangi dari pada memerdekakan empat budak” (HR. Abu Dawud: 3182, dihasankan oleh Albani)

Jawaban:

1. Dalil-dalil di atas tidak menunjukkan disyariatkannya dzikir jama’i, itu hanya menunjukkan anjuran berdzikir dan mengingat Alloh dengan cara yang dituntunkan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

2. Penyebutan Majlis dzikir dalam nash di atas, bukan berarti menunjukkan bolehnya dzikir jama’i, karena harus dipahami bahwa ada perbedaan antara Majlis Dzikir dengan Dzikir Jam’i

Hubungan antara keduanya adalah umum dan khusus mutlak, maksudnya: istilah majlis dzikir lebih luas cakupannya dari pada istilah dzikir jama’i dari segala sisi… Yakni, setiap dzikir jama’i pasti ada majlis dzikirnya… tapi tidak setiap majlis dzikir itu ada dzikir jama’inya… Dengan kata lain, adanya majlis dzikir, tidak otomatis menunjukkan adanya dzikir jamai, karena dua hal tersebut bukanlah dua hal yang saling melazimkan, wallohu a’lam.

Intinya dalil di atas hanya menunjukkan anjuran untuk mengadakan majlis dzikir, bukan menunjukkan anjuran untuk mengadakan dzikir jama’i… Maksudnya: Kita dianjurkan untuk mengadakan majlis dzikir, asal tidak ada dzikir jama’inya…

3. Istilah Majlis dzikir tidak khusus untuk majlis yang membaca dzikir, atau doa, atau wirid, akan tetapi bisa juga bermakna majlis ilmu.

Lihatlah jawaban Atho’ -rohimahulloh- ketika ditanya apakah majlis dzikir itu?, ia menjawab: (Yang dimaksud dengan majlis dzikir adalah) Majlis yang membahas tentang halal dan harom, bagaimana kamu sholat, bagaimana kamu puasa, bagaimana kamu nikah, bagaimana kamu mentalak, dan bagaimana mengadakan jual-beli…” (Al-Hilyah 3/313).

Lihat pula bagaimana Alloh menamai khotbah jum’at sebagai dzikir, yakni dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari jum’at, maka segeralah kamu pergi menuju dzikrulloh dan tinggalkanlah jual beli”. (Al-Jum’ah:9). Maksud dari dzikrulloh di sini adalah khutbah jum’at. (Lihat Tafsir Thobari 22/642). Jelas ini menunjukkan bahwa majlis ilmu juga disebut majlis dzikir.

Bahkan dalam ayat lain Alloh menyebut ahli ilmu dengan sebutan ahli dzikir, yakni dalam firman-Nya: “Bertanyalah kepada ahli dzikir, jika kamu tidak mengetahui” (Al-Anbiya’:7), maksud dari ahli dzikir di ayat ini adalah ahli ilmu, yakni para ulama’. (Lihat Tafsir Sa’di, hal: 519). Walhasil, sebagaimana ahli ilmu bisa di sebut ahli dzikir, majlis ilmu juga bisa disebut majlis dzikir, wallohu a’lam…

4. Dalil tersebut tidak menunjukkan dianjurkannya dzikir jama’i, tapi hanya menunjukkan anjuran berkumpul untuk berdzikir.

Kita harus bedakan antara dzikir bersama dengan bersama untuk dzikir. Dzikir bersama itu bid’ah, sedang bersama untuk berdzikir itu dianjurkan bila dilakukan sesuai syariat, sebagaimana dipahami oleh para sahabat…

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Dahulu para sahabat Rosululloh jika kumpul bersama, mereka menyuruh salah seorang dari mereka membaca, kemudian yang lain mendengarkan. Umar dulu mengatakan kepada Abu Musa Al-Asy’ari: “Ingatkanlah kami pada Tuhan kami!”, lalu dia (yakni Abu Musa al-Asy’ari) membaca, sedang yang lain mendengarkan bacaannya”. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 11/523).

5. Imam At-Thorthusyi mengatakan: “Nash-nash (tentang keutamaan majlis dzikir dan berkumpul untuknya) ini, menunjukkan bolehnya berkumpul untuk membaca Alquran, seperti mempelajarinya, mengajarkannya, dan mengulang-ngulangnya. Seperti misalnya seorang murid membaca kepada gurunya, atau seorang guru membaca untuk muridnya, atau saling bergantian membaca untuk mudzakaroh dan mudarosah. Beginilah belajar dan mengajar, bukannya dengan membaca bersama-sama.

Intinya keterangan-keterangan ini adalah umum dalam menerangkan bolehnya sekelompok orang membaca bersama dengan cara bergilir, atau mereka membaca kepada guru Alqur’an… Sebagaimana diketahui, dalam bahasa arab, bila orang arab melihat sekelompok orang yang berkumpul untuk membaca Alquran kepada gurunya, dan ada satu orang saja yang membaca (kepada gurunya), maka bisa dikatakan: “Mereka itu jamaah yang sedang belajar ilmu… mereka itu jamaah sedang membaca ilmu dan hadits” meski pembacanya hanya satu orang. (al-Hawadits wal Bida’, hal. 166)

Dalil ketiga: Adanya beberapa atsar dari sebagian salaf, diantaranya:

  1. Dahulu Umar mengumandangkan takbir di kubahnya di mina. Mendengar takbir yang kumandangkannya, para jamaah di masjid pun ikut bertakbir, begitu pula mereka yang di pasar (luar), hingga bergemuruhlah mina dengan suara takbir. (Shohih Bukhori, Bab: At-Takbir Ayyama Mina)
  2. Dahulu para jamaah perempuan, mengumandangkan takbirnya dibelakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz, yakni ketika malam-malam tasyriq bersama para jamaah laki-laki di masjid. (Shohih Bukhori, Bab: At-Takbir Ayyama Mina)

Jawaban:

1. Atsar Umar ini tidak tegas menunjukkan bolehnya dzikir jama’i seperti yang dilakukan orang-orang di era ini. Atsar itu hanya menunjukkan bahwa orang-orang pada waktu itu meniru apa yang dilakukan Umar, maka mereka pun bertakbir sebagaimana umar bertakbir, yakni dengan suara yang tinggi. Dan karena terlalu banyaknya orang yang bertakbir saat itu, hingga bergemuruhlah mina dengan suara takbir.

Lajnah Da’imah mengatakan (fatwa no:20189): “Apa yang dilakukan Umar r.a. bukanlah dalil bolehnya takbir jama’i, itu hanya menunjukkan bahwa Umar r.a. bertakbir sendiri, lalu ketika orang-orang mendengar takbirnya, maka mereka pun ikut bertakbir, masing-masing dari mereka bertakbir sendiri-sendiri, atsar itu tidak menunjukkan bahwa mereka itu bertakbir dengan takbir jama’i. wabillahittaufiq.”

2. Umar tidak pernah melakukan takbir -seperti yang dilakukannya di mina saat haji- pada waktu lainnya. Seandainya takbir seperti itu boleh dilakukan kapan saja, tentunya akan beliau lakukan, atau dilakukan oleh sahabat lainnya, karena tidak ada satu generasi pun dari umat ini, yang lebih semangat dalam mengerjakan kebaikan melebihi para sahabat Nabi -rodhiallohu anhum-. Tapi nyatanya tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan hal seperti itu di waktu lainnya.

3. Atsar Kedua hanya menunjukkan bahwa para jamaah wanita pada waktu itu juga mengumandangkan takbir di masjid, sebagaimana dilakukan oleh para jamaah laki-laki. Itupun hanya dilakukan pada malam-malam tasyriq, yakni pada momen hari raya, bukan berarti boleh dilakukan kapan saja.

4. Pemakaian atsar di atas, sebagai dalil bolehnya dzikir jama’i adalah tidak pada tempatnya, karena atsar tersebut berkenaan dengan takbir jama’i, bukan dzikir jama’i. Jadi sebenarnya, atsar di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan dzikir jama’i yang banyak dipraktekkan oleh orang-orang di zaman ini. Sahabat Umar dan para ulama salaf yang sholeh, tidak pernah melakukan tahlilan bersama, atau yasinan bersama, atau istighotsahan, atau dzikir jama’i yang lainnya, padahal tentunya mereka lebih mampu melakukannya melebihi kita. Seandainya dzikir jama’i itu dianjurkan oleh Islam, tentunya merekalah orang yang pertama mengamalkannya. Sungguh tiada generasi yang lebih alim dan lebih giat dalam ketaatan melebihi para salafus sholih itu.

5. Ada banyak perbedaan antara syariat takbiran dengan dzikir, diantaranya:

  • Takbiran untuk hari ied sunnahnya dikeraskan, sedang dzikir secara umum sunnahnya dilirihkan.
  • Takbiran untuk hari ied disunnahkan pada hari-hari tertentu, sedang dzikir secara umum disunnahkan kapan saja, dan tidak ada batasan waktu.
  • Takbiran untuk hari ied, adalah salah satu syiar islam yang dianjurkan untuk ditampakkan seperti adzan, berbeda dengan dzikir secara umum dianjurkan untuk dilakukan secara lirih.

Dari perbedaan-perbedaan ini, kita tahu bahwa keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan tidak mungkin bisa dikiaskan. Jika ada yang mengatakan bahwa atsar di atas menunjukkan bolehnya takbiran jama’i ketika hari ied, itu bukan berarti atsar tersebut bisa dipakai untuk melegalkan dzikir jama’i, karena banyaknya perbedaan antara keduanya. Wallohu a’lam.  (bersambung…)

About these ads
Komentar
  1. abu ahmad mengatakan:

    barakallohu fi kum

    tulisan yang bermanfaat, smoga orang2 pembela dzikir jama’ai bisa lebih terbuka wawasannya…

    jazakumulloh khairan katsiroo ustadz

  2. Tommi mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Akhirnya artikel yg saya tunggu2 dari ustadz Syaffa keluar juga, lama ga nongol rupanya menyiapkan artikel ini ya hehe…

    Ada yg ingin saya tanyakan. Saya pernah menanyakan tentang dzikir jama’i ini ke ustadz yg biasa jadi imam di masjid dekat rmh yg mana setelah sholat berjamaah biasanya beliau melantunkan dzikir dan do’a secara berjamaah. Saya membawakan dalil dari QS Al A’raaf ay 205 yg mana Allah menyuruh kita untuk berdzikir dengan merendahkan suara dan rasa takut, tetapi beliau menyanggah dalil dari saya dengan alasan bahwa ayat itu hanya khusus untuk org2 yg sholat sendiri, dan beliau menunjukkan hadits qudsi ini : (maaf kalau kepanjangan)

    Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mondar mandir di jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka mendapat kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka memanggil-manggil : “Marilah kepada keperluanmu”.
    Beliau bersabda : “Malaikat itu mengitari dengan sayap mereka ke langit dunia. Beliau bersabda : Tuhan mereka berfirman pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka : “Apakah yang diucapkan oleh para hambaKu?”. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Mereka sedang me Maha Sucikan Mu, me Maha Besarkan Mu, memujiMu dan me Maha Muliakan Mu”. Tuhan berfirman : “Apakah mereka melihat Ku?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu”. Beliau bersabda : “Tuhan berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab: “Seandainya mereka melihatMu, niscaya mereka lebih beribadah kepadaMu, lebih memuliakan, lebih memuji dan lebih mensucikanMu”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : “Apakah yang mereka pinta kepadaKu?”. Beliau bersabda : “Mereka meminta surga kepada Mu”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Apakah mereka melihatnya?” Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatnya”. Tuhan berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih loba terhadapnya, lebih meminta dan lebih gemar terhadapnya”. Tuhan berfirman : “Terhadap apa mereka berlindung ?”. Beliau bersabda : Malaikat menjawab : “Dari neraka”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman: “Apakah mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda : “Mereka menjawab : “Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya”. Beliau bersabda : Tuhan berfirman : “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?”. Beliau bersabda” : Mereka menjawab : “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih sangat lari dan sangat takut”. Beliau bersabda : “Tuhan berfirman : “Aku persaksikan kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka”. Beliau bersabda : “Salah satu malaikat berkata: “Diantara mereka ada Fulan yang bukan dari golongan mereka. Kedatanganya hanya karena ada keperluan”. Tuhan berfirman : “Mereka teman-teman duduk, dimana orang yang duduk bersama mereka tidak celaka”. (HR. Bukhari & Tirmidzi)

    Menurut pak ustadz tersebut, hadits inilah dalil dari disyari’atkannya dzikir berjamaah dan lebih diutamakan daripada dzikir sendirian dengan suara pelan, beliau mengqiyaskan dzikir dengan sholat seperti halnya keutamaan sholat berjamaah dibanding sholat sendirian. Karena saya bukan ahli debat dan saya menghormati beliau sebagai ustadz yg senior di daerah saya, saya hanya mengangguk saja tetapi dalam hati saya mempertanyakan pendapat beliau, bolehkah dzikir diqiyaskan dengan sholat? Dari yg pernah saya dengar, qiyas tidak berlaku untuk permasalahan yg telah qoth’i dalilnya dari Quran dan hadits.

    Yg saya ingin tanyakan ke ustadz Syaffa : Bagaimana dengan status hadits qudsi diatas? Apakah shahih dan benarkah dapat dijadikan dalil untuk dzikir berjamaah, dan apakah boleh mengqiyaskan dzikir dengan sholat?? Terima kasih atas kesediaan ustadz untuk menjawabnya.

    Wassalamu’alaikum.

    • addariny mengatakan:

      Waalaikum salam warohmatulloh…
      Afwan memang ana lama ga update karena banyak kesibukan, apalagi sekarang lagi banyak tamu dari indo yang sedang haji, jadi agak tersibukkan dengan mereka…

      Memang dzikir secara umum disunnahkan untuk dilirihkan, Alloh berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lirih” (Al-A’rof: 55), begitu pula firman-Nya: “Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati, rasa takut, dan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang” (Al-A’rof: 205)
      Kecuali ada dalil yang menganjurkan kita untuk mengeraskannya, seperti: Takbiran pada momen hari raya dan hari tasyrik, talbiyah ketika haji, adzan, dll… Jadi hukum asal dzikir itu dilirihkan, hanya ada sebagian yang dianjurkan untuk dikeraskan… Intinya, jika tidak ada dalil khusus yang menganjurkan untuk mengeraskan suara dalam dzikir, maka kita harusnya melirihkan suara, inilah kaidah pokoknya…

      Hadits itu shohih, ada dalam shohih bukhori, no hadits: 5929, ni teks aslinya:

      إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر فإذا وجدوا قوما يذكرون الله تنادوا هلموا إلى حاجتكم قال فيحفونهم بأجنحتهم إلى السماء الدنيا قال فيسألهم ربهم وهو أعلم منهم ما يقول عبادي قالوا يقولون يسبحونك ويكبرونك ويحمدونك ويمجدونك قال فيقول هل رأوني قال فيقولون لا والله ما رأوك قال فيقول وكيف لو رأوني قال يقولون لو رأوك كانوا أشد لك عبادة وأشد لك تمجيدا وتحميدا وأكثر لك تسبيحا قال يقول فما يسألوني قال يسألونك الجنة قال يقول وهل رأوها قال يقولون لا والله يا رب ما رأوها قال يقول فكيف لو أنهم رأوها قال يقولون لو أنهم رأوها كانوا أشد عليها حرصا وأشد لها طلبا وأعظم فيها رغبة قال فمم يتعوذون قال يقولون من النار قال يقول وهل رأوها قال يقولون لا والله يا رب ما رأوها قال يقول فكيف لو رأوها قال يقولون لو رأوها كانوا أشد منها فرارا وأشد لها مخافة قال فيقول فأشهدكم أني قد غفرت لهم قال يقول ملك من الملائكة فيهم فلان ليس منهم إنما جاء لحاجة قال هم الجلساء لا يشقى بهم جليسهم

      Terjemahannya kurang lebih seperti yang antum tulis…
      Sebenarnya jawabannya sudah ada semua dalam artikel di atas, inti jawabannya:
      Dlomir jamak (plural) dalam bahasa arab, tdk menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan dengan cara berjama’ah (bersama-sama), tapi hanya menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan orang banyak…
      Jadi kata2 dalam hadits itu: “Mereka sedang bertasbih, bertakbir, bertahmid dan mengagungkan-Mu”, itu bukan berarti hal itu dilakukan secara bersama-sama…
      Ana misalkan biar lebih jelas, jika ketua pesantren mengatakan: “santri-santriku, sekarang mereka sedang mandi…” apa antum memahami mereka mandi bersama? tentunya tidak…
      Ketika kepala desa mengatakan: “Wargaku, sekarang mereka sedang ramai-ramai belanja di pasar” apa antum memahami mereka belanja bersama-sama dengan cara: menawar bersama-sama, beli bersama-sama, lalu bayar sama-sama? ataukah antum memahaminya mereka melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri? tentunya yang kita pahami adalah mereka melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri…
      Ketika ana mengatakan: “Jama’ah masjid, mereka sekarang sedang membaca alqur’an… (tanpa kata bersama-sama)” Apa antum memahami mereka membacanya sama-sama? atau antum pahami mereka baca sendiri-sendiri? Lalu ketika mereka membaca sendiri2 bukankah masjid itu bisa dikatakan sebagai majlis dzikir, karena banyak orang yang berkumpul untuk dzikir?!…
      Jika antum dengar berita: “Para Jama’ah haji, mereka hari ini sedang berdoa, berdzikir, dan memperbanyak istighfar dan taubat di tanah arofah”. Apa antum memahami bahwa mereka doa bersama, dzikir bersama, istighfar bersama, taubat bersama, dengan dikomando satu orang / tanpa komando tapi dengan satu suara?! tentunya tidak…
      Intinya kembali pada kaidah: Bahwa “dlomir jama’ (plural) hanya menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan orang banyak, bukan berarti harus sama-sama”… wallohu a’lam…

      Jika ada yang mengatakan, bukankah ada kemungkinan mereka melakukannya dengan cara berjamaah?! Kita katakan, memang ada kemungkinan itu, tapi kemungkinan itu bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat dari Alqur’an dan Sunnah serta praktek yang dilakukan para salafus sholeh ketika berdzikir…

      Akhi Tommi… Semoga Alloh memberi rahmat dan taufiq-Nya kpd kita… Bukankah para ulama salaf lebih tahu dan lebih paham makna hadits itu?! Mengapa mereka tidak memperaktekkan dzikir jama’i sebagaimana orang sekarang sering melakukannya?! Siapa yang patut dipertanyakan? Para salaf yang kurang giat dalam ibadah, atau orang sekarang yang salah memahami hadits itu?! antum insyaAlloh bisa jawab dengan hati nurani…

      Tentang qiyas… memang boleh dipakai dalam berdalil, tapi bukan untuk menciptakan model ibadah baru, seperti dzikir jama’i… Ingat kaidah yang telah disepakati oleh seluruh ulama islam: “Semua ibadah itu pada asalnya dilarang, kecuali ada dalil yang menerangkannya”… begitu pula kaidah: “Semua cara ibadah pada asalnya dilarang, kecuali ada dalil yang menerangkannya”… misalnya: “sholat wajib berjamaah lebih afdhol dari pada sholat wajib sendirian” apa bisa dikatakan: “sholat sunat rowatib berjama’ah lebih afdhol dari pada dilakukan sendirian?!” tentu saja tidak… Apa siwakan bersama lebih afdhol dari siwakan sendiri2?! tentu saja tidak… Apa wudlu bersama lebih afdhol dari wudlu sendirian?! tentu saja tidak… Sebenarnya afdhol tidaknya sebuah ibadah itu ditentukan oleh sesuai tidaknya dengan tuntunan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-… wallohu a’lam…

      Ingatlah jika setiap orang boleh menciptakan ibadah baru, maka lambat laun agama ini menjadi semakin berat, karena terlalu banyaknya ibadah baru yang diciptakan… Jika setiap orang boleh menciptakan cara ibadah yang baru, maka antum bisa bayangkan berapa banyak cara yang bisa diciptakan nantinya, dan itu tentu akan memberatkan umat islam dalam menjalankan agamanya… maka para ulama mengatakan: “Semua kebaikan (dalam praktek beragama) ada dalam mengikuti para salafus sholih, sebaliknya semua keburukan (dalam praktek beragama) ada dalam mengikuti orang yang datang belakangan”… wallohu a’lam…

      afwan jika jawaban terlalu panjang… semoga betah bacanya… Syukron…
      waalaikum salam warohmatulloh…

  3. Tommi mengatakan:

    Jazakumulloh khoir ustadz Syaffa

    Tidak apa2 jawabannya panjang lebar, saya senang bacanya dan puas, malah jawaban yg panjang lebar itu yg saya tunggu2 :)…semoga jawaban yg panjang lebar itu menjadikan panjang lebarnya pula tabungan amalan kebaikan ustadz di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.

  4. MUslimah mengatakan:

    memang Zikir jama’i ini menuai kontroversi dan perbedaan pandangan dalam penatapan hukumnya, secara lugas al-Qur’an sudah menerangkan bahwa kaifiyat zikir ini sesuai dengan surah al-a’raf ayat 205. dan hadis hadis tentang zikir jahar juga tidak banyak, hanya hadis yang berasal dari Ibn Abbas, namun bagaimanapun zikir sir lebih diutamakan karena lebih mendekati kepada hakikat diperintahkannya zikir tersebut. sedangkan zikir bersama ,sekalipun NAbi tidak pernah melakukannya, namun hadis-hadis yang memuji-muji majelis zikir itu tidak dapat juga kita abaikan begitu saja. walaubagaimana pun ziki adalah ibadah mahdhah yang dalam pelaksanaannyaharus mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah. namun bagaiman pula keududukan zikir bersama ini di pandang dalam kacamata syiar Islam????????????

  5. suparto wijaya mengatakan:

    assalamu ‘alaikum wr wb,
    dengan pemaparan yang bgt gamblang smg dpt lebih mencerahkan, smg Allah swt senantiasa berkenenan memberi kekuatan dlm mngmlkan

  6. Ah Mbuh mengatakan:

    Bgs….tp wAllohu a’lam…..Alloh Maha bsar,Maha pengampun, Maha mengetahui, Maha segalanya……Guru pny tanggung jwb sampe akhirat, sy hanya orang yg tdk tau tp ingin menyembah hanya kepada ALLOH bkn kpada patung,kpada berhala,dll tp hny myembah kpd ALLOH dan ALLOH….

  7. ben amri mengatakan:

    alhamdulillah, walau terlambat akhirnya saya dapat yg saya cari…izin cetak…

  8. Abu rifald apinino mengatakan:

    Izin share u/diamalkan..

  9. hadi al-sambai mengatakan:

    Alhamdulillah terjawab sudah syubuhat yang memenuhi kepala saya,,syukron ya Ustadz,,
    jazakumullah khairan katsiran

  10. […] “Dzikir jama’i adalah kegiatan yang dilakukan oleh sebagian orang, (seperti berkumpul setelah sholat lima waktu, atau di waktu dan keadaan lainnya), untuk mengulang-ulang dzikir, doa, atau wirid, dengan suara bersama, dan dipimpin oleh satu orang, atau tanpa ada yang memimpin, tapi mereka membaca dzikir-dzikir itu dengan cara bersama-sama dengan satu suara”. (Dzikir jama’i bainal ittiba’ wal ibtida’, hal: 11). [https://addariny.wordpress.com/2009/12/05/mengkritisi-dzikir-jamai-1-utk-dewasa/] […]

  11. […] Dari perbedaan-perbedaan ini, kita tahu bahwa keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan tidak mungkin bisa dikiaskan. Jika ada yang mengatakan bahwa atsar di atas menunjukkan bolehnya takbiran jama’i ketika hari ied, itu bukan berarti atsar tersebut bisa dipakai untuk melegalkan dzikir jama’i, karena banyaknya perbedaan antara keduanya.Wallohu a’lam. (https://addariny.wordpress.com/2009/12/05/mengkritisi-dzikir-jamai-1-utk-dewasa/) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s