Posts Tagged ‘shahih muslim’

shohih muslimBab: Tidak ada Adzan Dan Iqomah dalam Sholat Hari Raya (idul fitri & idul adha)

(427) Jabir bin Samuroh mengatakan: Aku pernah sholat dua hari raya bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak hanya sekali ataupun dua kali-, (beliau melakukannya) dengan tanpa adzan dan iqomah.

Bab: Sholat Hari Raya (idul fitri dan idul adha) adalah Sebelum Khutbah

(428) Ibnu Abbas mengatakan: aku pernah menghadiri sholat hari raya idul fitri bersama Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mereka semuanya melakukan sholat idul fitrinya sebelum khutbah, kemudian (setelah itu) berkhutbah. (lebih…)

shohih muslimKITAB: FARO’IDH (warisan)

Bab: Orang Muslim tidak dapat mewarisi Orang kafir, begitu pula sebaliknya

(994) Dari Usamah bin Zaid: Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Orang muslim tidak dapat mewarisi orang kafir, (begitu pula sebaliknya), orang kafir tidak dapat mewarisi orang muslim”.

Bab: Berikanlah hak warisan kepada pemiliknya!

(995) Dari Ibnu Abbas, Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Berikanlah warisan kepada mereka yang berhak menerimanya, (sesuai jatah masing-masing)! Adapun sisanya, maka bagi (ashabah) laki-laki yang paling dekat nasabnya.”

Bab:  Warisan Kalalah[1]

(996) Jabir bin Abdulloh mengatakan: Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- pernah menjengukku, ketika aku sedang sakit, tidak sadarkan diri. Beliau kemudian berwudhu’, lalu para sahabat memercikkan air sisa wudhu beliau kepadaku, sehingga aku siuman. Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, (apa yang harus kulakukan, sedang) yang akan mewarisiku hanyalah kalalah!” Maka, turunlah ayat mengenai warisan. (lebih…)

shohih muslimBab: Imbauan berwasiat, bagi mereka yg memiliki sesuatu untuk diwasiatkan

(981) Dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa ia mendengar Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seorang muslim, yang punya sesuatu untuk diwasiatkan, tidak diperkenankan baginya waktu tiga hari berlalu, kecuali ia telah menuliskan wasiatnya”. Ibnu Umar mengatakan: “Sejak ku dengar sabda itu dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tidak pernah ku lalui satu malam pun, melainkan aku telah menulis wasiatku”.

Bab: Wasiat Tidak Boleh Melebihi Sepertiga Harta

(982) Sa’d bin Abi Waqqosh mengatakan: Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- pernah menjengukku saat haji wada’, karena sakitku yang hampir menjemput ajalku. Dalam keadaan seperti itu aku menanyakan: “Wahai Rosululloh, engkau lihat sendiri sakitku yang sudah parah ini, padahal aku tidak memiliki ahli waris kecuali putriku semata wayang, bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga hartaku?” beliau menjawab: “Jangan!”, aku bertanya lagi: “Bagaimana jika setengahnya?” beliau menjawab: “Jangan! Kalau sepertiganya boleh, dan sepertiga itu sudah jumlah yang banyak. Sungguh, jika kau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan mapan, itu lebih baik, dari pada kau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu meminta-minta kepada orang lain. Tidaklah nafkah yang kau keluarkan dengan ikhlas mengharap wajah Alloh, melainkan kau mendapatkan pahala darinya, termasuk sesuap makanan yang kau masukkan ke mulut istrimu. (lebih…)

shohih muslimKITAB:  MUZARO’AH[1]

Bab: Larangan menyewakan tanah

(972) Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang memiliki lahan (sawah), maka tanamilah sendiri! atau (jika tidak), hendaklah ditanami oleh saudaranya, dan janganlah ia menyewakannya!”

Bab: Menyewakan tanah, dengan makanan (sebagai bayarannya)

(973) Rofi bin Khodij mengatakan: Di zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- Kami biasa menyerahkan penggarapan lahan (sawah) kepada orang lain, dan kami menyewakannya dengan pembayaran sepertiga atau seperempat dari hasil panen atau dengan makanan yang jelas takarannya. Kemudian pada suatu hari, salah seorang dari pamanku mendatangiku seraya mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-  telah melarang kami, untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ada manfaatnya bagi kami, akan tetapi taat kepada Alloh dan Rosul-Nya tetap lebih besar manfaatnya bagi kami, beliau melarang kami untuk menyerahkan penggarapan tanah (sawah) kepada orang lain, lalu kami pungut upah sewanya, dari sepertiga atau seperempat hasil panen atau dari makanan yang jelas takarannya. Beliau menyuruh tuan tanah untuk menanaminya sendiri, atau agar ditanami oleh saudaranya. Beliau melarang akad sewa lahan (sawah) atau akad sejenisnya. (lebih…)

shohih muslim

Bab: Jual-beli Makanan dengan Makanan, Keduanya Harus Sama (kadarnya)

(908) Dari Ma’mar bin Abdulloh, bahwa ia pernah mengutus budaknya membawa satu sho’ (± 3kg) Qomh (gandum/wheal), ia mengatakan: “Juallah ini, kemudian belilah sya’ir (jewawut/malt) dengan (hasil)nya!” Maka pergilah budak tersebut, kemudian ia mengambil (sebagai gantinya) satu sho’ lebih sedikit. Ketika kembali ke Ma’mar, ia memberitahukan hal itu, maka Ma’mar pun mengatakan: Mengapa kau lakukan itu?! Pergi dan kembalikanlah! Jangan ambil kecuali yang sama (kadarnya), karena aku pernah mendengar Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “(Jual beli) makanan dengan makanan, harus sama (kadarnya)!” Ia mengatakan lagi: dan makanan kami ketika itu adalah sya’ir. Dikatakan kepada Ma’mar: “Sesungguhnya gandum itu tidak sama dengan sya’ir?!” Ia menjawab: “Aku khawatir ia serupa dengannya”. (lebih…)

shohih muslimBab: Memberi Nafkah, dimulai dari Diri Sendiri, Keluarga, dan Kerabat

(883) Jabir mengatakan: Pernah ada seseorang dari Bani ’Udroh ingin memerdekakan budaknya setelah ia meninggal, kemudian berita itu sampai kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan beliau menanyakannya: “Apa kamu memiliki harta selain itu?”. Ia menjawab: “Tidak”. (maka beliau menyuruh untuk menjualnya), lalu ia menawarkannya: “Siapa yang mau membeli budak ini?” akhirnya Nu’aim bin Abdulloh al-’Adawy membelinya seharga 800 dirham. lalu ia membawa hasil penjualan itu dan menyerahkannnya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, kemudian beliau mengatakan: “Mulailah dari dirimu, hidupilah dirimu dengannya! Jika ada lebihnya, maka itu untuk keluargamu! Jika masih ada lebihnya lagi, maka itu untuk kerabatmu! Dan jika masih ada sisa lagi, maka seperti ini dan seperti ini! Beliau mengatakan: “(Jika masih sisa lagi), maka (berikanlah) kepada orang yang berada di depanmu, di kananmu dan di kirimu!” (lebih…)

shohih muslimBab: Anjuran Untuk Menikah 

(794) Dari Alqomah, ia berkata: Aku pernah berjalan di Mina bersama Abdulloh (bin Mas’ud), kemudian Utsman menemuinya dan ngobrol bersamanya. Utsman berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdirrohman! Maukah kamu aku nikahkan dengan gadis muda, yang bisa mengingatkan kembali masa mudamu[1]? Maka Abdulloh menjawab: kalaupun kamu mengatakan hal itu, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga pernah mengatakan: “Wahai generasi muda! Barangsiapa diantara kalian mampu menikah, maka bersegeralah! Karena menikah itu dapat lebih menjaga pandangan dan kehormatan. Sedang barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah! karena puasa akan menjadi penekan syahwat baginya”. (lebih…)